//
you're reading...
BUDAYA

Pameran Tunggal Aas Rukasa

OLYMPUS DIGITAL CAMERABIO, LOGIS DAN TAK LOGIS

Matdon – Sinar Harapan Juni 2006

Nama Aas Rukasa di dunia seni rupa Indonesia belum begitu dikenal luas, pun di kota Bandung ,  bahkan di telinga saya nama Aas sangat muallaf.  Meskipun berkali-kali Managernya Dadang Mohammad meyakinkan saya bahwa Aas adalah pelukis yang terkenal dengan sufinya, tasawuf, konsultan psikologi, dan pengajar pencerahan hidup, sejumlah lukisannya tersebar dimana-mana. Menurut Dadang, sebagian besar teman teman dekat Aas menyebut lukisan karyanya sebagai nasihat bahkan ada pula yang menyebutnya sebagai pengobatan bathin dan menebarkan efek psikologis.

            Penasaran dengan pernyataan Dadang, saya pun mengunjungi pameran tunggalnya di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) de Bandung Jl.Purnawarman 32 Bandung Rabu malam lalu (28/06). Hadir malam itu Ajip Rosidi dan sejumlah pengunjung yang belum saya kenal sebelumnya. Pameran bertajuk BIO ini berlangsung hingga 7 Juli 2006.

Tak biasanya saya langsung membaca biodata pelukisnya, di buku panduan ia bernama lengkap Ir. R. Aas Rukasa, kelahiran Banjar 38 tahun lalu. Lulusan Teknik Mesin ITB, penggemar lukisannya adalah orang orang yang menggemari pencarian diri melalui meditasi ; sebuah transformasi kesadaran untuk mengakses pemahaman secara  universisal.

            Kemudian saya menatap ke 60 karyanya yang dipamerkan, mulai dari lukisan dengan judul Sayap Dari Tanah Liat, Merak Menyapa, Selancar Angin, Menuju Bukit, hingga pada sebuah lukisan berjudul Return To The Origin  Bentuk alam, mansia, hewan dan pohon muncul dalam setiap lukisannya, keberanian dan kepandaian mengolah warna memang menjadi kelebihannya, sampai pada bentuk luikisan abtsrak murni. Sang Kurator Mikke Susanto yang juga hadir disana menyebut lukisan Aas sebagai penyembuhan dan kenikmatan bathin, hal ini sebenaranya tidak peru diungkap, lantaran setiap karya pasti akan bermuara kesana, tergantug penikmatnya.

            Mikke bahkan seperti memaksa pengunjung untuk berpendirian bahwa lukisan Aas merupakan ilustrasi kesadaran diri, penuh penggalian mistik dan klenik, penuh pesan methamorphosis.  Kemudian saya berfikir bukankah semua karya (seni khususnya) merupakan pengolahan meditasi seseorang?, jikapun Aas menyebut lukisannya sebagai hasil meditasi, maka sebenarnya ini tidak lebih dari sekedar pengakuan yang terlambat. Meskipun juga harus diakui bahwa  warna dalam lukisannya sangat beragam dan enak dipandang. Emosional dan semangatnya muncul ketika ia memaparkan semua kegelihsannya lewat lukisan Return To The the Origin.  Semangat memberi warna memang sebuah keberanian yang total.

            Dan saya menemukan semangat  dari Aas,  sebagai guru meditasi – mungkin – ia ingin membuktikan bahwa energi yang diolahnya bisa dimanfaatkan secara positif melalui lukisan, tentu sebuah prinsip yang tidak salah. Karena pameran ini bertujuan sebagai pertemuan alam dan seni untuk menciptakan paduan gagasan visual dan pengalaman berinteraksi dengan alam.  “Ya memang, pameran ini tidak berangkat dari persoalan kedalaman estetika seni semata, sebab karyanya merupakan pengembangan pengalaman dengan perspektif bioenergi yang dimilikinya, “ ujar Mikke.

Akhirnya diakui Mikke, lukisan Aas bukan gambaran proses dan teknis mngenai bioenergi, bukan pula petunjuk ilmiah saat energi alam dan tubuh bergerak, tapi pameran ini sekedar mengangkat pengalamanm spiritual pelukis dalam melihat pergolakan  energi alam dan fikiran manusia.

Sebenarnya tidak ada yang aneh jika seniman berkarya sebagai hasil dari meditasi, sebuah transformasi bathin, mengambar pengalaman bathin dan seterusnya, tapi kemudian pengakuan yang berlebihan menjadi absurd, karena pengakuan seseorang menjadi seniman spesial bukan dipropagandakan oleh dirinya sendiri dan kawan-kawan dekatnya, melainkan dari masyarakat seni lainnya. Tidak ada dalam sejarah seni rupa Indonesia yang memiliki karya original, semua berkiblat ke barat, kecuali mungkin proses melukis, thema  dan obyeknya. 

Kembali ke lukisan Aas, keyakinannya tentang apa yang ia gambar sebagai hubungan transendental dan kekuatan bioenergi syah-syah saja, karena memang sebuah karya harus punya konsep yang jelas. Apalagi jika ia membebaskan apresiator menilainya tanpa diarahkan oleh siapapun. Juga ia tak harus menulis penjelasan pada setiap lukisannya di buku panduan. Ini mengganggu dan membingkai kebebasan menilai.  Coba simak pada semua lukisannya ia menambahkan teks, seperti pada lukisan berjudul “Mendengarkan Suara Hening” terdapat teks berbunyi Dengarkanlah sunyi karena dalam hening ada suara, agar engkau bisa segera membuat permata…atau pada lukisan berjudul “Return To The Origin” ia menulis teks begini :Lukisan ini menggambarkan formasi ikan Salmon, sang pengembara, yang sedang melompat dengan kompaknya dalam gerakan lambat….dan teks-teks itu terdapat pada hampir semua karyanya..

Inilah yang saya maksud mengganggu fikiran dan apresiasi orang lain, selain  logis serta mubadzir juga sepertinya Aas meragukan kalau lukisannya dapat diterima publik seni di Bandung, sebuah ambiguitas yang logis.

Tapi apapun yang terjadi, pameran BIO Aas Rukasa, bisa dijadikan awal ia menemukan dirinya di dunia seni rupa, sangat logis.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: