//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK, UMUM

Rorojongrang dan Politik

r.Dimuat di TRIBUN JABAR, Sabtu 9 Agustus 2014

Jika politik sudah bicara, maka segala cara akan dilakukan. Kesalahan dalam orasi atau memberi keterangan untuk kepentingan politik, bisa diralat dengan alasan media telah memplintirnya. Dan banyak cara lagi, misalnya mau menghubungkan legenda dengan politik dengan membuat perumpamaan. Kalau perumpamaan itu terpleset, seorang politisi biasanya gampang untuk meralatnya, meralat kebohongan dalam politik itu menjadi sunnah muakkad.
Misalnya ketika Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Taufiq Ridho mengatakan Rorojongrang membuat Tangkuban Perahu hanya dalam waktu semalam. Itu bisa sah, karena bagaimanapun juga cerita Tangkuban Perahu itu sebuah legenda, dan legenda itu dongeng dan dongeng itu bohong atau fiksi bersifat rekaan. Jadi bebas saja ia mengatakan hal itu.
Dalam cerita sebenarnya yang membuat Tangkuban Perahun dalam legenda itu adalah Sangkuring. Sementara dalam versi sekjen PKS yang membuat Tangkuban Perahu itu Rorojongrang. Banyak versi sebenarnya dalam legenda Sangkuring dan Tangkuban Perahu. Versi itu bisa dibuat sesuai kebutuhan cerita.
Tetapi apapun namanya legenda dalam kehidupan daerah tersebut sangat berpengaruh dan legenda menjadi miliknya, ia adalah kekayaan budaya yang abadi. Sebagai Folklor (tradisi lisan dalam sastra), legenda atau mitos boleh memiliki banyak versi, namun tidak boleh semena-mena mengubahnya apalagi demi kepentingan politik, ada teknis tertentu untuk bisa mengubah sebuah cerita, misalnya dengan menulis cerita fiksi, baik itu cerpen, novel, pementasan teater dll.
Kalau tidak, maka seluruh rakyat facebook dan twiter akan mencemoohnya, pun dalam obrolan warung kopi akan menjadi pembicaraan yang folklor juga.
Sebagai tradisi lisan dari suatu masyarakat cerita Sangkuring dan Tangkuban Perahu tersebar dan diwariskan secara turun temurun meskipun tidak dibukukan secara ilmiah, paling dalam bentuk komik atau karya sastra lain.
Ia menjadi ingataan kolektif masyarakat dengan banyak versi, tapi bersifat pralogis, lugu, berpola dan mengandung pesan moral. Sebagai folklore, legenda Sangkuriang bisa saja dianggap suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi, karena Legenda sering dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history). Meskipun dianggap sebagai sejarah tetapi kisahnya tidak tertulis maka legenda dapat mengalami distorsi sehingga seringkali jauh berbeda dengan kisah aslinya.
Bisa sih legenda jadi sejerah, tapi untuk itu harus menghilangkan bagian-bagian yang mengandung sifat-sifat folklor, seperti bersifat pralogis (tidak termasuk dalam logika) dan rumus-rumus tradisi. Legenda biasanya berisi symbol petuah benar dan yang salah. Disitu dimunculkan berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya yaitu sifat yang baik dan yang buruk.
Sehingga Jan Harold Brunvard menggolongkan legenda menjadi 4 kelompok, yaitu Legenda keagamaan (religious legend) adalah legenda yang memuat kisah keagamaan. Legenda alam gaib  adalah legenda yang memuat kisah yang seolah pernah terjadi pada seseorang. Legenda daerah setempat, adalh legenda yang berhubungan dengan cerita suatu tempat (daerah). Dan Legenda Perseorangan, adalah legenda mengenai tokoh tokoh tertentu yang dianggap ceritanya benar .
Sementara itu Prof Yus Rusyana pernah menulis beberapa ciri legenda, antara lain cerita legenda biasa dihubungkan dengan peristiwa dan benda yang berasal dari masa lalu, seperti peristiwa penyebaran agama dan benda-benda peninggalan seperti mesjid, kuburan dan lain-lain. Para pelaku dalam legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat lalu. Mereka itu merupakan orang yang terkemuka, dianggap sebagai pelaku sejarah, juga dianggap pernah melakukan perbuatan yang berguna bagi masyarakat karena hubungan tiap peristiwa dalam legenda menunjukan hubungan yang logis.

Legenda dan Kepentingan Politik
Ada beberapa legenda selain Tangkuban Perahu (Sangkuriang) dari Jawa Barat, seperti Putmaraga dari Banjarmasin (Kalimantan), Pinisi (Sawerigading) dari Sulawesi, Hang Tuah dari Aceh dan Rorojongrang tentu saja.
Beberapa teori semiotika menyebutkan, semiotika ada dua tingkatan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti
Makna konotasi akan berkembang menjadi makna denotasi, dan setelah itu makna denotasi tersebut akan menjadi mitos. Kkita ambil contoh misalnya sebuah tempat dianggap sebagai keramat. Nah konotasi keramat akan menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol tempat itu sampai akhirnya konotasi itu menjelma denotasi. Dan itulah mitos.
Betul bahwa legenda itu fiktif, api ceritanya bisa daimbil sebagai contoh, symbol-symbol yang ada menjadi pepatah diri, misalnya tokoh Rorojongrang, sangkurinag dan lain loain merupakan symbol yang bisa didekati melalui pendfekatan semiotik. Jika tidak maka manusia yang jauh dari nilai nilai sastra akan menilai legenda sebagai kesesatan.
Jadi fiksi, termasuk legenda, tidak bisa disamakan begitu saja dengan bohong. Fiksi adalah sebuah struktur. Struktur ini terbagi ke dalam intrinsik dan ekstrinsik. Struktur intrinsik terdiri atas unsur-unsur yang membangun cerita, di antaranya penokohan, alur, latar, dsb. Legenda Tangkuban Perahu juga dibangun oleh unsur-unsur ini.
Saya beberapa kali melihat pertunjukan teater tentang Sangkuriang maupun Odhipus dalam beberap versi, hanya versi saja yang berbeda, tapi pesan moralnya sama.
Rorojongrang sebagi pembuat Tangkuban Perahu mungkin saja bisa terjadi jika dituangkan dalam versi ceritra fiktif, pementasan teater dan karya satra lainnya, tapi kalau sudah dihubungkan dengan politk yang real, tentu saja ini ngawur permanen, tidak gitu gitu amat kelees – meskipun – politik kadang kadang fiktif juga sih.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: