//
you're reading...
BUDAYA

PEMILU di PERSIMPANGAN GOLPUT

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PIKIRAN RAKYAT JUMAT 7 MARET 2014

1

Perang dingin dalam Pemilu April 2014 mendatang tidak hanya antar Partai Politik dan antar Caleg, tapi juga antara rakyat yang memilih Golput (Golongan Putih) dan pemerintah yang menginginkan Golput tidak ada. “Ketakutan” pemerintah terhadap Golput memang beralasan, karena sebuah pesta demokrasi jika dipenuhi oleh Golput, tentu demokrasi menjadi sepi. Maka tak heran kemudian Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan Golput, dan Golput itu dosa.

Pernyataan MUI ini tentu saja mengundang kontroversi, di beberapa blog, website dan jejaring sosial kalimat singkat seperti “Tidak Memilih Adalah Hak, Saya Golput Masalah Buat Lo!, Golput Bersatu Untuk Indonesia Yang Lebih Baik, Golput Pilihan Terbaik Di Zama Edan, Gunakan Hak Politikmu Untuk Tidak Memilih, Golput Pilihan Cerdas, Saya Golput Selama Pemilu Tidak Demokratis. Golput Adalah Hak Konstitusional” dan lain-lain.Begitupun banyak ajakan untuk tidak Golput, seperti kalimat “Golput Bukan Pilihan, Tolak Golput, Jangan Golput, Masa Depan Bangsa Di Tangan Anda, Golput No!, Pemilu Yess, Keep Calm Dan Jagan Golput” dan seterusnya.Golput nampaknya sebuah tantangan bagi pemerintah, upaya agar rakyat tidak Golput tengah dilakukan pemerintah sehingga harus pinjam tangan MUI, sehingga ayat-ayat suci dikeluarkan untuk mendongkrak keyakinan rakyat sebagaimana keyakinan terhadap Agama.

Padahal untuk menggiring rakyat agar tidak Golput hanya  satu jawabannya, yakni jika pemimpin punya itikad baik untuk mensejahterakan rakyatnya, bekerja dengan ikhlas dan tulus. Jumlah Golput hanya akan berkurang jika politik dijalankan dengan hati bersih dan mulia, jujur dan adil. Jika tidak?, maka Pemilu yang akan datang adalah Pemilu yang sunyi

Golput bukanlah sebuah gerakan yang teroragnisir dengan baik, ia lahir dengan sendirinya tanpa komando resmi dari siapaun, ia lepas dari sistem manajemen sebuah organisasi. Karena Golput adalah akumulasi keinginan dari personal rakyat. Dan saat Pemilu menjadi ruang sunyi bagi sebuah pesta demokrasi itu artinya demorasi telah gagal ditegakkan di negeri ini. Paling tidak, demokrasi tetap berlangsung tapi kurang sehat. Apalagi pada saat pemilu nanti

Sihir Pemilu dan sihir Golput tengah ramai di negeri ini, hiruk pikuk keduanya seperti bola pingpong, ambigu. Di sisi lain Pemilu wajib, di sisi lainnya menilai pemilu tak ubahnya pesta kekuasaan. Yang mewajibkan pemilu berpendapat bahwa negeri ini butuh pemimpin yang harus dipilih demi masa depan bangsa, sementara yang mengatakan pemilu tudak penting berpendapat pemilu tak bisa merubah rakyat miskin jadi kaya, petani jadi sejahtera, pendidikan gratis dan kesehatan terjamin.

Sekedar ziarah ke masa lalu, jumlah rakyat Golput Pemilu 1999 tercatat 10,21 persen, angka Golput naik pada Pemilu 2004 menjadi 23,34 persen, dan puncak terakhir pada pemilu 2009 Golput mencapai 29,01 persen. Lalu pada Pemilu 2014 ini? Apakah Golput akan semakin tinggi atau sebaliknya. Menurut Arbi Sanit, Golput akan meningkat, bahkan bisa jadi menjadi pemenang pada 2014, baik dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Wallahu A’lam.

***

Pemerintah, pemegang kekuasaan dan partai politik sebenarnya pemicu Golput berkembang pesat, selain yang saya sebutkan diatas. Wabil khusus perilaku korupsi yang dilakukan kader-kader Parpol, asal mencomot artis jadi caleg, merayu pemuka agama jadi caleg, lupa tugas utama, yakni mensejahterakan rakyat.

Undang-Undang negara kita belum secara pasti melarang Golput, kecuali sekedar himbauan. Tapi ada yang menafsir Golput sebagai tindak kejahatan

berdasar UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu legislative Pasal 283 yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang membantu Pemilih yang dengan sengaja memberitahukan pilihan Pemilih kepada orang lain, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00. Ah, itu bahasa hukum yang membingungan.

Coba simak tafsir berikut, Setiap orang yang mengumumkan hasil survei atau jajak pendapat tentang Pemilu dalam masa tenang, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). Ini lumayan lah, dapat difahami, karena mungkin jika ada survey hasilnya ternyata Golput lebih banyak dan diumumkan, tentu mempengaruhi orang untuk memilih Golput, Dan itu dianggap sebagai adalah kejahatan (?).

Saya ngeri juga jika MUI lantas mengharamkan Golput tapi mengabaikan penyebab dari keberadaan Golput. Apalagi dibarengi dengan dalil-dalil yang diambil dari Quran atau Hadits. Sebab jika dalil-dalil itu dipaksakan maka pengikut Golput pun akhirnya akan mengeluarkan dalil yang menguatkan mereka untuk Golput. Maka, apa jadinya negeri ini jika dalil berseliweran hanya berdebat soal halal haram Golput sementara anak-anak kita butuh pendidikan, kaum miskin terlantar dan petani diabaikan.

Ada yang mengusulkan sejumlah langkah agar Golput menurun seperti membenahi kinerja dan sistem pemerintahan dan partai (ah itu terlambat, kecuali jika pemilu 2014 sudah selesai dan mereka memulai untuk itu, untuk Pemilu 2009). Mewujudkan kondisi pemerintahan dan partai yang bersih, jujur, memihak rakyat dan keteladanan yang baik (seharusnya itu terjadi jauh sebelum Pemilu 2014).

Ada juga yang mengusulkan agar KPU, Pemerintah, Media Massa, Partai dan Publik Figur melakukan sosialisasi dan peningkatan kesadaran memilih dan Pemilu oleh berbagai pihak. Tapi tidak mengaharamkan Golput dan tidak menjuz sebagai sebauh dosa. Karena dosa dan tidaknya seseorang, ditentukan oleh Tuhan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: