//
you're reading...
BUDAYA

ISA PERKASA 2006

HITAMNYA HITAM

Matdon  – Sinar Harapan April 2006 

Ada sejumlah perupa di kota Bandung yang menampilkan tubuh sebagai obyek lukisannya dalam bentuk drawing,  masing-masing memiliki cirri yang khas, selain itu mereka konsisten dengan apa yang dilakukannya, katakanlah Nandang Gawe yang mengeksploitasi tubuh dalam bentuk perengkel jahe (Sunda : tubuh yang melengkung), Iwan R Ismail melukis kepala dengan segala bentuk variasinya, juga Arman Jamparing  menggambar kepala dalam bentuk yang mengerikan, dan tentu saja Isa perkasa yang juga menjadikan tubuh sebagai wakil dari semua persoalan hidup yang hendak ia sampaikan.

Para perupa tadi memiliki karakter yang berbeda,  memiliki kekuatan arsir yang berbeda pula, dan yang paling penting – sekali lagi – konsistensi mereka terhadap karya,  bisa dibandingkan dengan perupa perupa kota lain. Isa Perkasa misalnya, pemenang Philip Morris Art Award tingkat Asean di Hanoi Vietnam tahun 1998 ini tetap menggambar sebagai visual sebuah panggung pertunjukan manusia (teater, performance art, monolog dll), mensituasikan representasi gambar sebagai penghadiran yang benar benar teaterikal. Mungkin lantaran Isa sering melakukan performance art di jalan jalan atau panggung baik di dalam maupun luar negeri. 

Eksistensi Isa Perkasa kembali terlihat, dalam pameran drawing tunggalnya di Galeri Adira Jalan Kiaracondong Bandung yang dimulai sejak 1 April dan berakhir bulan April tahun ini dengan tajuk “Nada Hitam Isa Perkasa”. Sebanyak 40 drawing di atas kanvas dipamerkan, serba hitam serba kelabu,  Seluruh hasil karyanya melulu hitam putih, sebagai penegas sikap hidup yang ia timba dari pengalamannya selama ini. “Hitam putih yang saya tampilkan memang sebuah ketegasan, soal salah benar, soal bodoh pintar dan seterusnya,” katanya saat ditemui di sela sela pameran.  Tubuh manusia Isa dalam seluruh lukisannya sebagai gambaran kultural, sosial dan politik, tubuh menjadi wakil dari semua persoalan dan pengalaman hidup manusia. Kalaupun ada  gambar yang nampak aneh mungkin sebagai imajinasi, tapi tetap berdasar pada kenyataan, seperti drawing kepala yang mengeluarkan api,  tangan yang tengah memikul tulisan “Idealis”, buku buku di atas kepala

Nada hitam dalam lukisan Isa merupakan pilihan yang konservatif atas pemikiran Isa yang moderat, hitam putih merupakan sikap dan alasan Isa bahwa ia serius memahami perjalanannya sebagai pelukis dan menghayati dunia realitas. “Bagi saya menggambar merupakan akumulasi isitimewa dari penciptaan karya, menjadi semacam penyadaran hidup, karena saya ingin gambar-gambar saya bicara apa adanya,” imbuhnya..

imagesMemperhatikan karya karya Isa perkasa dalam pameran tungalnya kali ini, kita seperti melihat kemarahan sekaligus kelembutan, kecerdasan bahkan ketololan, keseriusan nyaris humoris, realitas menyerupai absurditas dan mampu menjelaskan makna gambaran hidup tanpa harus bertanya dulu pada si pembuatnya, ibarat potret hasil jepretan fotografer, ketidakfahaman gambar gambar aneh justru menjadi sangat menarik untuk tidak ditanyakan. Kalau boleh saya ingin menyebutnya karya Isa terkesan bersifat komik, karena setiap gambar/drawing/lukisan yang dipamerkan bernada naratif, bertutur. Gambar adalah kata kata berjuta makna, dari kepala hingga kaki, dari tangan ke kaki, dari otak ke kelamin. Itulah Isa yang Perkasa dalam memahami kehidupan nyata yang ia tuangkan dalam kanvas.

Tubuh manusia dalam gambar gambar Isa merupakan wakil dari kehidupan – barangkali ia menyadari sepenuhnya bahwa tubuh bisa dimanfaatkan dan sangat bermanfaat sebagai obyek lukisan (tanpa harus ponografis?), penghadiran tubuh sebagai pengalaman teaterikalnya  menjadi kekuatan istimewa.

Berbeda dengan lukisan gaya modern, gambar gambar yang disuguhkan Isa gabungan konservatif dan modern, artinya warna yang ia suguhkan konservatif tapi ide yang ia hadirkan modern. Seolah olah ia ingin memberi penekanan bahwa hidup ini tak lepas dari dua pilihan, benar dan salah, maju dan mundur, tertawa dan menangis, kuat atau lemah, jujur atau bohong, hitam atau putih, meski manusia kadang terjebak untuk tetap berada pada dunia hitam bahkan lebih hitam dari perilaku hewan.

Tak perlu detail menulis karya karya seniman yang pernah memakan dua kilogram cabe dalam sebuah performance artnya ini, karena orang “awam” pun dapat memahami sendiri jika melihat langsung pameran ini, yang rencanaya setelah di Bandung, Isa akan melanjutkan pameran Nada Hitamnya di Jakarta, Solo dan Yogyakarta

 

<

p class=”MsoNoSpacing” style=”text-align:justify;text-justify:inter-ideograph;”> 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: