//
you're reading...
BUDAYA, PUISI

PUISI

sumber Pikiran Rakyat, Minggu 9 Pebruari 2014

PURNAMA DI MUARA TEWEH

merebahkan masa lalu pada sinar rembulan
wajahmu hadir di moleknya sungai barito

aku kembali menghitung jarak ranjang kita
kau merajah tubuhku menjelma muara
aku bergegas mencari bibirmu
dan melumatnya dalam gigil

penderitaan dan bahagia sama saja

sungai ini mengalir di hatimu
tidak tergesa gesa agar tak kehilangan makna

agar tak kehilangan cahaya

menetes
menetes

muara teweh Kalteng 26 maret 2013

PUCUK KENANGAN

jalan terjal tujuh kilometer dari danau sipin
namamu diseret angin pucuk malam.

pada kelokan ke sekian kita sempat berhenti
sekedar reureuh dari hiruk pikuk sajak
dan saling mereguk sungai batanghari.
sungai sunyi, sesunyi seloko

senyummu menusuk jantung menikam pagi
lalu aku harus beringsut
setelah satu kecupan kau pagut

lambaian tangan tak cukup membeli kenangan
bisikmu

baiklah, besok kan kupinjam
pintu ajaib dora emon. kan kubawa engkau
menjauh dari muara jambi

jambi-bandung 2012/2013

KEHILANGAN SUARA BEDUG

aku kehilangan suara bedug subuh sampai isya
yang dulu tabuhanya memberi kehangatan menyaksikan kawan-kawan menjinjing safinah menuju tajug yang melintasi kolam kecil.

nampak lumut diseruput impun, akar pohon menjulur dibawahnya. gadis-gadis membasuh betis, keringat di leher yang bening, bunga yang jatuh dari tangkainya, angin yang membelai dan sholawat berserakan, lengket di kerongkongan

aku kehilangan suara bedug

bandung -2012

Puisi Karya Muhammad Irdiyanysah (Jambi)
SURAT KEPADA MATDON
Aku berkata pada puntung rokok,
Kapan aku akan berhembus seperti asapmu
Sedang gumanku tak berujung pada maut-maut juga
Dan kau telah jadi orang
Aku tidak
Seikitpun
2007
(Dimuat dlm Buku Bersama Gerimis)

Puisi Karya Rezky Darojatus Solihin
TENTANG SEORANG BAPAK DAN AKU
YANG MENASBIHKAN DIRI SEBAGAI SEPI
Untuk Kyai Matdon
“hidup akan berakhir tapi tidak dengan kehidupan”
Begitulah ucap seorang bapak
di sepanjang jalan
kesepian menyiksa tubuh malam
dan kesepian itu adalah dia
adalah aku
adalah subuh sebelum pagi datang
“rentangkanlah sayapmu”
Pesannya lewat sebuah lagu
Di dalam video
Aku
Dia
Juga ingatan yang telah berlalu
Menemukan potongan-potongan tubuh
Yang tercecer
Video berubah menjadi monumen
Menjadi saksi
Bahwa waktu adalah jarak antara hari ini dan kemarin.
Dan hari ini ada
Bukan untuk meniadakan hari kemarin
Tapi menjadi bagian tepatnya
###
di sebuah puisi
seorang bapak meneriakan nama-nama anaknya
diantara suara tongeret dan sepi
tapi sepi adalah dia
adalah aku
adalah subuh sebelum pagi datang
2012
Puisi Karya Arom Hidayat
KALAKAY GANITRI
:Kyai Matdon
saha nu wasa ngabadé?
Muntiris peuting urang nya dibaca
ngan ku simpé. Padahal boa
dina sela-sela
unggal wangkongan
hujan geus lantip ngalangkang. Nyelap
dina rindat maranéhna
bari anteng ngakat potrét jeung kotrétna
nu raket muntang kana témbok di rohang heureut.
Lir ngawawaas pulas anyar
ku kapaur. Sedeng seungit dayeuh
kalah nyeuitkeun peurih nu maneuh
jadi hariring nu lawas manting
meulit ringkang, satengahing liuh
langit peuting.

Tamansari, 2012
(dimuat di Manglé. No. 2423)

puisi-puisi Matdon

MABUK
mencarisenyummu
di segelasmargaretha;
tak kutemukan

2006
(daribukuMatdon “kepadapenyairanjing”/2008)

TUTUG ONCOM

pada setiap butir cikur yang kugerus di atas coet
kugerus pula namamu yang kerap meruang dalam aroma minyak goreng
bawang putih membaur menjadi mantera-mantera lazim
seperti do’a malaikat sebelum sujud atau ruku
lembar demi lembar daun surawung menggetarkan berjuta kasmaran
kusembunyikan kata kata cinta disana
agar kau merasakan ciuman dasyat;meski sepi dan agak ringkih
usai kufahami semua adonan asmara
kau masih saja terpaku di simpang keraguan
hingga harus kulumuri garam agar tubuhmu lembut
dan segera memeluk hasratku

lelah kubakar pula oncom di atas bara birahi mutmainnah
dengan segala kesabaran musa membakar berhala, berlari menjauhi fir’aun
disitu hanya tinggal namamu melesak ke langit
menembus jantung dan memporakporandakan impian
hidangan ini khusus untukmu
dan setelah lahap kau santap
kau boleh mencuci mulut di bibirku
akan kupungut remah-remah yang tersisa di lidahmu
yakinlah,,,bandung, sep 20 11

NASYID SEPI

kekasih,
tengoklah lukaku yang mengaliri pori pori darah
udara pengap siang hari memabukkan pikiran
sumpek dicumbu cahaya matahari
tulang belulangku berserakan linu dan sunyi
aku ditelikung sepi
kekasih
usapkan tangan lembutmu di keningku
biarkan aku memeluk (bayangmu) saja
karena hanya engkau yang mampu meredam amarahaku
pada setiap aroma pengkhianatan

bandung
sinar harapan, sabtu,9 oktober 2011

HUJAN

angin tertidur di daun mahoni, mendekap mimpi
tak ada burung atau suara jengkrik,tonggeret
sudah lama pergi
; sekarang musim hujan
tiba tiba pohon flamboyan mengerang dan
roboh. ranting ranting berlari menjauh,angin
makin mesra mendekap mahoni tua
yang terus menggigil dan ketakutan

pagi hari, mahoni sudah mati disamping flamboyan
;angin entah kemana pergi

Kebun Seni Bandung, 2011

PLATONIK

tuhan berserakan di facebook
dan orang-orang merayunya
dan orang-orang mencumbunya

bandung, 2010
(buku puisi SAKAROTUL CINTA)

TONGGERET

tonggeret masih nyaring terdengar
di senja belukar kota. tiba-tiba hujan
merebut makna dan geliknya ditikam
angin, musim makin tak menentu di
kotaku. matahari menggigil, kusam.

oh jhon, romyan, deri
kalian dimana?. aku kesepian menatap Friedrich Wilhelm Nietzsche
memikirkan bayangan masa depan dan
300 buku puisi yang juga menggigil, kusam.
tiga gelas kopi dan 7 batang rokok
tak mampu merapihkan napasku.
tonggeret berhenti bersuara, tinggal
genangan air dan daun mahoni berserakan
cepatlah kalian datang. sebelum malam tua.
bersemedilah di sini, di paraduan do,a
yang jarang kita lapalkan, setelah atau sebelum hujan
suatu hari nanti, kita adalah suara tonggeret
yang akan kerap terdengar, saat datang
atau pergi

bandung, 16 mei 2012

LUKA MALAM

orang-orang mereguk tawa di kafe dangdut
mencari alamat kebahagiaan di seteguk bir
kau meneguk cahaya malam.
seorang pria tua membaringkan botol vodka
pada tubuh penyanyi dangdut
kau membaringkan waktu di tumpukan luka dan serpihan malam
yang mengubur air matamu;
orang-orang berdo’a untuk hidup

kau berdo’a demi kematianmu sendiri

purwakarta, juli 2012
khazanah pikiran rakyat, minggu 9 september 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: