//
you're reading...
BUDAYA

Geliat Sastra:Dari Mendongeng hingga Kawah Sastra

dongengSINAR HARAPAN, SABTU 2 AGUSTUS 2014

Geliat kehidupan sastra di Jawa Barat tak pernah berhenti. Tiap generasi selalu melahirkan para penggiat sastra untuk tetap menghidupkan sastra dengan cara apa pun. Sebut saja Kota Tasikmalaya, di kota ini kegiatan sastra tak pernah berhenti di satu generasi.

Sebagai “mekahnya” sastra Jawa Barat, Tasik memang unik. Keberadaan banyak pesantren membuat tradisi sastra begitu kental. Kegiatan sastra di sini masuk ke sekolah-sekolah, kampus, taman bacaan, dan panti asuhan. Diprakarsai banyak komunitas sastra, seperti Sanggar Sastra Tasik, yang banyak melahirkan penyair.

Salah satu kegiatan sastra yang sudah berlangsung bertahun-tahun ialah mendongeng untuk anak-anak. Ini dilakukan selama Ramadan. Tradisi mendongeng di lingkungan keluarga dan sekolah pada era teknologi modern saat ini kian menyusut.

Padahal, mendongeng sangat penting untuk membentuk karakter anak. “Minimnya kegiatan mendongeng di keluarga dan sekolah, akan menjauhkan masyarakat dari pengetahuan dan karya sastra,” ujar Bode Riswandi, penyair dan penggiat sastra mendongeng. Kegiatan mendongeng sebenarnya bukan hanya dalam bulan Ramadan, melainkan rutin dilaksanakan tiap bulan. Hanya pada Ramadan intensitasnya lebih ditingkatkan.

Hal ini diakui pengurus Sanggar Sastra Tasik (SST), Saeful Badar. Ini untuk memotivasi anak-anak yang berminat dalam dunia dongeng, karena dalam dongeng banyak sekali nilai edukasi yang bisa diambil. “Kepribadian anak-anak masih bisa dibentuk dan mudah dibubuhi hal-hal positif, salah satunya dengan mendongengkan mereka cerita yang baik,” ujar penyair yang hobi memancing ini.

Lain lagi di Garut, kota yang berada di antara Bandung-Tasikmalaya. Meski tidak rutin ada kegiatan sastra, di sini banyak melahirkan sastrawan, penulis, dan penyair. Selain H Usep Romli yang sudah 46 tahun berkarya, ada ke generasi Lilis Nenden, Darpan, hingga lahir generasi Ratna Ayu Budhiarti, Pungkit Wihaya, Liman, Cecep Nurbani, dan seterusnya. Lahirnya generasi baru kepenyairan di Garut membuat geliat sastra di sini mulai tampak, beberapa sanggar pun berdiri. Pada Ramadan lalu, sejumlah kegiatan sastra digelar dalam acara “Salam Ramadhan”, selain pembancaan puisi, juga ada musik dan teater, digelar selama seminggu.

Kawah Sastra Ciwidey

Beralih ke Kabupaten Bandung, penyair muda Rian Ibayana mendirikan Kawah Sastra Ciwidey (KSC). Mesikupun belum lama didirikan, KSC merupakan wadah para penikmat sastra yang ada di daerah di Ciwidey dan sekitarnya, khususnya Kabupaten Bandung Selatan. Awal Agustus ini, KSC menggebrak acara lewat diskusi sastra nasional yang akan digelar pada 9-10 Agustus.

Acara ini mengusung tema “Gerakan Puisi Menolak Korupsi” dengan pembicara Sosiawan Leak dari Semarang. Sebelum diskusi, digelar juga acara Kakaren Lebaran dan Lomba Baca Puisi Tingkat SMA. “Saya ingin anak-anak muda Ciwidey bisa berkarya juga lewat sastra,” ujar Rian Ibayana, penyair yang juga aktif di komunitas sastra Majelis Sastra Bandung.

Di Kawasan Bandung Utara ada Saung Sastra yang dikelola penyair sunda Hadi AKS, kegiatannya tidak hanya diksusi puisi, tetapi juga musik dan teater. Bahkan, prestasi teater sudah tingkat nasional dalam ajang kompetisi atau festival. Di sini antusiasme pelajar lebih terpelihara.

Di Cianjur tentu kegiatan sastra selalu penuh, tidak hanya bulan Ramadhan. Lahirnya penyair asal Cianjur, Faisal Syahreza, juga adanya wadah Dewan Kesenian Cianjur, menambah geliat sastra jadi makin beragam, mulai diskusi hingga lomba baca puisi dan workshop sastra.

Juga di Purwakarta, aktor teater Ayi Kurnia mulai memikirkan kehidupan sastra di kota kelahirannya. Ayi mendirikan Sanggar Sukmararakan. Ia berharap sanggar ini penuh kegiatan seni.

Kehidupan kota-kota di Jawa Barat memang dikepung berbagai komunitas dan kegiatan sastra yang keberadaannya mandiri, tidak berharap uluran tangan pemerintah. Ini sangat baik untuk makin banyaknya kegelisahan positif yang indah. Nantinya, makin tinggi nilai keindahan, makin tinggi pula kemanfaatannya bagi orang lain. Yakinlah, tak ada kegiatan sastra yang tak bermanfaat bagi kemanusiaan.

Lengkapnya klik : http://sinarharapan.co/news/read/140802044/dari-mendongeng-hingga-kawah-sastra

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: