//
you're reading...
BUDAYA

MICKO PROTONEMA WAFAT 2008

SELAMAT JALAN  KAWAN

Matdon – Sinar Harapan Mei 2008

 miko

Malam belum sempurna larut, ketika saya, Abah Iwan Adburrahman dan musisi Mukti-Mukti terlibat obrolan santai usai konser Iwan Abdurrahman di STSI Bandung Minggu malam (18/5), tiba-tiba  mendapat kabar bahwa musisi/penyanyi grup band Protonema, Micko, meninggal dunia akibat serangan jantung. Mukti-Mukti langsung ke Rumah Sakit Santo Yusup Bandung, tempat dimana Micko keninggal, saya dan sejumlah penyair serta wartawan baru pagi hari senin kemarin datang melayat, hingga dimakamkan di TPU Cikutra.

Air mata tak henti-hentinya mengalir di mata Vivie Novidia, istri Micko dan sejumlah artis yang hadir. Diperoleh kabar, Micko meninggal sesaat setelah menerima telpon (entah dari siapa) pada pukul 22.30 WIB, tiba-tiba tubuhnya kejang. Vivie melarikannya ke rumah sakit namun sebelum sampai nyawa Micko tak tertolong lagi.

Jantung!!, ya, saya masih ingat dua tahun lalu vokalis Protonema ini mengalami sakit jantung yang kronis, dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Kami sempat membuat acara Charity for Micko, menjual gitar milik Sawung jabo dan sejumlah lukisan perupa Bandung. Setelah itu Micko sembuh total, sampai pada akhirnya berita kematian itu datang.

Dunia musik tanah air kini kehilangan lagi, salah seorang musisi terbaik, Micko bernama asli Widyatmikoatau lebih  akrab disapa Micko ‘Protonema’. dengan hits lagunya ‘Kiranya’ atau ‘Rinduku Adinda’  Lahir  Probolinggo, 12 Mei 1969 meninggalkan seorang istri, Vivie Novidia dan putra semata wayang, Muhammad Vicko Edsyawido (11).

Nama Micko selalu disandingkan dengan Protonema, band yang pernah berjaya pada tahun 1990-an, nama Protonema itu sebdiri adalah istilah biologi yang artinya ‘tunas lumut’. Band ini awalnya digawangi Doddy (bas), Gun gun (kibor), Didiet (dram) dan Sidik (gitar), tanggal 5 November 1991 di Bandung. Jumlah personel Protonema bertambah setelah Benny (kibor) dan Ozie (vokal, perkusi) bergabung. Mereka pun manggung di berbagai cafe di Bandung, sempat menjadi homeband di sejumlah radios swasta di Bandung.

Protonema mulai merambah Jakarta. Tahun 1993, nama Protonema kian berkibar di blantika musik tanah air.  Sayangnya Gun gun dan Ozie mengundurkan diri, 1994, Micko mengalami musibah kecelakaan, posisinya lantas digantikan sementara oleh Ian. Ketika Micko pulih, Protonema pun mulai menggarap demo lagu sendiri dan masuk dapur rekaman.  Album pertama Protonema (1996) yang menjagokan lagu ”Kiranya” membawa mereka untuk promo tur dan konser ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Pertengahan April 1996, mereka kembali masuk studio untuk membuat album kedua. Di album kedua ini, Protonema membuat sedikit pergeseran pada musiknya. Mulai dari pemilihan sound, unsur etnis hingga penggarapan aransemen diperhatikan dengan seksama.

Namun sekali lagi, pergantian personel mewarnai perjalanan Protonema. Karena merasa tidak sepaham dan sulitnya berkomunikasi, akhirnya Micko hengkang dari Protonema. Setelah itu nama Micko tenggelam begitupun nama protonema, Micko sendiri tetap bermusik bersama Mukti-Mukti, menyanyikan lagu-lagu balada yang penuh kritikan, bicara kehidupan sosial dan alam. Sebelum meninggal, Micko sempat merilis album duet bersama istrinya, ‘Love, Life, Blues’. 

Di rumah duka itu,  di Jalan Bungursari Raya No 14, Komplek Bumi Asri, Pasirlayung- Padasuka, Bandung,  saya masih ingat keinginannya untuk mendirikan sekolah musik. Hingga jasadnya terkubur, keinginan itu belum terwujud.

Usai dimakamkan, ketika tulisan ini dibuat, saya tengah  memutar lagu Protonema karya Micko – yang sudah lama tidak saya dengar berjudul ”Salahkah”

;

Saat kuterjaga Oleh hangatnya mentari pagi

Lewati celah jendela kamar

Ku terduduk termangu

Sekian lama waktu Ku berjalan mencari arti hidup

Ku terus melangkah Terus ku mencari asa diriku

Diantara irama nada sejukkan batinku

Diantara syair lagu jinakkan gejolakku

Salahkah aku atas apa yang terjadi

Salahkah aku atas duniaku ini

Salahkah aku atas apa yang terjadi

Salahkah aku atas duniaku ini

salahkah aku ku bahagia disini.


Selamat jalan sahabat, selamat jalan Micko…

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: