//
you're reading...
BUDAYA

PAMERAN GRAFIS AGUS TRIYADI

indexfoto wikipida

SUARA TUHAN DALAM CUKIL KAYU

Matdon – Sinar Harapan Oktober 2006

 Pada abad VI Masehi, di Jepang telah dikenal teknik cukil kayu, meski sebenarnya teknik ini berasal dari China seiring dengan penyebaran agama Budha, bahkan dalam catatan sejarah, teknik cukil kayu di China berkembang pada masa Dinasti Tang (sekian ratus tahun sebelum masehi?).

Seni rupa cukil kayu ini kemudian mengalami keemasan sekitar tahun 1660, dan  dikenal di Eropa pada abad XV. melalui teknik dengan memanfaatkan penampang lintang batang pohon, dan teknik cukil kayu benar benar dilakukan oleh seniman dengan ketekunan yang kuar biasa,   Di Indonesia sendiri teknik cukul kayu dikembangkan oleh Suromo Darposawego pada dasawarsa 1950-an.

Prinsip teknik cukul kayu merupakan proses cetak tinggi atau relief printmaking, atau untuk lebih sederhananya mungkin anda telah mengenal, mencoba atau membuat dan menyaksikan sebuah stempel ; menulis/mencetak  hurup atau angka terbalik lalu ditemepelkan pada kertas menjadi sebuah “alat’ yang syah atau penanda bagi sebuah perusahaan.

Sulit dan ketekunan, itulah yang harus ditempuh seorang perupa seni grafis dengan teknik cukil kayu,  seni grafis sendiri pasca Suromo  banyak dikembangkan oleh Mochtar Apin, Kaboel Suadi, Haryadi Suadi dn Setiawan Sabana, lalu muncul Tisna Sanjaya dengan grafis etsanya,  dan lama kemudian nama Agus Triyadi mulai muncul dan  saat ini tengah melakukan pameran tunggalnya di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) de Bandung, pada tanggal 02 – 11 oktober 2006.

Setelah Haryadi Suadi lebih konsisten dengan lukisan terbalik degan media kaca tradisional Cirebon , Tisna dengan etsa media lempengan kuningan, rupanya Agus tertarik mendalami grafis teknik cukil kayu yang boleh dikatakan sangat jarang. Apalagi usia Agus yang masih muda. Lulusan ITB beusia 25 tahun ini mencoba konsisten dengan impian dan perasaannya, mengembangkan cukil kayu yang ia kombinasikan dengan teknik cetak printing dan bahkan mengunakan kertas kalkir, kanvas halus, kertas sebagai finishing.

Sebanyak 30 karya grafis yang ia pamerkan di CCF,  22 karya diantarnya  menggunakan teknik cukil kayu. Teknik ini menjadi  andalan karya-karya Agus dan nampaknya ia sedang mendalami juga konsistensi itu, dimana banyak perupa yang beralih ke teknis melukis media kanvas, karena teknik cukil kayu jarang disukai oleh para kolektor, kecuali (mungkin) kolektor serius.

“Ya, teknik cukil kayu benar benar harus teliti dan tekun, sebuah karya bisa selesai paling sebentar dua minggu,” ujarnya pada penulis lewat sms, 24 jam sebelum pameran dibuka oleh Tisna Sanjaya.

 Konsistensi

Mengamati karya grafis cukil kayu Agus, dari segi tema mungkin biasa-biasa  saja; berbicara soal keseharian kenyataan hidup masyarakat, mulai dari kebingungan masyarakat akibat tidak punya uang, bau sampah, orangtua yang bersusah payah mencari nafkah, kekeringan,  sampai pada kekerasaan budaya dan politik, Tapi ketelitian dan ketekunannya membuat penulis yakin, Agus memiliki masa depan yang cukuip bagus di dunia seni rupa Indonesia.

Seni grafis diketahui sebagai bentuk  seni rupa orsinil selama hampir lima abad, yang memiliki terminology sendiri seperti cukil kayu (menggunakan bahan lempengan kayu, triplek jenis MDF),  etsa dan litograf, meski tidak satupun teknik yang digunakan dalam grafis sebagai sebuah penciptaan seni belaka. Tapi juga konsistensi seni, inilah yang agak susah dicari.

Banyak perupa grafis yang akhirnya “selingkuh” beralih ke media kanvas, karena persoalan materi belaka. Melukis dengan media kanvas lebih banyak kolektornya dan laku keras, sedang grafis dan media kertas sangat jarang diminati.  Sikap perupa itu bukan sesuatu yang haram, semua yang dilakukan seniman  sah-sah saja karena tuntutan yang realistis, uang!!.

Namun nampaknmya konsistensi dalam berkesenian perlu juga dipertahankan sebagai eksistensi diri, Agus Triyadi yang sangat masih muda barngkali tengah menjajaki kemungkinan itu yakni kemungkinan eksis menjalani pegrafis seperti konsistensinya Tisna Sanja atau Haryadi Suadi (misalnya), Tisna yang dikenal sebagai di Indonesia sebagai sosok kunci dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia kini masih setia pada seni grafis, walau kadang-kadang melukis juga dengan media kanvas untuk hiburan.

Kembali ke karya Agus,  tema kerakayatan yang dpilihnya menjadi mumpuni ketika ia bekata pada penulis bahwa seni harus selalu bersentuhan dengan kehidupan nyata, maka pameran tunggalnya kali ini adalah Vox Populi, Vok Dei yang artinya Suara Rakyat Suara Tuhan. Karya yang dipamerkan melulu soal penderitaan rakyat yang “digrafiskan” Agus sebagai sebuah kenyatan dan perlawanan, bukan sekedar slogan atyau pamflet/ Simak saja karya  berjudul Panen, Beri Aku Air, Senjata, Perempuan Perkasa, Doktrin, Sampah dll. Semuanya menggambarkan kepahitan rakyat di negeri dangdut nan penuh dongeng  ini.

Kehiduapan rakyat itu divisualkan Agus lewat grafis cukil kayu, Eksistensi Tuhan yang terabaikan manusia serakah digrafiskannya, sehingga kita bisa membaca karya karya Agus sebagai suara Rakyat,  dan  Tuhan sedang asyik bersamanya dalam cukil kayu.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: