//
you're reading...
BUDAYA

DIALOG IMAJINER

SENI DAN PENGUASA

Oleh : Matdon – Sinar Harapan Maret 2006

 

Bukan  sekali dua kali sebuah pameran lukisan atau acara seni budaya dibuka oleh pejabat mulai dari tingkat RT sampai Presiden, persoalannya kemudian apakah pejabat yang bersangkutan komitmen atau tidak dengan dunia seni, atau apakah pejabat itu benar-benar mencintai seni?. Lho kok ada pertanyaan seperti itu sih? Bukankah bagi sebagian seniman mungkin bukan persoalan siapa yang membuka pameran, mau pejabat atau orang biasa, mau koruptor atau Kiai, mau konglomerat atau orang melarat. Karena tidak sedikit sebuah acara hanya dibuka oleh – misalnya Kelompok Penyanyi Jalanan atau hanya dibuka oleh Ketua Penyelenggara yang tidak terkenal. Tetapi – barangkali juga – akan menjadi persoalan bagi sebagian seniman jika sebuah acara dibuka oleh pajabat tinggi

Pada pameran seni rupa dengan tajuk “Dialog Imajiner”,  lagi- lagi acara dibuka oleh pejabat nomor satu di kota Bandung ; Walikota. Sebagai seniman saya tidak  mempersoalkan siapa yang membuka, tapi ketika saya melihat salah seorang yang terlibat pameran itu diantaranya adalah Rd. Tohni Joesoef (alm), maka saya agak terkejut. Pasalnya Tohni merupakan pendiri kegiatan seni di kawasan  Babakan Siliwangi Bandung , bertahun tahun Bapak Tohni menjadi penggiat seni disana, sampai pada akhirnya dua tahun lalu, Babakan Siliwangi menjadi saksi mati dari kekejaman Satpol PP, dimana saat itu sebuah karya instalasi Tisna Sanjaya “dibakar” karena dikira sampah, eksistensi Satpol PP memang berada dibawah kekuasaan walikota. Tisna serta merta melakukan gugatan meski akhirnya kalah juga di Pengadilan, sebuah kekalahan yang dirayakan oleh seniman.

Pameran “Dialog Imajiner” ini diikuti enam pelukis yang sudah wafat, masing-masing Angkama Setjadipraja (1913 – 1984), Rd. Roedyat Martadipradja (1930-2002), Luckman Syarifufin Kusumah (1945-2002), Tatang Ganar (1933-2004), Yudah Noor (1951-2005) dan Rd. Tohni Joesoef (1933-2001). Bertempat di  Win Art Gallery Jl. Bengawan 60 Bandung, mereka berpameran 2 – 12 maret 2006.

 Saya tidak tertarik untuk membicarakan karya karya mereka, selain tidak punya kompeten seperti kurator Heru Hikayat atau Aminudin “Ucok” Siregar, juga lantaran saya memang tidak menguasai dan belum ngaji bab seni rupa, saya hanya mengenal sebagian nama-nama perupa Indonesia dan karya karya mereka. Yang menarik fikiran saya adalah bagaimana persinggungan antara seni dan pejabat itu terjadi.

Sejak tahun 1982 sampai meninggal dunia, Rd.Tohni Hidayat memimpin Sanggar Olah Senin (SOS) Babakan Siliwangi, konon sejak itu Babakan Siliwangi menjadi hidup, berbagai kegiatan seni mulai dari seni rupa, teater, musik terakumulasi disana. Dan suatu ketika, para seniman merasa resah karena  disana akan dibangun kondominium, semua  protes, tidak kurang dari Tisna Sanjaya, Ahda Imran, Aji, Rahmat Jabbaril, Hawe Setiawan, Wawan Husein, dan lain-lain melakukan gerakan perlawanan terhadap kemungkinan Baksil dijadikan tanaman beton. Di tengah perlawanan budaya, tiba-tiba karya instalasi Tisna hangus terbakar (seperti saya singgung diatas). Belum sampai disitu, hari pertama  bulan Ramadhan tahun 2004, bangunan bekas rumah makan di Baksil yang biasa digunakan berteduh dan “sekolah” para pengamen kebakaran siang hari bolong saat orang orang sedang shalat Jumat.

Persidangan gugatan Tisna yang panjang berakhir dengan kekalahan, bersamaan dengan kekalahan itu sang adik Tisna, Iman Soleh yang dikenal sebagai aktor teater kemudian bersekutu dengan Walikota. Sungguh sebuah pribadi yang kontras, tapi saya tidak Suudhon apakah Iman soleh sedang menjajagi walikota untuk tetap damai dengan Tisna,  ya katakanlah sebagai hakim mediasi seni budaya gituh?, atau keakraban ini untuk menunjukan kepada para seniman di Bandung bahwa “Jangan Ada Musuh Diantara Kita”, atau Iman Saleh memang tengah menjalankan prinsip Agama seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW – yang  – menengok orang sakit, padahal orang itu tiap hari meludahi nabi atau ajaran Agama lain yang mengajarkan jika kamu ditempeleng pipi kanan, maka berikanlah pipi kiri untuk ditempeleng lagi., Wallahu A’lam, sebab sejumlah kemungkinan pasti terjadi.  

Ini kemudian berlaku bagi Syarif Hidayat, putra almarhum Tohni Joesoef, ia mengundang Walikota untuk membuka pameran Dialog Imajiner, saya coba mengajukan pertanyaan pada Syarif, kenapa harus walikota yang membuka?, Syarif tidak memberikan keterangan kecuali ia menjawab bahwa ia tidak ada kaitannya dengan pembakaran karya Tisna dan tidak mengetahui kasus terbakarnya Baksil. Tapi kenapa juga saya harus bertanya seperti itu? Bukankah sudah biasa acara seni dibuka oleh pejabat, dan itu sudah terjadi sejak zaman Soekarno?

969566_10201241132931509_1745353927_n - CopyKemudian saya berfikir dengan cara berfikir Syarif, mungkin ia tengah menjalankan ajaran agama yang saya singgung diatas: perdamaian bagi seniman seperti Syarif,  lebih menguntungkan daripada bertengkar dengan pejabat yang akhirnya akan dimenangkan pula oleh pejabat itu, fikiran senada saya fikir banyak dimiliki oleh seniman manapun khususnya di kota Bandung, kecuali seniman seniman tangguh yang memiliki idealisme cukup tinggi yang enggan bersentuhan dengan kesombongan penguasa. Memelihara idealisme bukan berarti sombong atau jumawa, atau terkesan mewah dan mengingkari kodrat sebagai rakyat. Bukan itu, melainkan memahami betul bagaimana menempatkan perbedaan seni dengan kekuasaan, menempatkan diri antara sebagai seniman atau pelacur seni.

Sebenarnya budaya perlawanan terhadap penguasa yang pernah menyakiti hati seniman harus tetap tumbuh dan berkembang,  tentu  bukan  melawan secara fisik, tapi melawan dengan cara seni yang jujur dan budaya yang luhur. Salah satunya tidak mengundang penguasa untuk meresmikan pameran.

Lagi pula, para seniman yang masih memiliki idealisme seperti Acep Zamzam Noor cs, Tisna Sanjaya dkk, Rahmat Jabbaril and de Geng, Mukti-Mukti dan balad baladnya, , WS, Kodrat dan komunitasnya, Deddy Koral dan nuraninya, pasti memahami apa yang dikatakan dalam hadits Nabi Barang siapa utusan Tuhan (bisa Ulama, bisa juga seniman) yang mendatangi penguasa dzalim, maka orang tersebut lissun (bahasa Arab artinya pencuri).

Tinggal pilih, apakah kita mau jadi seniman yang lurus lurus saja –  yang  – membiarkan penguasa terus mendzalimi para seniman lalu bersekutu, atau mau jadi seniman yang lurus lurus saja – yang – melawan setiap gerak dan sifat dzalim penguasa, atau jadi seniman yang  lurus lurus saja – yang – Jumud (diam saja tidak ada kemauan). Terserah, pilihan ada pada diri masing-masing. Wassalam. 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: