//
you're reading...
BUDAYA

FESTIVAL FILM BANDUNG JANGAN GALAU

ffbMatdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

dimuat Pikiran Rakyat Sabtu 6 September 2014

Kini kota Bandung hanya memiliki satu festival yang tetap ajeg sejak tahun 1987, yakni Festival Film Bandung (FFB). Sebelumnya, satu festival yang dibangun oleh rakyat selama 23 tahun sudah hilang, yakni Pasar dadakan Gasibu yang digelar setiap hari minggu.
Lupakan soal Pasar Minggu Gasibu yang sudah hilang itu. Adalah Forum Film Bandung (disingkat FFB juga) yang getol menggelar acara Festival Film. Pertama kali digelar tahun 1987 dimana beberapa pengamat film, wartawan dan budayawan yang biasa menulis tentang film di harian Pikiran Rakyat sering menyaksikan film-film baru di PT Kharisma Jabar Film Jl. Jenderal Sudirman Bandung.
Setiap ada film baru yang masuk ke kota Bandung memang selalu diputar dulu disana sebelum beredar di bioskop-bioskop. Selesai nonton dilanjut dengan diskusi, waktu itu saya masih ingat yang selalu heboh Prof adalah Soejoko (almarhum).
Dari diskusi itulah lahir sebuah gagasan untuk bisa mengapresiasi film dan bertukar opini, lahirlah Festival Film Bandung, untuk kemudian secara rutin digelar hingga tahun 2014 ini sudah berusia 27 tahun. Ketika FFI (Festival Film Indonesia) berhenti pun FFB tetap meggelar FFB.
Forum ini memberikan gelar Terpuji bagi film, aktor, sutradara, penulis skenaro dan lain-lain. Tak hanya film Indonesia tapi juga film asing, bahkan untuk sinteron. FFB sangat konsisten, tidak pernah absen setiap tahunnya, dan uniknya, FFB selalu berdiri sendiri tanpa sentuhan pemerintah. Sampai akhirnya di awal tahun 2009 FFB menyerah pada nasib, ia harus bekerjsama dan menyandarkan diri di pundak pemerintahan, sebuah perjalanan sejarah yang diciderai oleh diri sendiri.

Harus diakui, selama 27 tahun Festival film ini berlangsung berarti ada indikasi keberhasilan yang hebat, kerjasama insan perfilman, pengamat, wartawan dan masyarakat terbangun dengan rapih dan jujur. Apresiasi masyrakat begitu nyata dan saya yakin mereka yang duduk di kepengurusan FFB tidak mementingkan komersial dan kedudukan.
Pemerintah memang selayaknya ikut mendukung program hebat semacam ini, apalagi kota Bandung yang nota bene kota budaya tidak memiliki festival yang ajeg dan langgeng. Seperti diketahui, berbagai event seni budaya yang bertajuk festival di kota ini hanya berlangsung beberapa kali. Setelah itu mati.
Di Bandung banyak “Festival” yang direncanakan rutin tapi gagal, sebut saja Bandung Dance Festival, Festival Sastra, Pasar Seni ITB (sebuah pertemuan seni musik, sastra, tradisi, niaga) yang penyelenggaraannya tersendat-sendat. Ada festival musik, festival monolog, Festival Teater, Dago Festival yang kemudian wafat. Kita sempat juga mengenal Kemilau Nusantara yang tak karuan itu, Helarfest yang tak jelas kemana lagi.
Sempat berharap pada Braga Festival yang tiap tahun sudah rutin digelar, namun pengemasannya yang masih hanya “memuaskan” panitia bukan rakyat. Karena inti sebuah festival adalah rakyat. Braga Festival belum cukup menjadi ciciren festival yang permanen karena belum menjadi kekuatan utuh bahwa itulah festival Kota Bandung. Belum utuh seperti Festival Jember misalnya.
Semua penyelenggaraan tersebut tidak gagal, tetapi belum menjadi trademark yang mentradisi, seperti festival di Solo, Bali, Yogyakarta, atau kota-kota lain di Indonesia. Ya, festival adalah rasa syukur komunitas manusia di antara penat pekerjaan. Seperti lanskap tubuh yang harus diurus agar indah, festival mempertontonkan estetika hati manusia secara teratur dan tentu saja ini merupakan kekayaan budaya yang sangat mahal bagi sebuah kota di dunia.
Sebuah festival harus mampu menyadarkan manusia bahwa mereka adalah makhluk sosial. Sebuah festival harus lahir dengan tema besar atau pun kecil yang merangkum semua festival yang sudah ada, tentu dengan pengelolaan lebih baik.
Festival Film Bandung bisa menjadi festival besar yang permanen, dan akan menjadi peradaban dahsyat, gambaran kebudayaan yang jernih. Sebab, festival film Bandung merupakan pekerjaan bersama perorangan, lembaga, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, pedagang, rakyat, dan pemerintah (sepanjang tidak ikut campur soal teknis bla bla bla).
Ketika festival yang lain mati suri, maka FFB harus menjadi tujuan peradaban dan kebudayaan yang dapat menyirami, memelihara, dan tumbuh menjadi salah satu ikon Kota Bandung.
Kembali ke soal dukungan pemerintah tentu tidak boleh sampai ke akar masalah mengurus teknis dan ikut ikutan menilai film, meskipun pihak pemerintah diwakili oleh orang film seperti Dede Yusuf sampai Deddy Mizwar sekalipun. Karena ruh nya tetap ada di penggiat yang secara langsung dan rutin mengamati film. Artinya, kerjasama dengan pemerintah itu perlu, hal ini untuk membangun kebersamaan yang asyik, tapi jangan sampai persoalan inti festival menjadi berubah haluan, kegembiraan rakyat jangan diabaikan dsn berubah menjadi kebahagiaan kepentingan.
Jika itu dilakukan oleh FFB sebagai sebuah forum, maka Festival ini menjadi galau tak menentu, apalagi akhir aklhir ini dikemas dalam sebuah acara yang glamour dan ngepop. Lho, kalau tidak ngepop dan glamour kan tidak memasyarakat? Festival ini jadi ekslusif dong?. Biarkan festival Film Bandung menjadi ekslusif karena ia akan menjadi antik dan tetap memasyrakat, dan sudah bertahun-tahun terbukti.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: