//
you're reading...
BUDAYA

MERAWAT TEATER TRADISI

PIKIRAN RAKYAT  Desember 2014

(satu dari 4 tulisan)attachment

Saya kurang berani mengatakan kondisi teater modern di Kota Bandung sedang unyu-unyu atau sedang absurd. Tetapi manakala bicara soal teater tradisi, saya berani mengatakan kondisinya sejak lama cukup memprihatinkan,  wabilkhusus teater tradisi yang disebut Longser.

Longser merupakan genre teater tradisi Jawa Barat yang sudah ada sejak tahun 1915, diteretas dua seniman Bandung Aleh dan Karna – yang pada perkembangan selanjutnya dipopulerkan oleh Bang Tilil dan Ateng Jafar. Longser tumbuh subur pada periode 1940-1943 sebelum Jepang datang ke tanah air, bahkan menurut Ateng Jafar (alm) kelompok Longser saat itu mencapai 52 kelompok.

Kelompok Longser ini biasa main di hajatan nikah, khitanan, atau ngamen di beberapa tempat seperti stasiun Bandung, Braga, dan Tegalela. Mengalami masa vakum saat Jepang datang hingga tahun 1950-an. Lalu berairah kembali pada tahun 1951-1960-an. Puncak kejayaan Longser terutama Longser Pancawarna pimpinan Ateng Jafar pada tahun 1970 – 10980-an

Menyaksikan pertunjukan Longser, kita merasakan atmosfir masyarakat tatar Sunda yang terkenal dengan keramahan dan keakrabannya. Para pemain yang bersahaja, guyonan-guyonan yang mengandung gelak tawa, unsur-unsur musik etnis yang mengakrabkan suasana, keceriaan gerak tari tradisional merupakan daya tarik yang cukup menjanjikan dari tontonan tersebut.

Setelah Ateng Jafar tiada, masih beruntung ada sekelompok anak muda yang mau menghidupkan Longser, sebuat saja nama Hermana HMT, Agus Injuk, Kodrat, Ceu Popon, Ki Daus dll.

Anak-anak muda ini berupaya memperjuangkan seni lokal yang sudah terposisikan diambang kepunahan dengan merevitalisasi dan melestarikan  keberadaannya.

Dengan tidak menghilangkan unusr gerr sepanjang pertunjukan, Longser yang mereka garap menjadi lebih modern tanpa menghilangkan pakem yang sudah ada. Tentu dengan konsep sendiri-sendiri.

Konsep pertunjukan itun tidak lepas dari sejarah Longser sejak pertama kali muncul. Menurut sutradara Longser Bandung Mooi Hermana HMT, dirinya merasa peduli terhadap sejarah budaya bangsa ini mencoba mengupayakan pembinaan terhadap masyarakat luas khususnya generasi muda untuk lebih mencintai tradisi bangsa sendiri. Dengan langkah ini diharapkan terjalinnya gerakan peduli untuk pemeliharaan seni tradisi oleh lintas kalangan, maka konservasi seni tradisi yang diancam kepunahan diharap bisa terwujud kembali menjadi benteng dari intervensi budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

 

Merawat Tradisi

Perkembangan zaman telah menggeser kebutuhan dan minat masyarakat terhadap bentuk-bentuk kesenian, kita tak bisa mengelak keterlibatan informasi dan komunikasi yang mengatasnamakan peradaban dan kebudayaan. Sehingga kita masuk pada lorong waktu dan peristiwa nyaris tanpa batas. Kita masuk ke dalam arus, kecenderungan selera, dan tanda-tanda yang seragam. Bersama dengan itu kita, seperti merasa kehilangan identitas.

Pun terhadap seni pertunjukan yang makin modern dan industrial yang lebih canggih dari seni tradisi, maka jika para penggiat teater tidak mampu membaca pergeseran ini, Longser hanyalah sebuah   ruang kosong  yang telah ditinggalkan publiknya. Untung Bandoeng Mooi (komunitas seni pertunjukan yang berdiri 14 tahun lalu), masih menunjukan kecintaan dan kepedulian terhadap pekembangan seni longser dari acaman kehilangan identitasnya.

Komunitas yang didominasi kaum muda ini senantiasa mencoba menggali kekuatan longser dalam format yang lebih akrab dengan masyarakat kota Bandung. Proses demikian yang ada pada tubuh Longser, mangangkat isu-isu lokal atau global yang sedang hangat dibicarakan seperti masalah lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan dan maslah moral social politik dalam bentuk kemasan yang bisa diterima oleh berbagai lapisan masyrakat, tidak profokatif, menghibur dan mendidik.

Memang membangun merawat tradisi lokal serta kebudayaan secara umum mustahil dilakukan secara individual karena kebu­dayaan identik dengan kolektivitas. Seni rakyat yang hidup Jawa Barat merupakan bagian tak terpisahkan dari pera­daban itu, yang jumlahnya ratusan, kini tak terhitung banyaknya yang telah punah dan terancam sirna.  Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum.

Menghidupkan kembali Longser di tempat-tenpat keramaian merupakan sebuah upaya merawat tradisi itu. Maka berterimakasihlah pada mereka.(Matdon)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: