//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK, UMUM

MASYARAKAT, PEMERINTAH, SENI DAN BUDAYA

Matdon – Rois Am Majelis Sastra Bandung

Dimuat di PIKIRAN RAKYAT, Sabtu 14 Juni 2014

budayaKesenian dan kebudayaan di Indonesia pada umumnya wabil khusus di Jawa Barat, sebenarnya terus hidup dengan sendirinya. Seorang seniman dengan segala upaya terus gelisah dalam berkarya dan kegelisahannya menjadi bekal betapa kesenian tidak pernah akan mati.
Begitupun dengan budaya, selama manusia (rakyat) mau mempertahankannya ia akan tetap hidup. Tentu saja asal jangan budaya korupsi yang hidup. Artinya, ada atau tidak ada pemimpin formal pemerintahan, ada atau tidak ada dana. seni dan budaya akan ada selama manusia hidup.
Artinya pula, kehadiran pemimpin pemerintahan dari orang yang disebut “budayawan” seperti Dedi Nizwar misalnya, tidak berpengaruh besar bagi perkembangan seni dan budaya Jawa Barat, sama dengan kehadiran aktor sebelumnya Dede Yusuf.
Walaupun pemerintah berusaha narekahan dengan berbagai Peraturan Daerah yang isinya merencanakan program pelesatarian seni dan budaya. Itu hanya sebuah benteng rapuh, benteng sebenarnya adalah seniman dan budayawan.
Tengok apa yang dikerjakan para penggiat tari topeng Cirebon, lihatlah kawan-kawan seniman Benjang di Ujungberung, atau mampirlah ke gubug nya Mang Ayi di Subang yang kukuh mengembangkan seni Pantun, Jatnika Nanggamiharja yang masih memelihara dan mengajarkan bela diri pencak silat, Ki Narto yang masih merawat Tarling, sebut apa lagi yang anda suka! saya yakin masih banyak seniman dan budayawan yang hidup dan menghidupi seni budaya dengan tangan dan upaya sendiri tanpa sentuhan bantuan pemerintah dan mereka mampu.
Keberadaan memang pemerintah diperlukan untuk bisa meng-apresiasi jerih payah mereka, bukan sekedar penghargaan secara seremonial tiap tahun di gedung Merdeka. Tapi juga bagaimana pemerintah neuleuman hati mereka. Kalau perlu memahami juga kehidupan mereka. Meskipun (sekali lagi) perhatian pemerintah itu hanya sekedar “hiburan” yang tak pernah membuat seni dan budaya hidup.
Kita faham benar bahwa unsur-unsur kebudayaan terdiri dari kesenian. Kesenian merupakan bagian integral dari kebudayaan. Lalu unsur budaya lainnya ada juga Sistem teknologi dan peralatan yang lahir karena manusia mampu menciptakan barang-barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain. Ada yang disebut unsur sistem organisasi masyarakat, ia ada atas kesadaran manusia bahwa manusia memiliki kelemahan dan kelebihan, maka diririkannya organisasi untuk bersatu.
Unsur budaya lainnya adalah bahasa sebagai alat komunikasi manusia dan banyak lagi unsur lainnya hingga ke sampai pada unsur sistem religi, sebuah keyakinan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta atas kesadarannya bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
Saya setuju apa yang disampaikan Hawe Setiawan bahwa pelestarian seni budaya sangat penting sebagai jati diri sebuah masyarakat. Meski dalam mata pendang pemerintah, kebudayaan selalu dimaknai sebagai kesenian. Pemerintah harus faham bahwa jika ia mau merumuskan kebijakan budaya sebaiknya diperlukan strategi kebudayaan terlebih dahulu.

Pemerintah Selalu Gagal
Saat ini pemerintah berhasil memberikan penghargaan kepada seniman dan budayawan dalam bentuk apresiasi sesaat, tapi gagal melindungi mereka dari keadaan yang sebenarnya. Contoh paling konkrit ketika dua tahun lalu Gubernur Jabar memberi penghargaan kepada Mang Hasan sebagai maestro penabuh kendang, ia diberi penghargaan dengan uang dan secarik kertas. Setelah itu, kehidupan Mang Hasan meprihatinkan, ia menjadi tukang sapu jalanan di sekitar Kosambi Bandung.
Bahwa penghargaan terhadap seniman dan budayawan perlu, iya. Tapi penghargaan sebenarnya bukan sekedar memberi uang. Ada yang lebih penting dari itu.
Tolak ukur keberhasilan sebuah pemerintah bisa diukur misalnya dari segi apakah berbagai harapan mayarakat baik secara kultural, ekonomi dan politik sudah terpenuhi atau belum. Idealitas-idealitas yang diinginkan masyarakat minimal mendekati terpenuhi, misalnya soal budaya lalu lintas, budaya lapangan kerja (ekonomi), budaya kesenian, budaya memberi perhatian kepada meraka yang berjasa pada bidangnya, dll.
Ukuran ini bagi masyarakat sangat penting, dalam upaya mengukur dirinya pada aspek mana masyarakat bisa berperan serta untuk membangun dirinya dan membangun lemah cai nya. Kita sendiri sekarang tidak tahu apakah aspek pelayanan terhadap masyarakat (umum) sudah terpenuhi atau belum, dan dari aspek pembangunan apakah aspek pelayanan terhadap publik sudah optimal atau belum.
Sesungguhnya pemerintahan yang baik adalah yang faham ciri-ciri pasti ruh kultural warganya, jika hal ini diabaikan maka tunggulah saat-saat kehancuran. Kaum birokrat baik legislatif maupun eksekutif harus memahami betul ruh kultural, kalau tidak maka daerah yang dikuasai hanya akan menjadi kelinci percobaan dan hanya akan menjadi lahan bagi kepentingan pribadi atau kelompok.
Kembali ke soal budaya, betul semua unsur kebudayaan yang saya sebutkan diatas berpotensi mengalami perubahan, khusunya unsur teknologi dan ekonomi. Tapi ada yang tak berubah, ialah akal dan nalar manusia untuk mempertahankan tradisi, adat istiadat, dan keyakinan agama.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: