//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK, UMUM

MEI, BULAN REFORMASI DAN PUISI

Matdon ~ Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

sumber REPUBLIKA Rabu 21 Mei 2014

wijiMei adalah bulan gerakan reformasi, sebuah gerakan sporadis tak berujung. Gerakan mahasiswa itu telah menjelma sepi, menjelma korupsi, menjelma partai politik, menjelma kengerian yang entah apa namanya, bersama itu pula reformasi itu tak menjelma. Sastra sebagai bagian yang tak terpisahkan dari reformasi juga tak bisa diabaikan dari sejarah kelam itu.
Adalah Wiji Thukul, seeorang pemuda yang terkenal dengan puisi-puisi pamfletnya, dipekirakan hilang di bulan antara Maret, April atau Mei 1998. Ketika Kopassus mencari Wiji dan bertanya pada Nezar Patria, salah satu temannya, Nezar yakin Wiji Tukhul sudah ditangkap.mungkin dihabisi.

Orang-orang baru sadar dan tersentak, bahwa Wiji telah raib begitu Soeharto tak lagi berkuasa. Dam itu disadarai oleh Jaap Erkelen peneliti Belanda dan kawan akrab Wiji. Keluarga Wiji lalu secara resmi melapor ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), dan hingga hari ini nama Wiji Thukul lenyap, tapi usia puisinya sangat panjang dan masih tetap hidup.
Pada Siaran Pers Kontars tanggal 3 April 2000 yang ditandatangani Kordintaos Kontas Munarman, SH, disebutkan, Pada tanggal 24 Maret 2000 Kontras telah menerima laporan dari keluarga korban Wiji Thukul atau hilangnya aktivis sekaligus penyair Wiji Thukul. Hilangnya Wiji Thukul pada sekitar Maret 1998, diduga kuat berkaitan dengan aktivitas yang dilakukkan oleh yang bersangkutan. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan ole rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru.
Wiji Thukul lahir tanggal 23 Agustus 1963 di Solo, sejak sejak SMP sudah aktif di Sanggar Teater Jagat. Lulus dari SMP, Thukul melanjutkan studi di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia ) meski hanya sampai kelas II. Disamping aktif berteater, Thukul juga menuli puisi. Puisinya dibacakan dimana-mana dan dimuat di berbagai media.
Dia mulai membaca puisi bukan hanya digedung-gedung kesenian atau kampus, namun juga di bis kota , kampung bahkan di aksi-aksi massa. Puisinya yang tetrkenal antara lain “Peringatan”:
……….
Bila rakyat berani mengeluh 

Itu artinya sudah gawat 

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah
 Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)

Wiji Thukul pernah mendirikan “Sanggar Suka Banjir”, melalui sanggar ini Wiji dan kawan kawan mengkspresikan problem-problem rakyat, melawan ketidakadilan dan penindasan. Dan akhirnya Wiji Thukul merasakn bagaiman tindakan refresif dari penguasa ketika ia memprotes pencemaran pabrik tekstil PT. Sari Warna Asli. Dalam aksi ini Thukul sempat ditangkap dan dijemur oleh aparat Polresta Surakarta.
Untuk selanjutnya Wiji Thukul bergabung dengan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang aktif dalam aksi-aksi buruh. Dalam aktivitas inipun Thukul tak luput dari represi aparat. Dalam aksi buruh PT. Sritex bulan Desember 1995, Tukul dianiaya oleh aparat hinga salah satu matanya cidera hampir buta.
Tak Pernah Hilang
Wiji Thukul manusia biasa, tapi ia telah berjuang dengan kata-kata, ia tak bisa berjuang dengan senjata. Kata-kata nya adalah senjatanya. Kata-kata telah menjelma menjadi senjata yang siap menghancurkan segala ketidak adilan. Dan penguasa saat itu sangat takut dengan kata-kata.
Puisi adalah kata-kata penyair, ia menjelma bak “hadits palsu” yang bisa dijadikan peringatan, perenungan, fatwa atau perlawanan. Karena puisi selalu lahir dari kebersihan hati, kelembutan dan kegelisahan. Sementara kegelisahan dimiliki oleh Nabi dan Penyair. Seorang Nabi Ibrahim gelisah mencari Tuhan ditengah kekuatan penguasa, itu artinya di dalam diri nabi Ibrahim ada jiwa kepenyairan.
Kata-kata Wiji Thukul adalah kegelisahan seorang penyair dalam mencari keadilan, ia begitu kuat dan bermakna, seperti puisinya yang berjudul “Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa”:
aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa
puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa
Bulan Mei adalah bulan gerakan reformasi, sebuah gerakan yang menjelma puisi, dan puisi tak pernah mati, tak bisa diculik oleh kekuatan apapun. Cag!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: