//
you're reading...
BUDAYA

KERONTJONG TUGU 2008

Keroncong-Tugu-14Keroncong Sampai Mati

Matdon – Sinar Harapan Ramadhan 2008

 Cobalah hitung, berapa jumlah kelompok musik di Indonesia yang bertahan hingga beberapa generasi, Koes Plus?, bukan, kelompok musik pop ini hanya bertahan satu generasi saja. Bimbo?, D”Loyd, Panbers, Soneta?? juga bukan. Tidak ada kelompok musik di tanah air yang bertahan hingga sepuluh generasi, kecuali kelompok musik keroncong Tugu.

Sehari menjelang Ramadhan 2008, tiba-tiba Andre Juan Michiels dan kelompok musik keroncong Tugu nya, hadir di Gedung Indonesia Menggugat Jl.Perintis Kemerdekaan 5 Bandung. Beberapa nomor keroncong yang akrab di telinga dibawakan dengan apik seperti Juwita Malam, Bandara Jakarta, Si Jali-Jali, atau dalam bahasa Portugis Lanta pio bata-bata, Cafrinho kere andakaju . Buaya- buaya kerocong, tua muda larut dalam nostalgia mereka

“Kami membawa dua anak kecil, ini generasi ke sebelas jika kami sudah tidak ada lagi, karena kami melihat ada kecenderungan musik keroncong akan menghilang dari kancah musik Indonesia. Kami mencoba memotivasi agar masyarakat dapat melihat bahwa musik keroncong itu masih hidup,” “demikian Andre memaparkan di sela sela konser. Ya, keroncong Tugu memang kelompok musik keroncong tertua di negeri ini, mungkin juga tertua untuk kelompok musik genre lainnya.

Alkisah Andre menuturkan, pada 1648, pemerintahan  Malaka jatuh dari kekuasaan Portugis ke tangan Belanda.  Orang-orang Portugal keturunan berkulit hitam ditawan dan dibawa ke Batavia, 18 tahunkemudian  mereka dibebaskan lalu bermukim di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.  Di Kampung Tugu inilah musik keroncong Tugu ditabuh oleh orang-orang keturunan portugis. Komunitas Kampung Tugu dikenal sebagai kelmpok pertama yang mempopulerkan “Kroncong Mourisko” dimana  ritme dasarnya dijadikan latar belakang sebagian musik modern Indonesia. Selama abad ke-18 dan 19, komunitas Tugu mempunyai pengaruh kultural yang relatif kuat di Jakarta.

Nama keroncong itu sendiri konon diambil dari suara musik yang berbunyi crong.. crong crong..!!, alat musiknya biola, okulele dengan lima senar, banyo, gitar, rebana, kempul dan sello. Lagu-lagu yang tidak pernah ditinggalkan adalah lagu-lagu lama, Kaparinyo, Moresco, dan lagu-lagu stambul Betawi. Sedangkan kostumnya, memakai baju koko, topi baret dan syal yang mengantung di leher.

Saat itu musik ini dibawakan ketika mereka berusaha begembira di tengah-tengah penderitaan sebagai bekas orang buangan di serambi rumah atau di bawah pohon untuk menikmati indahnya bulan purnama dan sepoi-sepoi angin pesisir. Seperti mengenang perjalanan musik  kerocong, backdrop panggung Gedung Indonesia Menggugat itu tertulis ”Di tengah suasana sedih dan tak menentu, ada saatnya kita bergembira”. Berabad-abad nenek moyang Kampung Tugu membangun komunitas di sana, ratusan tahun adalah rentang waktu yang panjang untuk melestarikan wariskan nenek moyang mereka berupa musik yang kemudian disebut keroncong itu. Musik keroncong pada masanya menjadi musik yang ngetop banget. Hingga muncul genre musik pop, jazz, dangdut dll.

Musik inipun mati segan hidup tak mau, perlahan orang-orang mulai meninggalkannya, kemunculan tokoh Gesang, Ismail Marzuki, Muladi, hingga generasi Soendari Soekotjo dan Hetty Koes Endang, memang sempat mewarnai perjalanan musik keroncong, nama mereka dikenang sebagai buaya buaya keroncong. Orang-orang Kampung Tugu tetap bermusik keroncong tanpa mengenal lelah atau beralih pada jenis musik lain. Tahun 1970-an kelompok Keroncong Tugu mencoba unjuk gigi tapi gaungnya tak sehebat awal kemunculannya. Mereka kalah ngetop dari Koes Plus dan Panbers. Tahun 1988 kembali  Keroncong Tugu berupaya bangkit dengan dibentuknya Ikatan Keluarga Besar Tugu yang menjadi penggagas bangkitnya Keroncong Tugu. Lalu Keroncong Tugu mulai dikenal oleh masyarakat di luar komunitasnya, sejumlah komunitas seni Batavia mengikuti gaya musik ini sampai berkembang gaya-gaya baru semisal Keroncong Kemayoran, keroncong  merambah wilayah lain di Jawa, termasuk Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya.

Adalah Andre Juan Michiel, berniat mengangkat kembali kejayaan musik keroncong bersama empat saudaranya yang memiliki fam Michiels, yaitu Andre, Arthur James, Saartje Margaretha, dan Milton Augustino. Mereka mengajak anak muda Kampung Tugu lainnya untuk berkeroncong, maka sejak itulah proses regenerasi dalam grup Keroncong Tugu selalu dipertahankan dan kini sudah generasi ke 10.

Malam itu, setidaknya kita baru memahami jika perjuangan mempertahankan jenis musik dari anak negeri ini begitu serius, berabad-abad dan berdarah-darah. Dari nomor penutup Bengawan Solo karya Gesang, Keroncong Tugu seakan-akan berteriak, “Ayooo!! kerocong sampai mati…sebelum direbut Malaysia!!”.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: