//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK, UMUM

PARODI BAHASA DI MEDSOS

parodiDimuat di Tribun Jabar, Senin 27 Oktober 2014
Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

     “Nanti Kepala Sekolah dan Guru dipilih DPRD juga, Presiden dipilih Camat, Rakyat  dipilih siapa?”
                                                         ***
Sekilas kalimat yang ditulis seseorang di status Facebooknya itu biasa saja tapi rupanya kalimat-kalimat berbau parodi itu kian berhamburan demi menolak RUU Pilkada oleh DPRD. Dan ini semacam “hiburan bahasa” bagi pemilik akun Media Sosial (Medsos), karena kemudian mengundang komentar lucu, menggelikan sekaligus mengerikan.
Seperti misalnya kalimat lain yang saya temukan di Facebook, “Wahai wakil rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan, jika mengkhianati rakyat berarti mengkhianati Tuhan” dan seterusnya. Desakan penolakan terhadap RUU Pilkada itu menjadi sebuah gerakan moral dan kuat. Gerakan yang tak boleh diabaikan begitu saja. Sebab sindiran rakyat bagaimapun juga bisa menjadi kekuatan dasyat melebihi kata kata.
Kalimat humoris, ringan namun nyinyir itu selalu terulang dalam kondisi politik yang serba serius, kita masih ingat ketika sebagian rakyat mangatakan secara bergurau “Jerman juara Piala Dunia, tapi belum tentu, kita masih menanti menanti perhitungan realcount, nanti tanggal 22 Juli oleh KPU”
Sungguh kita dibuatnya tersenyum. Ini pertanda rakyat butuh hiburan, dan bahasa menjadi salah satunya hiburan murah meriah, di dunia Medsos. Kemudian kalimat itu tersebar ke seluruh pelosok mulut rakyat Indonesia, baik melalui SMS maupun jejaring sosial Facebook atau Twitter, yang pasti kalimat diatas menjadi parodi yang berkembang pesat.
Ya, politik selalu menjadi sumber berkembangnya bahasa satire, menjadi bahan dasar olok-olok, bisa juga politik menjadi sumber inspirasi humor hasasa yang kita rancang sendiri. Entah akhirnya berbentuk ejekan, komentar miring dan bahkan bisa menadi karya tulis (fiksi maupun esai), tanpa meninggalkan rasa humor.
Perilaku lucu membuat parodi bahasa dari situasi politik terutama di medsos, tentu saja jangan dianggap sepele, meski tak bermaksud menghina tapi lebih dari tujuan kritik yang menghibur; sindiran berkelas ala rakyat jelata.
Parodi bahasa di medsos adalah fasilitas dialog antara rakyat dengan rakyat, rakyat dengan walikota, gubernur dan presiden, rakyat dengan anggota DPRD dan seterusnya dan ini budaya baru yang tak bisa dihindari. Parodi bahasa (politik) – sekali lagi – menjadi salah satu hiburan bagi rakyat, setelah suara mereka dititipkan lewat paku yang ada di TPS, setelah mereka memilih wakil rakyat.
Lahirnya parodi bahasa akibat situasi politik dan terakhir soal RUU Pilkada, tak lepas dari kejenuhan di tengah hiruk pikuk politik yang serius. Mungkin semacam kegelisahan masyarakat atas peristiwa sosial maupun politik yang membelit pikiran, membuat imajinasi berkembang serta mendadak pintar dalam menciptakan bahasa sindiran.
Saya pikir, ini bisa menjadi kajian secara psikilogis maupun sosiologis para ahli, karena ternyata rasa humor orang Indonesia sangat tinggi apalagi saat rakyat merasa tertekan atau bosan dengan hiruk pikuk politik yang dianggap menyebalkan.
Dan Saya yakin masih banyak parodi dalam bentuk lain yang tidak diketahui yang rupanya terus berkembang hingga kini, sebuah bukti bahwa rasa humor orang Indonesia sangat tinggi apalagi saat rakyat merasa tertekan atau bosan dengan hiruk pikuk politik yang dianggap menyebalkan.
Anekdot parodi soal Bang Haji Rhoma misalnya, terdapat unsur humor yang pas dan diluar dugaan. Pernahkah anda membayangkan tiba tiba muncul kalimat Kalau Bang Haji Rhoma Irama jadi Presiden, penduduk Indonesia tidak akan bertambah dan berkurang, jumlahnya pasti 135 juta, semua pegawai negeri boleh begadang asal ada artinya. Dan ternyata pencalonan dirinya hanya ingin merebut ANI dari SBY.
Jika ditelusuri saya yakin kalimat itu tidak diketahui darimana asalnya, tiba-tiba surprise!. Mungkinkah itu sebuah sindiran halus, kritik yang soleh, atau kemarahan yang manis?, sepanjang anekdot itu tidak menjurus SARA, saya pikir inilah kondisi rasional rakyat Indonesia. Ketimbang rakyat bunuh diri karena kebingungan tak punya beras, maka parodi itu menjadi penting, semacam pil mujarab untuk menyembuhkan sesaat rasa sakit rakyat yang kerap dibohongi.
Kini kita telah memiliki Presiden baru, Jokowi. Selama rakyat membutuhkan hiburan teks, parodi masih akan tetap ada. Nah!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: