//
you're reading...
BUDAYA

AZASI ADI 2008

adi dan harapanREPUBLIK PANDORA AZASI ADI

Oleh : Matdon Sinar Harapan Agustus 2008

 Delapan bangunan rumah yang berada di belakang Studio lukis Jeihan di Jl. Padasuka 147 Bandung, tiba-tiba berubah menjadi delapan provinsi, masing-masing bernama provinsi Bencana, Provinsi Rayap, Provinsi Korup, Provinsi Murka, Prvinsi Harapan, Provinsi Lumpur, Privinsi Syahwat dan Privinsi Bancut. Ke delapan provinsi ini berada dibawah naungan Republik Pandora, pencetusnya adalah Azasi Adi, putera kedua maestro seni rupa Indonesia Jeihan Sukmantoro.

Masing-masing provinsi berisi aktivitas yang sesuai dengan nama provinsinya. Provinsi Harapan misalnya, menggambarkan sejumlah harapan manusia yang direfleksikan melalui sejumlah lukisan dengan media kanvas dan selang, sebagai visual. harapan manusia yang menjadi implementasi baru dalam mendobrak hal yang bertautan dengan simpati, empati personal  ketika mempersepsikan dan memaknai gejala – gejala kemunduran moralisme, bencana. Harapan dan saling menolong adalah pesawat supersonik untuk mencapai kesempurnaan manusia sejati.

 Itulah cara Adi melakukan pameran seni rupa dengan tema “Republik Pandora”, sebuah pameran yang tak lazim dilakukan sang ayah. “Ini pameran yang unik, Adi telah berhasil keluar dari bayang-bayang nama besar ayahnya Jeihan, sebab biasanya seorang anak tokoh besar selalu kesulitan melakukan sesuatu, pertama karena takut tidak menyamai kualitas orangtua, kedua takut terjebak pada bayang-bayang nama besar,” ujar budayawan Jacob Sumardjo, yang hadir pada malam pembukaan Jumat (08/09/08) lalu.

Pada 7 rumah lainnya yang digunakan sebagai provinsi, merupakan penafsiran dari provinsi Harapan, sarat dengan muatan pemaknaan personal, realitas sosial budaya yang merosot, artinya ada persepsi positif walaupun kehidupan sekitar bertolak belakang. Azasi Adi mengajak kita untuk menyelami makna-makna religi, makna teologis menuju makna awal manusia berdasarakan kekayaan tafsir dan perenungan mendalam.

Pada Provinsi Syahwat Adi menjadikan sepatu sebagai metaphor persoalan seksual, pengapungan idiom kelamin beranjak dari kenyataan yang ada sehingga saat ini kegiatan sex bebas menjadi sebuah kebutuhan yang tidak mengenal batasan Sehingga berdampak sangat mencemaskan dan tentu saja sudah tidak sesuai lagi dengan norma susila.

Pada Provinsi Lumpur, Adi mampu menciptakan ruang rumah sebagai potret tragedi Lumpur Lapindo, sebuah tragedi banjir lumpur panas yang hingga kini tak berujung. Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur, ribuan warga dievakuasi, rumah tenggelam, hancurnya areal pertanian dan perkebunan, pabrik-pabrik mati tanpa nisan,  dan berbagai infrastruktur yang lebur.

Pun pada provinsi-provinsi lainnya, merupakan gambaran yang mengajak kita merenung, dan mendorong hasrat untuk lebih kritis terhadap persoalan-peroslan yang ada di negeri ini. Pada dasarnya ”Republik Pandora” merupakan reflika peristiwa negeri ini yang diciptakan Adi lewat medium seni rupa, dengan wacana kontemporer yang menyiratkan wacana dalam praktek seni rupa yang anti modern.  Sikap kritis Azasi Adi terhadap praktek-praktek seni rupa yang menjadi wacana dominan para senirupawan senior, semakin kental ketika mengungkap harapan – harapan baru dalam kehidupan berkesenian di Indonesia dan di Bandung khususya. Setidaknya itu yang diungkapkan Ridwan Taufik, salah seorang kurator pameran ini.

Menurut kamus, Pandora merupakan perempuan pertama yang diciptakan Zeus, dan rumah atau bangunan itu akhirnya menjadi muara harapan manusia, jadi Republik Pandora adalah Republik harapan bangsa ini. “Apa yang ditampilkan perupa Azasi Adi dalam pameran tunggal ini layak untuk direnungkan karena ia mengungkap realitas sosial-politik bangsa Indonesia dewasa ini,” tegas Jacob

 

Pameran Seni Rupa bertajuk “Republik Pandora” ini berlangsung dari tanggal 8 s.d 31 Agustus 2008, dibuka mulai pukul 8.00 – 20.00 WIB.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: