//
you're reading...
POLITIK

MUSIM “GILA” TIBA

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

cSaparantos 9 April mah numutkeun etangan nu ebel teh bakal nambihan..
Tos katawis ti ayeuna gejalana mah


Kalimat itu ditulis seorang dalang muda Opick A Sunandar Sunarya dalam status Facebooknya, maknanya kurang lebih begini “Setelah Tanggal 9 April Pemilu nanti, menurut perhitungan, orang gila akan bertambah, bahkan sejak sekarang gejala itu sudah nampak.
Kalimat tadi membuat saya tersenyum lalu mencoba mencari fakta dari berbagai berita, kembali menerawang peristiwa Pemilu 2009 lalu. Dan betapa banyak orang gila (stress) karena gagal duduk di parlemen.
Tak perlu saya sebutkan satu persatu kasusnya, anda bisa cari di tuan google. Orang gila bertebaran disan sini karena pencalonannya untuk menjadi anggota dewan gagal, tentu saja orang yang stress ini adalah caleg yang sudah banyak mengeluarkan dana untuk kampanye. Akan berbeda dengan Caleg dlu’afa alias caleg miskin.
Maka tak heran pada waktu itu sejumlah rumah sakit jiwa dan umum di Indonesia banyak menampung orang gila gagal nyaleg. Dan untuk pemilu 2014 ini konon rumah sakit-rumah sakit sudah siap menampung dan mengobati caleg yang stres akibat gagal.
Bahkan dii di salah satu ruang khusus di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto konon tersedia ruangan khusus bagi para caleg. Pihak rumah sakit menamakan ruangan khusus caleg stres itu dengan nama ruang “Isolagi Internes”. Sebab, ruangan ini khusus untuk mereka yang mengalami tekanan batin karena nyaleg. Bahkan ruang paviliun juga telah disiapkan khusus untuk para caleg yang tak kuat menahan tekanan batin.
Saya yakin, caleg yang memiliki tujuan ikut bursa pemilihan anggota legislatif karena murni ingin menjadi wakil rakyat di parlemen, maka akan memiliki kesiapan mental yang lebih dalam menghadapi berbagai risiko. Berbeda dengan Caleg yang hanya ingin jabatan, kekuasaan, mencari pekerjaan dan legeg, ia harus siap-siap menjadi stres dan mengalami depresi.
Disinilah perlunya seorang caleg memiliki kesiapan mental dan biaya, dan biaya tertinggi seorang caleg ialah mental. Ia juga harus bisa mengukur kemampuan pribadinya. Terlalu percaya diri tanpa mengukur kemampuan diri dan tidak mau terbuka atau menerima kritikan, maka caleg jenis ini memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menjadi stres jika nanti tidak terpilih.
Maka seorang Caleg yang akan terhindar dari stress ialah mereka yang memiliki niat baik, dan memegang teguh enam hal yang wajib dimiliki.
Pertama seorang caleg harus cerdas, tidak hanya cerdas otak tapi cerdas hati memahami kemauan rakyat, kedua harus memiliki sifat menyayangi rakyat, tidak membodohi. Ke tiga harus sabar untuk tidak korupsi (membantu bencana dengan atribut, memasang poster sembarangan adalah salah satu bentuk korupsi hati). Ke empat harus mempunyai harta halal yang cukup untuk membantu masayarakat. Ke lima harus mau dikritik dan keenam harus mempunyai pengalaman berpolitik di masyarakat. Pengalaman berpolitik di masyarakat yang saya maksud ialah mempunyai jejak rekam yang baik.
Tugas pemerintah makin berat saja selain menghadapi Golput, juga menangani penyakit gila kolektif. Apalagi sistem Pemilu yang berlaku saat ini akan membuat Caleg yang gagal terpilih, menjadi gila.
Menurut dokter ahli kejiwaan Prof Dr Hamdi Muluk dari UI, fenomena caleg gila dipicu oleh sistem pemilu proporsional terbuka dan banyak partai. Sistem itu memicu kompetisi caleg antar partai dan internal partai. Di tengah banyak parpol yang meminta mahar para calegnya, dengan pura pura menyeleksi kemampuannya.
Lalu banyak caleg berspekulasi mencari peruntungan, saat gagal akan muncul kecenderungan banyak caleg gila. Karena mereka harus mengembalikan uang yang dikeluarkan untuk kampanye. Atau pura-pura menjadi gila karena ditagih hutang.
Padahal suksesnya Pemilu 2014, harusnya bukan sekedar ditopang oleh semangat yang besar saja. Namun disertai juga upaya serius mengidentifikasi akar persoalan mendasar yang membayangi Pemilu.
Nah, Pemilu baru saja berlalu, dan sebentar lagi akan menyisakan persoalan lain, selain kisruh soal perhitungan suara, soal gesekan internal partai, soal utang piutang membuat spanduk, soal Golput yang tak bisa ditangani pemerintah dan lain-lain. Juga akan melahirkan orang-orang stress dan depresi.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: