//
you're reading...
POLITIK

GOLPUT YANG SEKSI

Matdon – Koran Sindo Senin 24 Pebruari 2014

Saya setuju dengan Mahfud MD yang mengatakan politik dianggap sebagai fitrah atau sifat asal manusia. Artinya fitrah itu genesis, genesis itu artinya asal kejadian, manusia asal kejadiannya itu begitu lahir berpolitik.  Lalu bagaimana dengan Golongan Putih (Golput)?.

Golput adalah adalah orang tidak menggunakan hak politiknya tetapi ia tetap  berpolitik dengan cara tidak memilih. Golput memang dianggap salah satu pilihan tepat, untuk menunjukan bahwa rakyat sangat dibutuhkan oleh para pemimpin, tapi karena pemimpinnya tidak amanah maka Golput menjadi pilihan. Ya, Golput itu semacam Hidayah dari Allah dan jadi gaya hidup manusia modern, demikian kata Acep Zamzam Noor.

Golput disebabkan banyak faktor, misalnya tadi sudah disebutkan tidak tahu adanya Pemilu, bingung dalam menentukan pilihan, protes terhadap situasi politik yang tidak menentu, dan tidak tertarik sama sekali dengan politik.

Sebenarnya masyarakat tidak ingin Golput, tapi menumpuknya kekecewaan terhadap politisi pasca reformasi 1998 begitu dalam. Semula setelah kekuasaan orde baru berakhir, masyarakat berharap keadaan akan membaik.

Tapi nyatanya tidak, elit politik lebih mementingkan golongan dan partainya, iming iming janji, dan pengkhianatan terhadap suara rakyat, kinerja pemerintah yang makin buruk. Sehingga kemiskinan tetap tinggi, pengangguran makin banyak, apalagi kalau berbicara soal hukum.

Saya jadi teringat puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul berjudul “Aku Menuntut Perubahan” berbunyi seperti ini:

Seratus lobang kakus

Lebih berarti bagiku

Ketimbang mulut besarmu

Tak penting  siapa yang menang nanti

Sudah bosen kami, dengan model urip kayak gini

Ngising bingung, hujan bocor

Kami tidak butuh mantra. Jampi-jampi. Atau janji

Kami tak percaya lagi pada itu Partai politik

Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang

Mengawang jauh dari kami

Punya persoalan

Bubarkan saja itu komidi gombal

Kami ingin tidur pulas. Utang lunas

Betul-betul merdeka. Tidak tertekan

Kami sudah bosan

Dengan model urip kayak gini

Tegasnya =  Aku menuntut perubahan

 

***

golputGolput Adalah

Golput adalah sikap politik rakyat yang tidak percaya lagi kepada pemerintah. Semakin besar golput berarti semakin banyak rakyat yang tidak percaya dengan pemerintah. Mereka merasa tidak perlu memberikan amanat kekuasaan karena merasa pemerintah tidak mampu mengembannya..

Dulu di zaman Orba Golput itu haram, karena dianggap sebagai orang yang tidak ikut partisipasi politik dan orang yang Golput dilarang untuk usul apapun pada setiap kebijakan pemerintah. Sungguh mengerikan. Seiring zaman kini Golput menjadi biasa, tidak lagi dianggap haram tapi masihkan dianggap sebagai ancaman demokrasi?

Ada dua jenis Golput, pertama Golput pasif. Adalah mereka yang sama sekali tidak datang ke TPS karena sengaja, ketiduran, namanya tidak terdaftar dalam daftar pemilih, pura pura tidak tahu ada pencoblosan, atau memang tidak tahu sama sekali adanya Pileg.

Kedua, jenis Golput Aktif. Adalah mereka yang datang ke TPS dan mencoblos semua gambar/Caleg, atau malah merusak surat suara dengan cara apapun.

Pada Pemilu 2009 berdasarkan data Pemilu Legislatif, dari 171.265.442 pemilih, hanya 104.099.785 suara yang sah, artinya ada 17.488.581 suara yang tidak sah, sebagian merupakan kelompok Golput. Diam-diam Golput menjadi suara yang seksi. Bayangkan partisipasi pemilih sebesar 71%. Dan Golput hampir 29%. Sedangkan Golput pada pemilu Presiden 2009 sekitar 40%.

Saya yakin Golput bukan sebuah gerakan yang teroragnisir dengan baik, ia lahir dengan sendirinya tanpa komando resmi dari siapaun, ia lepas dari sistem manajemen sebuah organisasi. Ia tak lebih dari akumulasi keinginan dari personal rakyat. Dan itu dilakukan rerencepan tidak dikasih tahu pada siapapun bahkan keluarganya, meskipun pada saat sekarang ada juga yang terys terang menyatakan diri Golput.

Undang-Undang negara kita belum secara pasti melarang Golput, kecuali sekedar himbauan. Tapi ada yang menafsir Golput sebagai tindak kejahatan

berdasar UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu legislative Pasal 283 yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang membantu Pemilih yang dengan sengaja memberitahukan pilihan Pemilih kepada orang lain, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00. Ah, itu bahasa hukum yang membingungan.

Coba simak tafsir berikut, Setiap orang yang mengumumkan hasil survei atau jajak pendapat tentang Pemilu dalam masa tenang, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). Ini lumayan lah, dapat difahami, karena mungkin jika ada survey hasilnya ternyata Golput lebih banyak dan diumumkan, tentu mempengaruhi orang untuk memilih Golput, Dan itu dianggap sebagai adalah kejahatan (?).

Berat memang menghadapi Golput pada Pileg 2014 nanti, demokrasi kita terancam. Tapi to be or not to be, itulah kenyataan.

Sebenarnya Golput dengan sendirinya akan hilang jika pemimpin punya itikad baik untuk mensejahterakan rakyatnya, bekerja dengan ikhlas dan tulus.

Jumlah Golput hanya akan berkurang jika politik dijalankan dengan hati bersih dan mulia, jujur dan adil. Jika tidak, jangan berharap Golput akan berkurang. Bahkan mungkin saja semakin diminati, karena Golput dianggap (sekali lagi) menjadi pilihan yang seksi.

 

Sumber

http://www.koran-sindo.com/node/369875

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: