//
you're reading...
BUDAYA

3 PENYAIR JAKARTA 2004

11PUISI MILIK SIAPA?

Oleh : Matdon – Sinar Harapan Maret 2004

Kembalikan puisi kepada pemiliknya yang sejati…….

Kalimat yang ditulis tiga penyair yang kini tinggal di Jakarta, Sihar Ramses Simatupang, A.Badri AQ.T dan Yonathan Rahardjo, dalam buku kumpulan puisi “Padang Bunga Telanjang” itu, menelisik hati. Setidaknya, saya menangkap ini semacam protes lembut dari ketiga penyair, yang – entahlah – mungkin selama ini merasa puisi menjadi mahluk yang banyak diakui masyarakat pada umumnya. Seperti halnya lagu, banyak yang menyanyikan lagu, lalu ia mengaku sebagai penyanyi, padahal suara mereka pas-pasan, bahkan boleh jadi jelek  Setiap orang yang menyanyi bukan berarti penyanyi, tapi setiap penyanyi pasti orang yang
(pekerjaannya) menyanyi.

Adalah puisi,  setiap orang pasti bisa membuat syair, tapi apakah mereka termasuk katagori penyair.  Tentu saja harus ada persyaratan tertentu, tapi kan, sering kita dengar ada penyanyi tingkat RT, RW atau Kelurahan, apakah berlaku juga bagi penyair tingkat RT, RW atau Kelurahan?.

Kembalikan puisi kepada pemiliknya yang sejati…..

Menjadi jelas, ketika Sihar, Badri dan Yonathan datang ke Bandung untuk ngamen sastra, pada Minggu malam lalu (29/2), di halaman toko buku Ultimus Jl. Karapitan 127 Bandung,  memperkenalkan karya bersamanya, membacakan puisi dan menjualnya ke publik sastra Bandung lewat dialog sastra, dengan pembicara Soni Farid Maulana dan Juniarso Ridwan.

Menulis puisi bukan pekerjaan mudah, ia adalah sejumlah pengalaman bathin, menggambarkan realitas hidup, penuh estetika, idiom dan metefora metafora,
secara gamblang, realitaslah yang ditulis penyair.  Kematangan nalar kemudian menjadi persoalan dalam bekerja menulis puisi. Puisi ditulis dengan rekaan
kata, tapi isinya adalah realitas kata.

Tak banyak, atau mungkin tidak pernah ada orang yang bercita-cita menjadi penyair. Coba saja kita bertanya pada anak-anak remaja kita pada umumnya, “Apa cita-citamu nak?’, jawabnya, kalau tidak menjadi Presiden atau ketua MPR, pasti menjadi pengusaha, atau masuk AFI (Akademi Fantasi Indosiar), supaya menjadi penyanyi tenar, sebab menjadi penyair bukanlah cita-cita luhur seluhur pangkat insinyur atau sarjana ekonomi.

Saya setuju apa yang diungkapkan Sihar, “Puisi adalah salah satu jalur  lalu lintas sastra yang kini sangat ramai dan berseliweran”, munculnya penyair-penyair
muda adalah salah satu buktinya. Membaca sajak-sajak ketiga penyair dalam “Padang Bunga Telanjang”, terbitan Rumpun Jerami Depok, terasa seperti membaca
kehidupan sesunguhnya, setidaknya ada  ruang multidimensi yang menyuguhkan realitas hidup, cinta, kepahitan, religi dan putus asa.

Dalam sajak  Iqro yang ditulis Yonathan: Manakala matahari masih berselimut kabut/sayup kudengar di dasar hati/iqro!!/aku melesat dalam ayunan lebah
salju// (halaman 39), menunjukan pengalaman bathin yang berat penyairnya, manakala harus membaca hidup sebagai sebuah firman Tuhan, estetika telah
diupayakan, menangkap ruang bathin sudah tercapai dan selesai, kegelisahan sudah bermakna, lalu apa lagi?.

Pun pada sajak Sihar berjudul “Dalam Pelukan Dua Kota”, berbunyi : Hari ini dua kota/memeluk aku yang sedang gila/dirangkul dua/hati menggumpal rasa/dicium
dua/semakin menyembul rindu//. Atau pada sajak Badri “Mata Serdadu Pada Malam Kita” : Ina, bisakah kita melupakan /mata serdadu itu yang terus/mengendap-endap
kemana orkes kita/menggelar di lapangan terbuka//

Ketiganya telah menangkap realitas, dituangkan dalam puisi dan dinyatakan (dipublikasikan) sebagai sebuah puisi, benar-benar puisi. Tafsir ketiga penyair
terhadap hidup menunjukan kekuatan estetika dengan ciri khas masing-masing, ketiganya mengolah desakan dan kegelisahan menjadi majas yang majis. Tematis,
itulah persoalannya, tema-tema sunyi, cinta, dan religi menjadi bagian penting dari keberadaan penyair.

Kembalikan puisi kepada pemiliknya yang sejati…..

Jadi, sesunguhnya,mereka tidak usah takut kalau puisidirebut banyak orang yang bukan penyair, karena jelas, puisi itu milik penyair dan siapapun bisa jadi
penyair, tetapi pemilik sejatinya puisi, tetaplah penyair.  Dan penyair  adalah mahluk yang dapat menemukan kepekaan dalam mengungkap lirih batu menangis, suara air hiruk pikuk, nyanyian burung berserakan, doa pelacur mengalir,  orasi politikus
berjanji, dan seterusnnya.

Kalaupun ketiganya merasa gamang, seharusnya pada saat hakim agung membuat syair tegas, begitu memvonis Akbar Tanjung, “Dengan ini, demi hukum Akbar Tanjung bebas!”, atau sepenggal pernyataan Sukma Ayu “Ini bukan fotoku”, atau pada saat sastra Rhoma Irama mengumandang “Goyang Inul itu haram”.
Nah, apa yang kalian takutkan!!, berkaryalah.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: