//
you're reading...
BUDAYA

Matdon dan Puisi yang Tersedak

Oleh Bunyamin Fasya

benif I read and it makes my whole body so cold no fire can ever warm me, I know that it is poetry. If I feel phisically as if the top of my head were taken off, I know that it is poetry
(Emily Dickinson)

Pembuka
Sebelum lebih lanjut membicarakan perbincangan kita mengenai diskusi ini, minta izin terlebih dahulu saya mau membahas nama yang tertera di judul makalah pendek ini. Mendengar nama Matdon, saya selalu ingat dengan nama-nama mafioso Italia atau Spanyol seperti Don Juan, Don Corleon, Don Bosco, dan sebagainya. ‘Don’ pada tradisi di atas bisa berarti ‘para penakluk’ (objeknya bisa kekuasan atau perempuan).
Namun berbeda dengan yang di Bandung, yakni Matdon. Memang ada kesamaan sedikit ketika kita mendengar bunyi puitik (poetic voice) dari nama-nama tersebut yaitu ‘don’. Jika di atas kata ‘Don’-nya di depan, yang ini ‘Don’-nya di belakang. Matdon yang saya kenal adalah nama seorang penyair sekaligus wartawan, juga penggiat sastra yang militan di Bandung. Nama Matdon jika dilihat dari sisi strukturnya merupakan gerak bahasa yang singkat dan padat; tidak ada pengulangan pun kepanjangannya.
Jika kita lihat pada titik profesi yang dilakoni oleh Matdon, sebagai seorang wartawan dan penyair ia memosisikan dirinya pada profesi yang dilakoni itu. Sebagai wartawan, Matdon selalu mewartakan setiap peristiwa yang terjadi di lingkungannya tentu dengan gaya pewartaan yang khas. Sementara pada sisi kepenyairannya (sebagaimana penyair pada umumnya) olah peristiwa yang dialami akan ditanam, dan dipanen setelah melakukan refleksi, renungan, kritikkan dari hasil pasca-tinjau atas apa yang sudah melingkupi ruang batinnya. Maka jadilah karya puisi.
Berkaitan dengan pemuka ini, kenapa saya membahas terlebih dahulu kedudukan Matdon pada profesinya? Hal ini yang menjadi titik temu saya ketika membaca puisi-puisi Matdon.

Tersedak Hingga Sekarat

Membaca kumpulan puisi ‘Sakarotul Cinta’ karya Matdon, bagi saya, adalah serangkaian kumpulan puisi yang membawa kita pada ruang realitas yang sesungguhnya. Terdiri dari 53 puisi yang ditulis hampir pada tahun 2000-an, namun terselip satu judul puisi ‘Untuk Negeriku’ (mungkin satu-satunya puisi yang paling purba dalam antologi ini) ditulis tahun 1985. ‘Sakarotun’ dalam bahasa Arab berasal dari kata sakara yang berarti penderitaan, mabuk, gula, dsb. ‘Sakarotun’ biasanya disandingkan dengan kata ‘maut’ menjadi sakaratul maut (detik-detik kematian), di sini Matdon menyandingkannya dengan kata ‘Cinta’, dari situ kita bisa melihat bahwa cinta sedang sekarat juga rupanya.
Jika dikategorikan puisi-puisi pada antologi ini, saya menyebutnya puisi berkelamin ‘sosial’ yang direkayasa dengan berbagai bentuk, namun tepatnya saya katakan puisi-puisinya menjadi pamflet yang hambar. Matdon tengah menyuguhkan tema-tema sosial yang beragam; tentang keadaan dunia sosial kita hari ini, memotret peristiwa yang terjadi di masa lampau, sekarang, juga memotret realitas ke depan. Kelamin sosial menjadi semacam identitas perjalanan kepenyairan Matdon. Di sini Matdon terus menerus bertawaf mengelilingi setiap sudut remang-remang realitas, yang memang ranah sosial merupakan ranah yang paling mudah untuk dijadikan objek dalam tema besar puisi kita hari ini karena biasanya yang terjadi, dari hasil sebuah karya puisi, kita hanya menemukan pemotretan dan pengkritikan terhadap objek yang ditawafinya itu. Dan biasanya dalam konteks ini, ruang ‘bahasa’ puisi terkadang kurang diperhatikan yang penting ekspresi pemotretannya tersampaikan.

Dalam puisi Matdon yang purba kita bisa melihat:

Lalu apalagi yang harus kuberikan kepadamu
Selain kental merah darahku?
Haruskah kuuntai lagi cerita umar bin khotob
Dalam rangkaian kata-kata yang lebih indah
Atau kususun lagi tulang belulang khalid bin walid?
Agar kau yakin
Bahwa aku mencintaimu?

(Untuk Negeriku, 1985)

Bagi saya, puisi ini adalah puisi pesimistis, ditulis dengan sangat sederhana. Matdon hanya menawarkan pelukisan suasana tentang negerinya, lalu memberikan ruang imajinatif tentang kisah umar dan khalid bin walid, untuk memberikan semacam penawaran nilai bahwa kisah-kisah itu bisa dijadikan rujukan untuk negeri ini. Sementara ruang bahasa tidak diolah dengan baik, saya sebagai pembaca tidak diajak bermain pada ruang bahasa yang spekulatif atau bahasa-bahasa baru. Di sini Matdon hanya mengandalkan pada permainan suasana. Dia sedang memotret negerinya dengan keluguan dan kepolosannya.
Pada puisi yang lain bisa dilihat juga:

Yanto murid kelas dua sekolah dasar
Menulis puisi, hobi sehari-hari
“aku punya guru cantik sekali, namanya bu susan
Di paha bu susan ada gambar bunga-bunga mawar
Gambar itu namanya tato.
Seluruh siswa sd di sekolahku menyukainya, karena ia tidak
galak, walapun suka memberi pr yang sulit,”
satu bait puisi di lembar buku yanto mengalir deras.

Jika membaca puisi ini kita bisa tertawa, Matdon mengolah puisi ini dengan gaya jenaka. Mengisahkan Yanto anak SD kelas 2 yang gemar menulis puisi. Pada suatu ketika Yanto menulis gurunya yang cantik dan mempunyai tato bunga di pahanya. Sebagaimana puisi di atas, puisi ini juga ditulis dengan sederhana pula, satir, prosaik dan bernada humor. Namun ada logika ‘peristiwa’ bahasa yang dipaksakan. Kita bayangkan saja siswa sd kelas 2 sudah mampu menulis sajak dengan nakal. Mengenali tato gurunya dengan baik dengan imajinasi yang cukup tinggi. Bahasa yang digunakan oleh Yanto, sudah memakai bahasa ‘dewasa’. “Ah dasar…Matdon!”
Puisi yang ketiga, mari kita lihat puisi andalannya, ‘sakarotul cinta’:

Jika gubernur tak memahami arti seni
Dan wakilnya hanya mengandalkan akting melulu
Itulah sakarotul cinta

Jika sby curhat terus menerus memanjakan jabatan
Dan menteri-menteri tak berarti
Itulah sakarotul cinta

………

Jika pedagang kaki lima digusur tanpa diberi solusi
Para pelacur dikejar tanpa dikasih makna
Anggota satpol pp nilep uang
Dan anggota dewan keluyuran di tempat hiburan
Itulah sakarotul cinta

Itulah sakarotul cinta

(sakarotul cinta, 2010)

Puisi pamflet saya menyebutnya untuk puisi ini. Peristiwa kumplit; memotret jejak kelam negeri ini. Dari sby, gubernur, anggota dewan, petani, pelacur, media, dan kaki lima diolah dan menjadi objek puisi dalam puisi ini. Ini mungkin yang dimaksud ‘sakaratun’ cinta bagi Matdon. Cinta sudah kehilangan energitasnya. Cinta yang seharusnya menjadi penyeimbang realitas ini sudah tidak bisa diandalkan lagi, sudah kehilangan makna besarnya. Saya setuju jika cinta adalah menjadi ruang sinergitas realitas yang menjadikan dunia ini ada pada posisi nyaman, toto tentram kerta raharjo. Sebagaima Rumi pernah bilang, hidup adalah sekolah cinta dan satu-satunya yang harus dipelajari dalam hidup adalah cinta.
Jika puisi ini ditarik pada wilayah kreatifnya, pilihan diksi yang dikembangkan Matdon tidak ada yang luar biasa, bahkan biasa saja. Namun terkadang membawa imajinatif ekspresif jika kita lihat pada struktur peristiwa yang dimainkan Matdon. Pembaca dibawa pada ruang remang-remang, lalu seolah-olah dipaksakan untuk berteriak menyikapi peristiwa itu. Itulah ciri khas pada puisi-puisi pamflet memang.
Dari beberapa pembacaan puisi yang sederhana di atas, saya melihat bahwa ada dualitas kepenulisan Matdon di sana. Peristiwa-peristiwa yang disajikan Matdon selalu berbentuk warta, sebagaimana dirinya seorang wartawan. Sebagai wartawan, tentu jika ada peristiwa-peristiwa yang menarik harus menjadi warta yang harus disampaikan secepatnya. Menjadi bagian headline news, dikejar deadline, ditulis apa adanya dengan gaya berita sebagaimana hasil pasca-tinjau yang dilihatnya. Karena Matdon adalah seorang penyair juga maka Matdon menulisnya dengan gaya puisi; berbait-bait, dan tentu penuh imajinatif.
Saya tidak mempersoalkan tentang dualitas profesinya tersebut, namun pada akhirnya kesan yang ditimbulkan dari puisi-puisi berkelamin sosial ini saya menemukan efek ketergesa-gesaan, tersedak, lalu yang terjadi efek puisinya menjadi biasa. Karena tergesa, karena tersedak, karena jatuh deadline, puisi menjadi kehilangan kekuatan bahasanya dan sebagai penyair fondasi bahasa ini tetap harus menjadi kekuatan sebagai energi dari puisi-puisinya.

Metafora Erotik

Jika di atas saya membaca lebih pada tematik sosial, yang sedang Anda baca sekarang saya melihatnya dari tema yang lain, ada tema besar juga yang dimiliki Matdon dalam antologi Sakarotul Cinta ini yaitu cinta. Dalam puisi-puisi cinta ini, Matdon terasa lebih sadar dengan bahasa, puisinya diolah dengan lumayan apik. Namun tetap dengan satu kekuatan fondasi bahasa, Matdon lebih memilih ruang erotika tubuh perempuan sebagai kekuatan metaforiknya. Metaforik itu diolah Matdon sebagaimana dirinya yang polos dan plontos, tubuh perempuan atau perangkat yang dipakai perempuan disajikan Matdon dengan vulgar.
Kita baca saja puisi yang berjudul “Serpih Malam”:

Fahamkah kau puisi yang kutulis di dua payu daramu:
Puisi cinta acep zamzam noor
Kupikir maknanya menembus jantungmu
Berdetak di putingnya yang coklat
Setarikan napas kau tinggalkan keringat

(2008)

Membaca puisi ini saya tiba-tiba berlabuh pada ruang 3×4 meter, ruangan itu bernama ruangan tato. Si aku tengah mentato payudara lawannya dengan bait puisi cinta Acep Zamzam Noor. Kenapa ruang tato? Pada kalimat, kupikir maknanya menembus jantungmu, saya membayangkan bahwa jarum yang sedang menulis bait puisi itu yang bisa menembus jantungnya. Tentu! jarum tato pasti harus bertemu kulit sebagai media gambarnya. Matdon di sini menggunakan sebagaimana yang saya katakan sebagai metaforik erotik, dia memilih diksi payudara, lalu puting. Meski saya terganggu dengan kalimat ke-4 dengan partikel ‘nya’, berdetak di putingnya yang coklat, seolah-olah disini ada tubuh yang lain ketika pada bait ke-1 dan ke-3 memakai partikel ‘mu’.
Pada puisi yang serupa bisa dilihat juga:

Pada keheningan tubuh selvy aku menemukan sajak bode
riswandi
dan aku membacanya berulang-ulang hingga lunglai
tanda cintaku berserakan di tengkuk, leher, dan payudara:
birahi memang tak perlu diksi

pada helai rambut Aisyah kudapati kelembutan sajak lainnya
kuhampiri dan kutelusuri, aku masuk ke hutan fikiran
dimana kau beli sampo semahal ini?, harum dan memabukkan
lamunan
sekali sibak rambutmu mengeluarkan ular berbisa, desisnya
menjelma sperma

ayo kita telusuri pelajaran sajak bukan pada pertemuan sastra
atau diskusi
ayo fahami pantat leni, ida, shinta, mia, susan dan bacalah
kepedihan mereka
bacalah busung dada tersumbat
saat mereka mencari alamat cinta yang sebenarnya
mereka butuh jemari kasih sayang, kejujuran dan kejernihan
metafora sajak sajak

ya, berabad abad lamanya pada setiap aroma perempuan
aku menemukan banyak napas penyair

(Pelajaran Sajak, 2011)

Sama halnya dengan “Serpih Malam”, metafora erotik cukup kental di sini. Ada selvy, aisyah, leni, ida, shinta, mia, susan, bode riswandi, pantat, rambut, dada, tengkuk, leher, sperma, birahi, dan penyair, menjadi andalan di puisi ini. Diolah dengan kekuatan paradoks yang kental, pelajaran sastra tidak mesti pada peristiwa formal namun hadir juga pada ruang tubuh perempuan.
Pilihan diksi tersebut cukup eksploratif dengan gaya ucap Matdon yang khas, menyindir ala penyair dengan tetap mempertahankan gaya tulisannya yang pamflet. Metafora erotik ini, lagi-lagi saya melihat Matdon sebagai wartawan, Matdon menulisnya cukup lengkap. Namun secara keseluruhan dalam antologi Sakarotul Cinta ini, metafora erotik yang dikembangkan Matdon tidak menjadi efek yang hot. Melainkan terkesan hanya pengulangan-pengulangan dari setiap puisi yang ditulisnya. Hanya beritanya saja yang berbeda.

Pemunah
Puisi tak ubahnya serangkaian bahasa yang harus diolah secara fasih oleh penyair untuk memberikan efek yang luwes baik dari fondasi bahasa maupun isi. Sebagaimana Iqbal (1985) menulis:

Jika kebenaran
Tak punya semangat berkobar
Itulah filsafat yang datar
Jika ia punya nyala api
Itulah puisi

Dengan demikian jelas sekali dengan apa yang dikatan Iqbal, bahwa puisi haruslah mengedepankan kebenaran dengan semangat kobaran karena puisi ketika ditulis harus jelas efek etika dan estetikanya. Puisi harus mempunyai tujuan, untuk apa ditulis? Tidak sekedar mengandalkan pemotretan yang dilakukan tukang potret keliling. Di samping puisi harus mempunyai nyala api, karena jika puisi ditulis dengan segala kesungguhan, kejujuran, dan keindahan maka ia akan memancarkan puisinya itu sendiri. Saya percaya, Matdon sudah melakukan itu, atau mungkin sudah melampaui itu…swear dekh!
Terakhir. Saya masih tetap setia duduk di kursi kerja. Membaca terus kumpulan puisi “Sakarotul Cinta”. Ada ruang yang berbatas dalam membaca. Dari setiap kaca yang kubaca hanya satu yang berbekas. Bibirmu Laut:

Aku ingin menciummu
Tiga kali sehari
Biar dahagaku sirna

Tapi bibirmu laut…

(2004)

makalah ini dsampaikan pada diskusi tahun 2012 di Unswagati Cirebon

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: