//
you're reading...
POLITIK

MENAKAR NIAT CALEG

Matdon – Rois Am Majelis Sastra Bandung

1Sulit sebenarnya mengetahui niat seseorang menjadi Calon Legislatif (Caleg) apalagi menakarnya, karena semua mengusung atas nama kebaikan rakyat dan hati nurani. Tapi ketang kita bisa dengan mudah menebak sekaligus menilai niat itu, dalam takaran obyektif maupun subyektif.
Coba tengok, di Lumajang Jawa Timur ada Caleg yang “rela” mencuri handphone dan uang di sebuah Pondok Pesantren, di Tuban ada caleg yang menjadi otak perampokan nasabah bank antar kota namun berhasil dibekuk Satreskrim Polres Tuban. Keduanya berdalih uang itu hasil mencuri dan merampok untuk sosialisasi atau kampanye.
Jelas dari contoh diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa niat jadi caleg tidak baik, sangat tidak baik. Obyektif kan?
Lihat pula beberapa perilaku caleg yang mencoba “merapihkan” niat dengan cara membantu korban bencana. Ada yang cerdas dan inovatif, memberi bantuan berupa bungkusan biskuit ditempel stiker foto caleg dengan tulisan “Bantuan ini diperjuangkan dan diusahakan oleh Dra Wirianingsih, M.Si Anggota DPR RI Komisi IX Fraksi PKS Periode 2009-2014. Caleg DPR RI Dapil DKI 3. Cerdas-Ramah-Peduli”
Belum yang membantu terjun langsung ke lokasi bencana dengan memakai atribut lengkap partai politik dan foto-foto di lokasi bencana. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa mereka peduli terhadap penderitaan rakyat. Hohooooo….
Sampai disitu, apakah anda sudah bisa menilai niat caleg tersebut?, Baiklah saya tambahkan lagi kasus yang sering terjadi di masyarakat: ada caleg datang ke pengajian atau majelis taklim membantu memberi sajadah, Quran dan perangkat lainnya. Dan itu dilakukan ketika si caleg belum pernah sebelumnya ikut pengajian. Rupanya ia sedang bersembunyi dibalik “Hidayah” Allah. Samarukna Gusti Allah bisa dibohongi. Dan biasanya setelah ia terpilih, ia tidak lagi ngaji karena kesibukannya.
****
Dari sejumlah kisah nyata tadi, saya kira bisa diambil pernyataan miris bahwa betapa hinanya para caleg yang memperalat hawa napsunya demi jabatan dan betapa teganya dia memanfaatkan masyarakat untuk dibohongi, seolah-olah bohong menjadi fardu ain bagi seorang caleg atau politisi.
Sesungguhnya masyarakat merupakan Kawah Candradimuka bagi seorang caleg terlebih jika dibenturkan dengan keikhlasan berpolitik. Masyarakat merupakan ladang amal yang harus dimanfaatkan tidak hanya ketika seseorang menjadi caleg, karena untuk beramal tidak harus jadi caleg. Para caleg tak menyadari kawah candradimuka itu sesekali akan merobek niat busuknya ke dalam strata sosial paling rendah, ialah koruptor.
Sebab niat yang busuk sejak awal selalu melahirkan kebusukan-kebusukan selanjutnya termasuk korupsi.
Seorang Caleg tidak lahir dari niat dan keinginan sendiri dan partai politik tapi harus berawal dari masyarakat, partai hanyalah kendaraan. Tentu saja koar-koar melalui spanduk dan poster tidak cukup membuktikan niat itu, karena ternyata spanduk/poster semakin menjadi sampah visual bagi keindahan kota. Kadang mereka memasang nya tanpa aturan, memasang panduk/poster di Pohon dengan cara dipaku, di depan sekolah/kampus, bahkan di dinding mesjid atau di kaca jendela rumah tanpa izin.
Pertanyaan terus berlanjut, apakah di Pilag 2014 ini ada caleg yang benar benar ikhlas? dan jika sudah menjadi anggota dewan yang terhormat siap melayani kepentingan rakyat mengalahkan kepentingan pribadi.
Saya hanya ingin mengingatkan untuk para Caleg yang niatnya busuk untuk segera memperbaiki diri dengan cara mundur dari pencalonan, dan bagi mereka yang memiliki niat baik, ingat enam hal yang wajib dimiliki.
Pertama seorang caleg harus cerdas, tidak hanya cerdas otak tapi cerdas hati memahami kemauan rakyat, kedua harus memiliki sifat menyayangi rakyat, tidak membodohi. Ke tiga harus sabar untuk tidak korupsi (membantu bencana dengan atribut, memasang poster sembarangan adalah salah satu bentuk korupsi hati). Ke empat harus mempunyai harta halal yang cukup untuk membantu masayarakat. Ke lima harus mau dikritik dan keenam harus mempunyai pengalaman berpolitik di masyarakat.
Pengalaman berpolitik di masyarakat yang saya maksud ialah mempunyai jejak rekam yang baik.
Wallahu A’lam

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: