//
you're reading...
BUDAYA

TEATER DAN MANAJEMEN

PIKIRAN RAKYAT, DESEMBER 2014

(4 dari 4 tulisan)

ms

Suatu ketika tahun 2010, jurusan Teater dan Keluarga Mahasiswa Teater STSI Bandung pernah menggelar acara “Pertemuan Teater Bandung 2010” diikuti lima kelompok teater di Bandung, yakni Laskar Panggung, Teater Payung Hitam, CCL Bandung, Teater Cassanova, dan Studiklub Teater Bandung.

Ini kali ke sekian kampus STSI menggelar acara serupa, dan untuk ke sekian kalinya STSI sebagai lembaga pendidikan seni, belum menggiring penonton baru seperti yang dikehendaki dari tujuan semula, selain juga minimnya komunikasi dengan media yang selalu “diabaikan” kampus ini, padahal acara ini sungguh sangat menarik. Ke-lima kelompok teater ini bukan nama asing di dunia teater tanah air, mereka merupakan refleksi jati diri teater yang ada.

Sebenarnya Pertemuan Teater Bandung ini bisa jadi sebuah upaya kecil untuk mempertemukan kelompok-kelompok teater Bandung dengan para pengamat serta publik teater sebagai kerja pembacaan anatomi dan keberadaan teater Bandung dalam peta kesenian di Indonesia.  Tapi kemudian acara tak terarah, sunyi kritik dan penonton, memberi kesan hanya sebuah pertemuan prestise dan tidak berfikir ke sejarah yang akan datang, kuratorial yang tidak memahami perbedaan antara ruang publik dan out door.

Padahal sesungguhnya teater selalu harus bersentuhan dengan berbagai disiplin seni dan berbagai bidang ilmu, ia sangat akrab dengan sastra, musik, tari, arsitektur, grafis seni rupa, sosial, politik, ekonomi,  psikologi, filsafat, antropologi, ilmu-ilmu budaya. Namun SDM kampus ini nampaknya masih ragu untuk memulai mengakrabi semua disiplin tadi, ia lebih menikmati onani dan merasa myaman menggelar acara tanpa gelisah yang tasbih.

Manajeman Seni

Berteater adalah kebutuhan akan para pengamat agar memberikan masukan, pandangan maupun tanggapan kritis dalam prosesnya, dan ktirikus tidak hanya dari kalangan teater sendiri  melainkan masyarakat umum, media, hingga ibu rumah tangga dan tukang becak.

Penggunaan nama pertemuan yang semula bernama festival juga menunjukan betapa mirisnya  kampus ini untuk bisa merubah tradisi pasif ke progresif, karena pencapaian ide pertemuan dengan festival tentu saja akan jauh berbeda. Selain itu tersirat ketakutan untuk membuat dan memulai ada festival teater di Bandung, kata “pertemuan” adalah ketakutan yang riil dari para penggiat teater di kampus ini.

seperti dikatakan pengamat Halim HD, pertemuan Teater Bandung tidak memiliki kuratorial yang jelas, tidak mempunyai landasan tema yang pasti dan tidak memiliki visi histroris tentang teater, bahkan dari segi teknis organisasi saja acak-acakan, seakan akan panitia tidak  memiliki sistem kerja yang ajeg, “Bayangkan, hal kecil saja bisa terabaikan, misalnya pameran poster kelompok teater Payung Hitam tidak ada yang menjaga sehingga terpaksa poster itu dicabut kembali,” ujar Halim.

Piranti lain yang diabaikan panitia ialah peran media massa (cetak, radio, televise dan online), panitia nampak seperti kebingungan untuk memblow up acara bagus ini, untuk mempublikasikan acara ini saja tidak memiliki SDM, semua diurus oleh kurator sendiri, termasuk tidak adanya poster-poster yang menghiasi kota.

Manajemen sebuah event besar maupun kecil memang dibutuhkan oleh kampus sebesar STSI yang kini bernama ISBI Bandung, karena  STSI Bandung telah banyak melahirkan seniman namun  hingga kini belum mampu juga  melahirkan manajemen event yang baik. Mungkin STSI Bandung perlu juga menambahkan mata kuliah manajemen seni atau manajemen event seni. (Matdon)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: