//
you're reading...
BUDAYA

“WOISEKS” 2008

wooisekKEMBALINYA TEATER BEL BANDUNG

Matdon – Sinar Harapan Nopember 2008

Setelah hampir 10 tahun lebih, absen dari hiruk pikuk dunia pentas teater, kembali Teater Bel Bandung mementaskan drama karya  penulis Jerman Georg Buchner berjudul “Woiseks”, di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat  Jl. Bukit Dago Selatan 53 A Bandung, pada 14 – 15 Nopember 2008, pukul 20.00 WIB, dengan sutradara  Erry Anwar.

Woiseks, merupakan  naskah yang diadaptasi dari lakon Jerman  berjudul Woyzeck (1836), dan  merupakan naskah masterpiece  yang tidak pernah diselesaikan oleh pengarangnya, Georg  Buchner, ia terlalu cepat meninggal dunia dalam usia 23 tahun di Zurich.  Drama terinspirasi dari  kejadian nyata sekitar  tahun 1820an di Jerman, yaitu pembunuhan yang dilakukan  seorang tukang cukur  bernama Woyzeck.

Meski sudah lama tidak aktif di belantara teater di Bandung, namun naskah Wosieks yang  terdiri dari 26 adegan pendek ini secara  keseluruhan sukses diperankan para aktornya, maklum para aktornya masih tetap aktif di berbagai peran dan berbagai kelompok tetaer lainnya baik di Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Lampung. Jumlah penonton selama dua hari berlangsung nampak antusias, mereka seperti  ingin kembali menyaksikan kejayaan Teater Bel  15 tahun lalu, dimana naskah ini juga pernah dimainkan Teater Bel pada tahun 1979. Tak heran, para penonton kebanyakan penonton lama yang ingin bernostalgia, bertemu rekan lama.

Naskah ini fragmentatif,  tetapi bentuk bahasa dan  pengadeganannya tetap baik  untuk memparipurnakan kekuatan dan kemampuan   akting dari karakter-karakter yang ada. Karena pendekatan  dan pola  akting yang ditawarkan sutradara dalam mengangkat drama ini  membutuhkan daya jelajah yang beragam untuk setiap pemainnya.

Pada tokoh Woiseks (diperankan actor Yusef Muldiyana),  Buchner seakan berkata  bahwa kekuatan moral saja tidak cukup memberikan suatu  perubahan di tengah  masyarakat yang tidak bermoral. Drama ini   mempertunjukkan tekanan-tekanan moral  terhadap Woiseks, seorang prajurit  rendah yang tinggal di  tangsi militer. Kondisi sosial ekonominya yang jauh dari  standar cukup, memaksa  Woiseks berpacu memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia hidup  bersama seorang wanita  cantik beranak satu bernama Mari (diperankan Nagya).

Beban hidup yang  menghimpitnya  menjadikan Woiseks  hanya sebagai pembantu dari komandannya, dan malah menjadi kelinci  percobaan dari  eksperimen-eksperimen  gila seorang  dokter militer. Kekuatan  intimidasi dari  kelas sosial/kepangkatan dalam tradisi militer memberikan  andil penekanan pada Woiseks.  Bahkan  masyarakat dan lingkungannya secara  langsung maupun tak langsung turut menekan kehidupan  Woiseks.  Apalagi ketika  akhirnya ia tahu, Mari berselingkuh dengan perwira-perwira lain yang berpangkat  lebih tinggi maka tekanan terhadap Woiseks makin menjadi,  ia berhalusinasi dan dikejar-kejar bayangan kekalahan  atas pertarungan hidupnya.  Ia pun menjadi pembunuh.

Kehidupan Woiseks adalah tragedi kemanusiaan yang memiliki pesan dan nilai-nilainya relevan untuk masa kini. “Walaupun ruang dan waktunya saya pilih antah-berantah, bukan Jerman bukan Indonesia, tetapi ada rasa Jerman dan Indonesia. Penekanan kepada kaum terpinggirkan ditonjolkan, unsur kebutuhan ekonomi, tekanan masyarakat dan kondisi sosial yang menekan dimunculkan, ditambah adanya kecenderungan berhalusinasi dari tokoh Woiseks yang tidak pintar sehingga pangkatnya tidak naik-naik meski usia telah 30 tahun” ujar sutradara Erry Anwar

Sebanyak 40 pemain yang mendukung  pementasan ini terasa hidup, Woiseks memang terasa update dalam kehidupan masa kini, terlebih jika makna Woiseks adalah kebanyakan rakyat Indonesia. Mengerikan.

Tentang Tetaer Bel

Di Bandung terdapat STB (Studiklub Teater Bandung) lahir pada bulan Oktober tahun 1958 dan merupakan kelompok teater tertua di tanah air. Ternyata setelah itu, pada 22 Desember 1973 lahir kelompok  Teater Ge-Er (Gelanggang Remaja).  Waktu itu Teater Ge-Er mementaskan karya pertama “SLA”. Anggota kelompok ini bertambah dengan cepat dan melahirkan beberapa pementasan yang beragam dengan sutradara yang berbeda, iak tergantung pada satu sutradara saja. Hal ini tentu yang membedakan dan kelebihan Teater Ge-Er dari kelompok-kelompok teater di Bandung, Jakarta, Yogyakarta

Pada tahun 1978 Teater Ge-Er melahirkan Teater Lisette sebagai ajang praktisi para seniornya yang dimotori oleh Yessi Anwar. Sementara Teater Ge-Er tetap membina para pemula termasuk di dalamnya pembinaan kepada anak-anak yaitu: “Teater Anak Bawang” . Pada 15 Desember 1987 Teater Ge-Er berganti nama menjadi Teater Bel yang dikomandani oleh Erry Anwar, penggantian nama ini untuk menghilangkan kesan remaja yang menyertai setiap garapan yang muncul akibat nama Gelanggang Remaja.

Pada tahun 1996 anggota Teater Bel mencapai jumlah 500 orang yang tercatat. Sebagian dari anggota tersebut lebih mementingkan tali silaturahmi. Teater Bel telah melahirkan beberapa sutradara, aktor handal, penulis, peñata artistik melalui pementasan-pementasannya. Penggrapan suatu naskah selalu diawali dengan diskusi konsep yang memungkinkan adanya proses saling mengisi. Landasan gerak Teater Bel mengutamakan pendidikan dan membina persaudaraan, dengan memberikan kesempatan pada semua anggotanya untuk mengembagkan diri.

Pada tahun 1997 sampai 2007, atau 10 tahun lebih 15 hari yang lalu Teater Bel mati suri, bagai putri Salju. Para penggiat Teater Bel banyak yang pergi dengan aktivitasnya masing-masing, mungkin juga  berada di hutan untuk menghindari polusi udara.

“Tahun 2008 menjadi penanda bagi Teater Bel, berusaha membuat Teater Bel bunyinya menjadi gema budaya, tapi juga geraknya menjadi sebuah daya bukan gaya. Ini yang membedakan teater jadul dan sekarang di Bandung. Kekuatan daya akan melahirkan banyak gaya, sementara ‘gaya’ akan ditnggalkan oleh ‘roh’ atau ‘magi’ teater itu sendiri”, imbuh Erry

Benarkah Teater Bel akan tetap hidup setelah siuman dari pingsan atau bangun dari tidur panjangnya, kemudian turut menambah khasanah teater di tanah air?. Jawabnya tidak hari ini, tapi besok....

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: