//
you're reading...
BUDAYA

TEATER MATAHARI 2006

indexGERAK HUMANIS DALAM TIDAK GERAK

 Matdon – Sinar Harapan Juli 2006

 Aktor teater Prancis Patrick Reynard dan aktor Indonesia Edi Sutardi, kembali melakukan kolaborasi lewat sebuah garapan teater yang megusung lakon berjudul “Tidak Gerak”, karya penulis Prancis Emmanuel Darley. Dipentaskan di Pusat Kebudayaan Porancis (CCF) de Bandung Sabtu malam (15/07), pukul 19.30 WIB.

Ini merupakan garapan ketujuh Teater Matahari yang mempertemukan dua aktor dari dua negara, nampaknya kedua aktor ini semakin kompak sejak kelom;ok Teater Matahari berdiri tahun 2002 lalu.

Naskah “Tidak Gerak” ditulis oleh Emmanuel tahun 2002, dan malam itu Patrick-Edi memainkannya degan total mengeksplor teknik dan estetik, berupaya menyampaikan”sesuatu” pada penonton lewat adegan adegan karikatural yang lucu. Naskah ini  bercerita tentang pertemuan dua manusia, dimana orang pertama selalu menginginkan orang yang dikenalnya bergerak sehingga ia leluasa untuk mengikuti garis lurus dengan orang pertama tadi, sayang orang yang dikenalnya itu hanya diam saja, tak bergerak sama sekali, kecuali berkata terus menerus “Saya tidak gerak!!”

Akhirnya kedua orang ini bertengkar seperti badut, tak jelas apa yang mereka perebutkan, anehnya keduanya juga saling membantu berbagi pengalaman, orang pertama membantu menyampaikan salam dari orang yang tidak mau bergerak tadi kepada orang-orang yang ditemuinya, semuanya bernama Ming, sekaligus membantu membuat orang tidak bergerak itu menjadi bergerak.  kehidupan memang selalu memiliki nilai-nilai relatifisme nan humanis, setiap manusia memiliki kebenaran terhadap kehidupan yang bersifat subyektif. Inilah yang hendak disampaikan oleh kedua aktor, sebuah penyampaian gerak tanpa kata. “Kami ingin menyampaikan kepada penonton di Asia, bagaimana manusia akan menghargai kehidupan pada saat  ia menyadari bahwa kehidupan perlahan akan meninggalkannya….”, ujar Patrick usai pertunjukan.

Orang pertama terus berjalan mencari apa yang selama ini ia impikan, yakni bertemu dengan seorang wanita yang mengendarai sepeda, dimana akhirnya orang kedua tadi ikut bersamnaya dan bergerak maju membantu menghampiri impian. Sayang di tengah jalan ia ketiduran dan pada saat itulah seorang pengendara sepeda melewatinya – orang yang selama ini dicarinya selama bertahun tahun. Tidur sejenak telah menghapus impiannya yang panjang, hingga ia memaki dirinya dengan kata kata sial!!

Lewat tangan dingin sutradara Irwan Jamal “Tidak Gerak” menjadi semacam penyadaran kolektif di tengah kegelisahan manusia. Cerita yang sederhana ini cukup universal dan penuh esensi, gambaran dua manusia dengan dua kebiasaan yang aneh bertemu dan saling membantu, menjadi ilustrasi bahwa  bagaimanapun manusia membutuhkan bantuan orang lain dalam mencapai keinginannya.

Humanis

Pesan kemanusiaan akhirnya menjadi tawaran mutlak dari pertunjukan ini. Teks dialog  yang ditulis Emmanuel Darley dan atraksi kontradiktif kedua tokoh, menyatu dalam menumbuhkan keyakinan dan hasrat yang serius,  yang satu kokoh dengan pendiriannya untuk terus berjalan, yang satu menyatakan sikap diam terhadap keputus asaan hidup. Memang dalam sebuah pementasan teater, bentuk dan isi dalam teks menjadi pilar besar pemanggungan hingga situasi menjadi  masif.

Teater Matahari yang berkedudukan di Bandung dan Prancis ini telah  dan akan merintis visi baru dalam perumusan serta penggalian terhadap berbagai kemungkinan persoalan persoalan interkulkural dalam teater , menawarkan sebuah bentuk lakon yang menyinggung permasalkahan humanis, sebuah upaya sederhana untuk membangun sikap rohani yanhg filosifis, kritis, cermat dan tidak emosiaonal.

Lakon “Tidak Gerak”  sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Spanyol, Inggris dan Indonesia, akan dipentaskan kembali di Lab.sastra UK Petra Surabaya  20 Juli dan di IAIN Serang Banten 27 Juli mendatang. “Kami ingin membina pertukaran kebudayaan antar bangsa melalui teater dan pengkajian seni budaya,” ujar Patrick dan Edi.

Teater Matahari telah menjajagi perjalanannya melalui berbagai pementasan di Indonesia, seperti Bunga Dalam Mulut, Terpidana Mati, Juru Kunci, The Lover, dan berbagai pertunjukan monolog, tidak tanggung tanggung, dalam kurun waktu emat tahun Teater Matahari telah main di  25  kota di Indonesia sebanyak 40 kali pertunjukan..

Inilah altertative cultural itu, sebuah suguhan lain namun tetap sederhana. Teater Matahari telah memainkan kegelisahan kegelisahan yang sering datang menghujam dalam keheningan panggung, menyeret penonton pada kesadaran untuk bergerak. Penasaran?, masih ada waktu untuk menjumpai mereka di Surabaya dan Banten.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: