//
you're reading...
UMUM

PETANI TAK PUNYA SAWAH

 dimuat TRIBUN JABAR Rabu 18 PEBRUARI 2015

sawah kering

Betapa pentingnya keberadaan petani di tanah air atau di belahan bumi manapun, tapi konflik yang terus menerus menerpa tubuh petani Indonesia begitu besar. Ini akibat ketidakberpihakan politik rezim terhadap kaum tani yang kemudian berimbas kepada menurunnya minat untuk menjadi petani. Coba simak gambaran hasil Sensus Pertanian 2013 yang dilakukan BPS yang menunjukan penurunan secara drastis jumlah rumah tangga petani dari 31,17 juta di tahun 2003 menjadi 26,13 juta pada tahun 2013.

Artinya, dalam kurun waktu 10 tahun rumah tangga petani berkurang sebanyak 5,04 juta. Begitupun halnya yang terjadi di Propinsi Jawa Barat. Dalam kurun waktu 2 tahun (Agustus 2008 – Agustus 2010), terjadi pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian sebanyak 250 ribu orang.

Kemudian saya memperoleh data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) tahun 2012, di Jawa Barat  terjadi 749 konflik agraria. Ini terjadi pada masa pemerintahan SBY. Sementara pada tahun 2001 kasus konflik agraria “hanya” 506 kasus.

Sungguh konflik agraria merupakan masalah yang sudah puluhan tahun tidak terselesaikan. Lahirnya konflik tersebut muncul lantaran pemberian izin/hak/konsesi oleh pejabat publik baik itu Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, Kepala BPN, Gubernur dan Bupati yang memasukkan tanah/wilayah kelola/SDA kepunyaan sekelompok rakyat ke dalam konsesi badan-badan usaha raksasa dalam bidang produksi, ekstraksi, maupun konservasi.

Kemudian juga muncul berbagai tindakan kekerasan, manipulasi, dan penipuan dalam pengadaan tanah skala besar untuk proyek-proyek pembangunan, perusahaan-perusahaan raksasa, dan pemegang konsesi lain dalam bidang produksi, ekstraksi, konservasi dan eksklusi sekelompok rakyat pedesaan dari tanah yang dimasukkan ke dalam konsesi badan usaha raksasa.

Sebenarnya kelahiran undang-undang pokok agraria merupakan momentum penting bagi negara dan bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, amanat untuk melindungi petani Indonesia yang tertera dalam UUPA tahun 1960 telah dikhianati dan diamputasi. Redistribusi lahan-lahan eks perkebunan asing kepada kaum tani Indonesia nyaris tidak pernah dilakukan. Perkebunan-perkebunan warisan bangsa kolonial sampai sekarang masih ada di berbagai pelosok.

Ini namnaya pengkhianatan, hingga pada akhirnya petani menjadi pihak yang tidak terlindungi secara hukum, kekerasan, perampasan tanah garapan, tiadanya perlindungan terhadap proses produksi pertanian,padahal petani adalah salah satu soko guru ekonomi Indonesia.

 

Lahan Berkurang

Kembali ke Jawa Barat, potensi berkurangnya lahan pertanian di Jawa Barat akan makin kelihatan jika kita melihat rencana pembangunan infrastruktur yang telah diselesaikan pemerintah pusat maupun propinsi. Pada kurun waktu 1994-2005, lahan (primer & sekunder) berkurang seluas 261 ribu Ha. Lahan sawah pada kurun waktu yang sama berkurang seluas 181,5 ribu Ha dan lahan tambak pun berkurang seluas 1,7 ribu Ha. Disisi lain, lahan perkebunan bertambah seluas 140,3ribu Ha dan kawasan pertambangan meningkat seluas 318 Ha.

Disamping itu, proyek-proyek infrastruktur berskala besar dan lapar lahan telah disetujui dan terus dieksekusi. Kita bisa melihat pembangunan bendungan Jatigede misalnya, atau jalan tol Cisumdawu, Bandara Kertajati dan pembangunan kawasan-kawasan industri di Jawa Barat akan mengurangi lahan pertanian secara signifikan. Sebagai gambaran, pembangunan tol Cisundawu akan mengkonversi lahan seluas 1.144,78 H (Bappeda Sumedang, 2012). Dan pembangunan waduk Jatigede mengkonversi lahan seluas 6.783 Ha yang terdiri dari lahan pertanian dan hutan.

Sungguh ironis, penurunan jumlah petani tersebut berbanding terbalik dengan perusahaan sektor pertanian. Jumlahnya mengalami kenaikan dari 2003 hingga 2013. Pada 2003, jumlah perusahaan pertanian tercatat 4.011, lalu naik sebanyak 5.486 tahun ini. Atau naik sebesar 36,77 persen. Dan kenaikan perusahaan pertanian paling tinggi sebesar 215 terjadi di Jawa Barat. Dengan kata lain, pemerintah lebih berorientasi pada penumbuhan perusahaan-perusahaan pertanian yang bercorak pada penguasaan tanah berskala besar atas nama efiesiensi dibawah penguasaan para pemilik modal besar dari dalam dan luar negeri.

Akibatnya semakin mempercepat dan memperluas proletarisasi kaum tani Indonesia karena pemilik modal tidak berorientasi pada penumbuhan sektor pertanian yang bersumber dari penguatan kapasitas berproduksi rumah tangga petani. Mereka hanya berorientasi pada penguasaan tanah berskala luas oleh perusahaan-perusahaan pertanian.

Sehingga tidak mengeherankan jika sebanyak 2,58 juta dari 3,5 juta rumah tangga petani di Jawa Barat berstatus petani gurem, yaitu petani dengan pemilikan lahan kurang dari 0,5 Ha (SP BPS 2003). Kondisi ini berbanding lurus dengan fakta bahwa wilayah pedesaan menjadi kantong utama kemiskinan. Sebanyak 1,79 juta jiwa penduduk miskin dari jumlah total penduduk miskin di Jawa Barat sebesar 4,5 juta jiwa berada di wilayah pedesaan.

Saya pikir ini akibat lemahnya peran pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan alih fungsi lahan sawah dan hutan, alih pekerjaan petani, rendahnya tingkat penyelesaian sengketa lahan pertanian dan kehutanan serta tidaknya adanya skema jaminan kesejahteraan bagi petani menjadi penyebab utama tingginya angka kemiskinan masyarakat pedesaan di Provinsi Jawa Barat.

Sebentar lagi kita tak punya sawah. Yang ada adalah sisa semangat sebagian para petani. Dan saya tidak bisa membayangkan jika petani mogok bertani, lalu kita mau makan apa?. Jika jawabannya gampang, kan tinggal impor beras.

Apakah impor merupakan solusi?. Tidak!.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: