//
you're reading...
BUDAYA

CERAMIC MUSIK FESTIVAL

jaf2

SINAR HARAPAN  NOPEMBER 2012

Bagaimana jadinya jika 1.500 orang terdiri dari anggota polisi, tentara, camat, kepala desa,guru dan siswa SD, SMP, SMA berkumpul di sebuah lapangan, dan secara bersamaan menabuh genteng menjadi sebuah irama dengan distorsi sedang?, maka jadilah pertjunjukan music genteng spektakuler yang indah.
Ya, genteng yang bisanya dijadikan sebagai atap rumah itu, di tangan mereka menjadi harmoniasasi nada yang asyik, dan itu hanya terjadi di daerah Jatiwangi Jawa Barat, Sabtu (3 Nopember 2012) kemarin.
Ide konser music genteng dalam pembukaan Ceramic Musik Festival 2012 ini, berawal ketika seorang pemuda bernama Tedy menginginkan semua masyarakat jatiwangi bisa memainkan alat music secara bersamaan, maka genteng dipilih sebagai medianya. Ini lantaran Jatiwangi dikenal sebagai pengrajin genteng dari tanah liat yang sudah berusia ratusan tahun
Festival ini sendiri akan berlangsung hingga 17 Nopember mendatang, diisi dengan berbagai acara music yang terbuat dari keramik, seperti gitar keramik, sadartana (perkusi dari tanah liat), dan lain-lain. Juga ada seminar music dan workshop. Untuk konser music 1.500 musik genteng ini, sudah habis 9800 genteng sejak latihan selama dua minggu, dan 4000 stik kayu. Menurut rencana aksi konser 1500 genteng ini di daftarkan ke Museum Rrecord Indonesia (MURI).

Jatiwangi Adalah Genteng
Menelisik sedikit tentang Jatiwangi, ia merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Provinsi Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia. Kecamatan ini terkenal unggul dengan produk industri genteng atap rumah berbahan dasar tanah liat. Daerah yang merupakan salah satu produsen industri genteng dari tanah liat tersebut nampaknya memiliki keunggulan lain selain produksi ‘gentengnya’. Mereka membuat alat musik keramik yang terbuat dari tanah liat. Genteng dan Jatiwangi seakan tak bisa dipisahkan, Jatiwangi adalah genteng, genteng adalah Jatiwangi. Keramik olahan tanah liat ini begitu dekat dalam keseharian warganya.
Pada 27 September 2005, berdirilah Jatiwangi art Factory (JaF),sebuah organisasi nirlaba yang fokus terhadap kajian kehidupan lokal pedesaan lewat diplomasi publik, dengan kegiatan seni dan budaya seperti; festival, pertunjukan, seni rupa, musik, video, keramik, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan.
Bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Jatisura, JaF melakukan riset dan penelitian dengan menggunakan keterlibatan kesenian kontemporer yang kolaboratif. Kemudian lahirlah alat musik keramik yang kini dikembangkan, keunikan dan kreatifnya alat musik keramik yang berbahan dasar tanah liat ini telah dikenal oleh wisatawan mancanegara yang kebetulan singgah di Jatiwangi.
Jatiwangi merupakan daerah yang sedang berkembang, sebagian masyarakatnya bekerja di pabrik genteng tanah liat. dan ini menjadikan jatiwangi sebagai kawasan industri genteng terbesar di indonesia. Menurut Teddy, pertemuan musik keramik ini adalah adanya bentuk lain dari tanah jatiwangi, terciptanya karakter tanah jatiwangi yang berbunyi, dan menjadikan musik keramik sebagai budaya baru di jatiwangi.
Pada Ceramic Musik Festival dengan tema “Persta Tanah” ini, sejumlah seniman diundang untuk membuat karya alat musik keramik dan tinggal selama dua minggu di empat desa yang ada di Jatiwangi, masing-masing desa dan berkolaborasi dengan kelompok musik desa dalam menciptakan karya, baik dalam ide atau sebagai pemain dalam pagelaran ini. hasil dari kolaborasi ini kemudian dipresentasikan, berupa pertunjukan musik yang juga sebagai puncak acara yang menutup rangkaian kegiatan pada 17 Nopember nanti.
Tema “Pesta Tanah” memliki harapan mampu mengajak seniman dan berbagai pihak untuk menikmati dan mengenal tanah liat lebih jauh, membuka kemungkinan dari produk keramik berbahan baku tanah liat bakaran rendah. selain itu pesta yang diartikan sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman diantara seniman dari seluruh dunia. kemeriahan dan tanah liat yang diartikan sebagai pesta tanah.
Sejak lahirnya JaF, Jatiwangi kini dikenal bukan hanya sebagai penghasil genteng terbaik, tapi juga dikenal sebagai daerah kreatif dengan alat musik keramiknya. Jaf sendiri mempunyai Program Festival Residensi dua tahunan, Festival Video dan Festival Musik Keramik tahunan yang mengundang seniman dari berbagai disiplin ilmu dan Negara untuk tinggal, berinteraksi, bekerjasama dengan warga desa, merasakan kehidupan Masyarakat Jatiwangi, serta merumuskan dan membuat sesuatu yang kemudian dipresentasikan dan dikabarkan kepada semua orang.
Sebuah upaya yang pasti akan bermanfaat bagi manusia, sebagai upaya menghormati tanah.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: