//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

MENYAMBUT “BULAN SUCI” PIALA DUNIA

brasil 2014

Ditulis 10 Juni 2014

Matdon

Beberapa hari lagi, tepatnya 12 Juni 2014, Kick Off Piala Dunia sepakbola dimulai. Jutaan – atau miliaran pasang mata akan tertuju pada satu peristiwa penting yang (diharapkan) akan menghentikan segala pertikaian dunia, istirahat dari hiruk pikuk kebohongan partai politik, berhenti sejenak dari caci maki pada capres dan cawapres dan blek kempen atau bahkan sejenak melupakan utang piutang, dan bagi politikus yang kadung sudah berjanji akan mensejahterakan rakyat, piala dunia bisa dijadikan ajang istirahat dari dosa politik mereka.
Jauh jauh hari, tukang becak, pemilik warung, mahasiwa, ibu-ibu rumah tangga dan penjudi sudah menyiapkan diri untuk menyambut ajang ini, mungkin ada juga anggota dewan merasa tertolong untuk tidak memikirkan soal hak interpelasi kepada pimpinan daerah, atau sekedar nonton bersama dengan rekan sekantor. Piala Dunia sebulan penuh, mungkin menjadi bulan suci olahraga sedunia yang tidak mengenal ras dan agama.
Konon, sejumlah masayarakat mulai memaksakan diri untuk membeli tipi baru guna mencari kepuasan bathin agar tidak ada satupun pertandingan yang terlewatkan dari kerdipan mata.
Di lapangan hijau Brazil, kita bisa menyakiskan kehabatan Lionil Messy, Cristiano Ronaldo, Suarez, Etoo, Ronney, Neymar dan seabreg pemain lainnya. Sehingga kita bisa membayangkan nama-nama itu nempel pada pemain PSSI –U19 kelak jika mengikuti piala dunia, kita bisa membayangkan bagaimana Evan Dimas Darmono, Yabes Roni Malaifani, Maldini Pali, Muhammad Hargianto, Hendra Sandi Gunawan, Paulo Oktavianus Sitanggang, Zulfiandi, dan lain-lain merumput membela panji merah putih, entah pada piala dunia tahun kapan.
Piala Dunia 2014 merupakan edisi ke 20 dari Piala Dunia FIFA, digelar di Brazil 12 Juni hingga 19 Juli 2014. Seperti bulan yang diberkahi Tuhan, Piala Dunia adalah penantian hiburan yang berbobot, hiburan tingkat tinggi yang bergensgi dan penuh tanggungjawab, sportifitas, dan fairplay. Sejumlah pengamat sepkabola sudah dari sekarang melakukan orasi budaya sepakbola, berkisah bagaimana pentingnya keuatmaan bulan suci sepkabola, para host teevisi mulai menghapal teks dan nama-nama pemain agar saat siaran pertandingan tidak lupa.
Sejumlah amalan menjelang Piala Dunia disiapkan, antara lain mempersiapkan mukena atau sajadah untuk tahajud, karena usai atau sebelum pertandingan Piala Dunia bisa tahajud untuk beribadah, atau sekedar berdoa bagi tim kesayangannya.
Amalan lain ialah para istri solihah yang tidak begitu menyukai sepakbola harus rela mempersiapkan kopi dan panganan kecil untuk suami dan para tamunya. Karena diperkirakana usai pertandingan sepakbola sang suami pasti begadang, melanjutkannya dengan pertandingan gapleh hingga subuh.
Para siswa sekolah siap mendengkur di kelas akibat lebih memilih nonton sepakbola ketimbang menghapal, para guru pun sudah siap-siap menjadi pemaaf kepada muridnya, guru pun ikut terlibat dan ngobrol dengan para siswanya soal siapa yang mencetak gol tadi malam.
Betapa hebatnya Piala Dunia sehingga acara empat tahunan ini begitu ditunggu oleh siapapun di dunia, dan hingga hari ini nampaknya belum ada satu pun turnamen, kejuaraan dan atau sejenisnya yang mampu menandingi Piala dunia. Piala Dunia ibarat raja hiburan gratis, bagai pahlawan sejati, seperti pesihir.
Piala Dunia mengalahkan popularitas Thomas dan Uber, menggeser Champions dan Piala Eropa, memperkecil arti tayangan sinetron, melupakan Olympiade, memanjakan alam bawah sadar manusia. Tidak ada satupun kejuaraan di dunia ini yang begitu disambut dunia kecuali Piala Dunia. Dan percayalah, Piala Dunia berpengaruh besar pada kehidupan sosial politik, ekonomi dan budaya dunia.
Maka sambutlah “bulan suci” olahraga sepak bola Piala Dunia, dengan riang gembira dan harapan, bahwa suatu saat nanti Indonesia menjadi salah satu negara dari 32 negara peserta Piala Dunia.
Ahlan Wasahlan Piala Dunia, kapan kapan mampirlah di Indonesia, ditunggu ya…

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: