//
you're reading...
BUDAYA

SASTRA UNTUK KEHIDUPAN

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Pikiran Rakyat, Selasa 20 Januari 2015cibaya

Sejumlah peristiwa sastra terjadi sepanjang tahun 2014. Mau tidak mau saya harus menyebut awal tahun dimulai dengan kontroversi penerbitan buku berjudul “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”. Banyak penolakan dari kalangan pegiat sastra. Penolakan itu misalnya soal kriteria yang dijadikan dasar pemilihan para tokoh sastra tersebut hingga penggunaan kata “paling” dalam judul.

Tak terkecuali di Bandung Jawa Barat, penolakan itu dilakukan juga oleh para pegiat sastra dengan caranya sendiri, yakni menulis dan menyebarkannya, dan atau langsung menolak keberadaan buku tersebut.  Gerakan lain datang dari berbagai komunitas sastra melalui petisi online, mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pemilik wewenang agar mengkaji ulang bahkan memberhentikan sementara dari peredaran. Disinyalir, buku itu akan dimasukan ke dalam kurikulum yang akan menyesatkan.

Ini geliat sastra dan peristiwa paling heboh sepanjang tahun 2014 bahkan sepanjang sejarah sastra Indonesia.

Ada juga geliat sastra yang lebih lembut tapi tetap memiliki makna bagi kehidupan sastra di Jawa Barat, yakni sejumlah diskusi dan launching buku sastra. Geliat kehidupan sastra di Jawa Barat tak pernah berhenti. Tiap generasi selalu melahirkan para penggiat sastra untuk tetap menghidupkan sastra dengan cara apa pun.

Kegiatan sastra di Tasik sebagai “mekahnya” sastra Jawa Barat terasa serius, mulai dari “Mendongeng Sastra” hingga Lomba Baca Puisi Se-Jawa Barat yang rutin dilakukan tiap tahun.  Wabilkhusus soal mendongeng, yang sangat menarik.  Kegiatan mendongeng untuk anak-anak berlangsung saat bulan Ramadhan. Keberadaan banyak pesantren membuat tradisi sastra begitu kental. Kegiatan sastra di sini masuk ke sekolah-sekolah, kampus, taman bacaan, dan panti asuhan. Diprakarsai banyak komunitas sastra, seperti Sanggar Sastra Tasik, yang banyak melahirkan penyair. Kegiatan mendongeng merupakan  salah satu kegiatan sastra yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Mendongeng sangat penting untuk membentuk karakter anak Karena minimnya kegiatan mendongeng di keluarga dan sekolah, akan menjauhkan masyarakat dari pengetahuan dan karya sastra.

Paling tidak, tradisi mendongeng di lingkungan keluarga dan sekolah pada era teknologi modern saat ini kian menyusut. Maka penyair dan penggiat sastra di Tasik dibawah asuhan penyair Bode Riswandi, Saepul Badar, Acep Zamzam Noer dll mencoba menebar sastra lisan itu dengan cara mendongeng. Memotivasi anak-anak yang berminat dalam dunia dongeng, karena dalam dongeng banyak sekali nilai edukasi yang bisa diambil. Kepribadian anak-anak masih bisa dibentuk dan mudah dibubuhi hal-hal positif, salah satunya dengan mendongengkan mereka cerita yang baik.

Beralih ke Garut, kota kecil ini berada di antara Bandung-Tasikmalaya. Meski tidak rutin ada kegiatan sastra, tapi Garut banyak melahirkan sastrawan, penulis, dan penyair. Selain H Usep Romli yang sudah 46 tahun berkarya, ada generasi selanjutnya yakni Lilis Nenden, Darpan, hingga lahir generasi Ratna Ayu Budhiarti, Pungkit Wihaya, Liman dan seterusnya. Lahirnya generasi baru kepenyairan di Garut membuat geliat sastra di sini mulai tampak, beberapa sanggar pun berdiri. Sejumlah kegiatan sastra digelar di tahun 2014 diantaranya “Sastra dan Balada”,  “Salam Ramadhan” dan juga pembacaan puisi, pentas musik dan teater dan diskusi-diskusi tak rutin.

Melirik Kabupaten Bandung, sebuah komunitas sastra bernama Kawah Sastra Ciwidey (KSC) didirikan, belum banyak kegiatan sastra disana, sepanjang tahun 2014 hanya sekali saja yakni “Gerakan Puisi Menolak Korupsi”, itupun dibantu pegiat sastra Sosiawan Leak dan kawan-kawan dari Semarang. Wilayah Kabupaten Bandung memang termasuk minim kegiatan sastra, tertolong oleh kegiatan tadi dan Lomba Baca Puisi Tingkat SMA setempat.

Di Kawasan Bandung Utara (Lembang), ada Saung Sastra yang dikelola penyair sunda Hadi AKS, kegiatannya tidak hanya diksusi puisi, tetapi juga musik dan teater. Bahkan, prestasi teater sudah tingkat nasional dalam ajang kompetisi atau festival. Di sini antusiasme pelajar lebih terpelihara.  Hadi AKS perlu kerja keras lagi untuk menghidupkan sastra di daerah kekuasannya, karena jika tidak dijaga, maka usahanya selama ini akan sia-sia.

Kita ke Cianjur, kegiatan sastra selalu penuh. Lahirnya penyair asal Cianjur, Faisal Syahreza, juga adanya wadah Dewan Kesenian Cianjur, menambah geliat sastra jadi makin beragam, mulai diskusi hingga lomba baca puisi dan workshop sastra.

Hal inilah yang membuat Purwakarta tertarik untuk mengikutinya, aktor teater Ayi Kurnia mulai memikirkan kehidupan sastra di kota kelahirannya, ia bersama penyair Rudi Aliruda membacakan puisi-puisi lewat siaran di sebuah stasiun radio swasta. Baru sebatas itu, belum terdengar ada diskusi hebat. Padahal konon sang Bupati Purwakarta sangat doyan puisi. Hm…ironis!

 

Sastra dan Kehidupan

Kota Bandung, tentu saja sebagai “Madinah” sastra Jawa Barat punya geliat tersendiri sepanjang tahun 2014, dari Pengajian Sastra yang digelar rutin oleh Majelis Sastra Bandung, sampai diskusi sengit dari launching buku “Mencari Kubur Baridin” karya Riki Dhamparan Putra dan “Dongeng dari Utara” karya Made Adnyana Ole di Dewi Asri, ISBI (STSI), awal  Desember 2014.

Acara yang dikelola oleh Daun Jati STSI ini menjadi penting bagi satu satunya kampus seni yang minim kegiatan sastra. Penyair Semi Ikra Anggara sebagai “sesepuh” Daun Jati harus lebih serius lagi menggelar acara seperti ini. Saya juga harus menyebut kampus UPI dengan ASAS nya yang rutin berkegiatan sastra.

Geliat Sastra di Jawa Barat sepanjang 2014 terus berlanjut, misalnya Pembacaan puisi di kafe-kafe yang dikemas apik oleh Langit Amarawati, Meita KH, Ratna M Rochiman dan lain-lain.  Lalu ada “Malam Puisi Cinta” pada 20 Desember yang digelar Warung Dardja di Bojongkacor Bandung, menampilkan pembacaan puisi dan musik.

Sampai pada malam tahun baru nanti, kegiatan sastra masih berlanjut di Kebun Seni Jl. Tamansari Bandung, sejumlah penyair menyemarakkan malam penggantian tahun, larut bersama bentuk kesenian lainnya.

Hal ini menunjukan, sebagian kecil rakyat Jawa Barat masih bisa menjaga budaya lewat sastra, karena karya sastra selain menghibur, juga mampu dijadikan pengalaman batin dan memperkaya hati dan mempertajam intelektual masyarakat. Saya yakin, masih banyak kegiatan sastra yang tidak kampu saya rekam sepanjang tahun 2014.

Yang pasti, kegiatan sastra selain terdapat nilai-nilai tradisi budaya bangsa dari generasi ke generasi, juga menunjukan bahwa kita masih berbudaya, masih punya kehidupan.

Kehidupan kota-kota di Jawa Barat memang dikepung berbagai komunitas dan kegiatan sastra yang keberadaannya mandiri, tidak berharap uluran tangan pemerintah. Ini sangat baik untuk makin banyaknya kegelisahan positif yang indah. Nantinya, makin tinggi nilai keindahan, makin tinggi pula kemanfaatannya bagi orang lain. Yakinlah, tak ada kegiatan sastra yang tak bermanfaat bagi kemanusiaan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: