//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK

HALAL BIL HALAL DAN KESALEHAN POLITIK

Dimuat di PIKIRAN RAKYAT, Kamis 31 Agustus 2014
halal
Kalimat Halal Bil Halal dilisankan dan disyi’arkan hanya ada pada tradisi Islam di Indonsia, sebagai perpanjangan tangan saling bermaapan pada hari raya Idul Fitri. Ia Dimaknai sebagai thalabu halal bi thariqin halal, yakni mencari kehalalan dengan cara halal. Bisa juga sebagai kata ganti Silaturahmi.
Lepas dari kontroversi penggunaan gramatikalnya, Halal Bilhalal adalah Trade Mark budaya Indonesia, yang memiliki makna sangat luas dibanding saling memaapkan. Misalnya saja Halal Bilhalal adalah sebuah islah dari pertikaian politik, dimana yang satu akan menerima konsekwensi logis dari pertarungan demokrasi.
Bisa juga Halal Bil Halal dimaknai sebagai deklarasi perdamaian tanpa rekomendasi dari sebuah organisasi atau bahkan Parpol, tanpa orasi, tanpa teriak. Dalam lingkaran yang kecil Halal Bil Halal bisa jadi ajang perdamaian perselisihan antara keluarga. Sesuai makna dari Idul Fitri, maka sering kali Halal Bil Halal merupakan penyelsaian pertikaian keluarga dan tetanga tanpa pengadilan, dan berakhir dengan gembira, dengan ikhlas.
Karena ternyata kata “halal” juga bermakna “mengikhlaskan.”, saling mengikhlaskan atau saling memaafkan satu sama lain. Tentu saya pikir ini selaras dengan pesan yang dbawa oleh Agama Islam bahwa manusia harus saling memaapkan dalam interaksi sesama manusia.
Dalam Al-Qur’an, tindakan saling memaapkan terdapat dalam Surah Al-Taghabun ayat 14 yang berbunyi, “Allah sungguh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. Memang bisa difahami akan ada benturan dalam bathin manusia antara memaafkan kesalahan, minta maap atas kesalahan dan saling membebaskan kesalahan, sebab ketiganya halal yang sangat sulit dilakukan jika tak dibarengi iman.
Jadi Halal Bill Halal maknanya berkembang sesusai kebutuhan manusia. Tetapi intinya adalah pengampunan, permaapan, perdamaian, islah dan ikhlas antara sesama manusia, yang nanti akan berakibat dimaapkan oleh Tuhan.
Tapi jika Halal Bil Halal hanya merupakan acara formalitas instansi, seremonial antara tetangga tanpa makna mendalam, maka Halal Bil Halal seperti ini hanya akan menjadi “cangkang” tradisi yang tidak meresap menjadi isi bathin. Yang demikian itu hanya akan melahirkan manusia munafik; ketika tangan bersalaman hati masih dongkol, maka Halal Bil Haram jadi Halal Bil Haram. Bisa diyakini karena memaafkan kesalahan orang lain sangat sulit apalagi menghapuskan kesalahan dengan baik.

Kesalehan Politik
Jika manusia sudah mau memapkan kesalahan orang lain, maka kesalehan sosial akan terbentuk dengan sendirinya, sebagai hasil dari Laiatul Qodar. Dan jika Kesalehan sosial muncul, harusnya ada harapan menjelma jadi kesalehan politik.
Kita tahu, di dalam politik ada tahapan rekonsiliasi setelah berbagai tahapan yang melelahkan melalui demokrasi. Maka jika dikaitkan dengan Halal Bil Halal, Abd Rohim Ghazali (penulis/pengamat politik) mengatakan, Demokrasi adalah kesalehan politik. Politik minus demokrasi akan menjadi kotor dan membahayakan kemanusiaan. Demokrasi yang sejati berisi semangat kebebasan, kesejajaran, dan persaudaraan.
Saleh itu sama dengan patuh pada aturan, baik aturan Agama, tradisi, sosial, budaya, ekonomi. Kesalehan politik bisa dimaknai sebagai kepatuhan menjalankan amanat demokrasi. Dalam ajaran Agama, demokrasi bukan barang baru, Rasulullah SAW sering memberi contoh demokrasi dan kesalehan sosial.
Misalnya saat Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim mengalami roboh beberapa kali dan dibangun kembali oleh kabilah Amaliqah, lalu roboh dan dibangun oleh kabilah Jurhum, dan sat roboh untuk ke tiga kalinya dibangun kembali oleh kaum Quraisy, saat itu Nabi Muhammad berusia 35 tahun dan belum diangkat menjadi nabi.
Terjadi pertengakaran hebat dan nyaris terjadi perang antar suku, mempersoalkan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya, semua merasa berhak atas itu. Hingga akhirnya Nabi Muhammad SAW ditunjuk sebagai penengah untuk mengambil keputusan.
Dengan kesalehannya, Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas sebuah kain panjang, lalu memanggil seluruh kepala kabilah (perwakilan suku/organisasi, kalau sekarang mungkin perwakilan Parpol), untuk bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Nabi Muhammad SAW yang mengambil Hajar Aswad dari atas kain itu dan meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Semua puas dengan keputusan tersebut. Sungguh sebuah keputusan politis yang cantik.
Dalam kesempatan lain Rasulullah mengatakan “Wasaawirhum Bil Amri” artinya “kalian harus bermusyawarah dalam setiap masalah”. Betapa kesalehan politik sudah dicontohkan dermikian hebat oleh Beliau.
Kesalehan politik wajib dimiliki oleh siapapun khusunya seorang pemimpin. Kesalehan yang tertanam dalam diri manusia biasanya akan terbentuk sejak kecil berlandaskan Agama. Setelah itu ia berwujud ikhlas dalam segala hal, termasuk ikhlas dalam menerima kekalahan dan kemenangan. Idul Fitri bernuansa Halal Bil Halal, merupakan kemenangan semua ummat, tidak ada yang kalah kecuali mereka yang tidak mendapatkan Lailatul Qodar di bulan Ramdahan.
Maka moment Halal Bil Halal layak dijadikan tonggak sejarah bagi demokrasi Indonesia menuju kesalehan politik. Saya teringat kata Gus Dur, “Hati harus menjadi dasar pijak laku demokrasi, laku bernegara dan berbangsa”.
Ya, hati adalah letak dari keikhlasan dan kesalehan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: