//
you're reading...
BUDAYA

AKORDEON 2006

KOLABORASI AKORDEON DAN PERFORMANCE

 Matdon – Sinar Harapan Nopember 2006

index Empat puluh menit berlalu, tiba-tiba  Pascal Contet menghentikan memainkan alat musik akordeonnya, sementara dua performer dari VideoBabes pun demikian, ratusan penotnon memberi aplauase panjang dan terus duduk tak mau beranjak. Semua mengira pertunjukan belum selesai, sampai akhirnya Pascal lenyap dari panggung, penonton masih juga belum menyadari pertunjukan telah selewai, baru 10 menit kemudian seseorang naik ke panggung dan membuat closing.

Itulah pertunjukan yang terjadi  Jumat malam lalu (17/11) di Selasar Sunarayo Jl.Bukti Pakar Timur 100 Bandung, pada konser akordeon beetema “Meet Mister Greet”, sebuah pertunjukan kolaborasi langka antara permainana alat musik yang juga langka dengan performave dan dikombinasikan dengan video klip, jadilah pertunjukan ini pertunjukan komplit yang sederhana, lembut, greget dan indah.

Sejak dua seniman mulai tampil dan Pascal Contet memainkan alat musik itu, terasa ada yang mengalir dari panggung, sebuah performacer art gabungan gerak tubuh dan video projection, bersetting Bandung zaman dulu, bercerita tentang dua manusia berpendidikan tinggi yang terus berjuang untuk mempertahankamn hidup mereka, mencari kerja, berbakti pada dunia. Alur cerita mengalir dan mudah difahami meski tanpa dialog, lantaran penggabungan antara realita live performance dan proyektor video yang rapih, pemahaman penonton menjadi cair dan melihat abusurtditas psikologi dua karakter manusia yang tengah berada di simpang keraguan.

Ini karya segar, mempertanyakan kembali eksistensi manusia setelah menyelsaikan pendidikan  tinggi namun ternyata sulit mencari pekerjaan, sulit sekali rasanya melakukan perkenalan,  perjumpaan, pertikaian permaian dengan orang lain. Permainan solo akordeon Pascal terasa lembut mengiringii performance art, alat musik ini dimainkannya dengan santai, akrab dan konsentrasi. Menjadi ilustrasi dua seniman yang tengah memfokuskan diri mencari sesuatu.

Pasacal Contet mengikuti pendidikan sekolah tinggi musik sebagai akordeonis di Musikhochsule di Hannover dan juga di Konservatori Nasional Kopenhagen di Danemark. Ia memperoleh banyak penghargaan, Penghargaan Mogens Ellegaard pada bulan Mei 2000 untuk aktivitasnya sebagai solis dan  pencari repertoar.
Sesuai dengan perannya sebagai pencari, ia tidak berhenti mengembangkannya di tahun-tahun terakhir ini, baik di tingkat musik untuk teater, improvisasi dalam bidang musik klasik, musette, musik tradisional di seluruh dunia, elektro-akustik maupun di tingkat musik kontemporer.

Dari seminar-konser di mana ia mengemukakan sejarah akordeon yang luar biasa, yang seringkali tak dikenal, sine-konser di mana ia mengiringi film-film bisu, musik untuk kreasi koreografis bersama penari kontemporer, kreasi untuk berbagai bentuk pertunjukan, konser bersama orkestra simfoni hingga ke komposisi, Pascal Contet selalu berhasrat pada pertemuan-pertemuan artistik di antara dua dunia.

Pertemuan pertama dengan Indonesia kemarin,  bersama seniman-seniman video Indonesia , Prilla dan Ariani dari Video Babes.

Mungkin juga merupakan kesempatan mengenal kembali wajah Bandung tempo doeloe pada masa film bisu. Pertunjukan yang menggabungkan gerak tubuh dan proyeksi video sebagai medium tutur ini menceritakan dua karakter yang tidak pernah berhenti bertatap

muka.Penggabungan antara realita pertunjukan langsung dan realita proyeksi

“Permainan akordeon saya memang musik yang tak lazim terdengar, tidak mengikuti aliran manapun. Saya senang memeluknya. Akordeon ini menghirup musik para komposer dan menghembuskan perasaannya. Saya telah menyatu dengannya.” demikian Pascal Contet becerita setelah pertunjukannya, yang juga dipentaskan di CCF Jakarta 20 Nopember ini.

Sedangkan VideoBabes didirikan tahun 2004, oleh Ariani Darmawan, Prillia Tania dan Rani Ravenina, kelompok ini menjadi grup yang memfokuskan diri pada kegiatan dan karya berbasis video, biasanya melakukan kolaborasi dengan seniman local dan internasional.

Kolaborasi Konser Musik akordeon dan performac art menarik untuk terus dinikmati, sampai pada akhirnya kita berkesimpulan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam berkesenian, pengabungan seni ini dengan seni itu, sangat mungkin terjadi, tergantung keativitas seniman itu sendiri.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: