//
you're reading...
BUDAYA

TETET CAHYATI 2005

5Luncurkan Album Musikalisasi Puisi

Matdon _ Sinar Harapan Maret 2005

 

Sejumlah puisi karya novelis, cerpenis, Pelukis dan penyair asal Bandung Tetet Cahyati, berjudul “Nyanyian Anak Pertiwi”, sebenarnya sudah diluncurkan beberapa waktu lalu, namun disinyalir tidak sukses di pasaran. Mungkin lantaran isinya terlalu berat untuk sebuah industri musik di Indonesia, atau mungkin tim pemasaran tidak gencar melakukan promosi, sehingga nyaris tidak ada satu radio pun di Bandung yang memutar lagu-lagunya .

Lalu Tetet menggandeng musisi Adjie Soetama dan penyanyi Rida RSD, jadilah album musikalisasi “Nyayian Anak Pertiwi” daur ulang ini terwujud, dan pada hari Sabtu 7 Mei 2005 ini, diluncurkan di Gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta. Album tersebut berisi 10 puisi yang sudah diaransemen menjadi lagu-lagu, Rida RSD sendiri membawakan sebuah lagu berjudul “Kasih”

Selain penyair, Tetet sendiri adalah  dosen di STMIK Bandung, Penilik Dikmas Dinas Pendidikan, Ketua Sanggar Menggambar Griya Seni Popo Iskandar (SMGSPI), Ketua Sanggar Seni Tirtasari (SST), dan Ketua Komunitas Sastra Dewi Sartika (KSDS) Jawa Barat. Di sela-sela jadwal kerjanya yang padat, beberapa waktu lalu, perempuan energik ini sempat menerbitkan kumpulan Cerpen “Lelaki Berdasi Merah” (Pebruari 2005) dan Pameran Lukisan di Rumah seni Alexandra Kemang Jakarta (April 2005) bersama para wanita pelukis lainnya.

Bakat seni yang dimiliki putri kelima dari sebelas bersaudara yang lahir dari pasangan pelukis kenamaan Drs. Rd.H. Popo Iskandar (alm), dan Rd.Hj. Djuariah ini sudah tumbuh sejak usia TK. Tetet juga mengatakan kalau dirinya sudah bergaul dengan musik sejak kecil. Ayahnya di rumah selalu menyuguhkan lagu-lagu dari piringan hitam dari sejumlah penyanyi. Seperti lagu-lagu Titiek Sandora, atau Teti Kadi. Ketika Tetet kecil, sangat langka lagu anak-anak. Maka tak heran jika ia menguasai lagu Sepasang Rusa, dan Bunga Mawar dari Teti Kadi. Selain itu, Tetet yang dikenal sangat dekat dengan ayahnya.

Tetet menyukai dunia sastra termotivasi oleh kebiasaan ayahnya yang setiap menjelang tidur selalu mendongeng kepada sejumlah anak-anaknya. Popo Iskandar banyak menyediakan bacaan anak-anak dari luar negeri seperti Hansel and Gretel, Pinokio, Cinderella dan bacaan lokal dalam negeri seperti Si Leungli dan Sangkuriang.

“Sejak kecil saya memang sudah senang musik, bernyanyi, menulis dan menggambar. Lagu-lagu dari Titik Sandora, Teti Kadi, saya dendangkan. Gambar-gambar dari buku Hansel and Gretel juga saya tiru,” ujar ibu dari Angga Campaka, Surya Wisesa, dan Ilma Puspa Nusa.

Ia sendiri mengatakan tidak bisa dipisahkan dari dunia sastra dan dunia seni lukis, karena telanjur menyukai keduanya. Persoalannya hanya masalah waktu. Kalau waktunya mood di sastra, ia konsentrasi di sastra. Menurut Tetet berkarya sastra bisa dilakukan di mana pun, sedangkan dalam melukis selain ada waktu harus punya tempat khusus. “Tapi kadang-kadang kalau kesibukan melanda hanya menulis yang lebih bisa dilaksanakan. Ruang, tempat, situasi dan kondisi dalam menulis lebih memungkinkan. Ada kalanya sambil menunggu jemputan, atau menunggu apa, saya bisa menulis di bawah pohon. Dalam melukis lain, karena harus ada waktu dan tempat khusus,” ujar perempuan berpenampilan kalem ini.

 Belakangan,  Kandidat Doktor Ekonomi Unpad ini tengah terobsesi oleh kesenian tradisional Sunda, yang ia nilai kurang dikenal generasi muda Sunda sekarang, yang dikhawatirkan akan punah. Antara lain, kesenian Debus, tarling, tanjidor, kuda renggong dan sisingaan. Buktinya, Tetet Cahyati sedang membangun  sebuah panggung terbuka seluas 36 M2 yang berdiri di seputaran Sanggar Seni Tirtasari (SST) tempat ia mengelola kursus kesenian selama ini.                    

 Kembali ke soal sastra, melalui album Musikalisasi puisi berisi 10 lagu ini, Tetet ingin berbicara bebas soal cinta, alam, perempuan , perjuangan dan persahabatan, ia berharap masyarakat musik Indonesia mau menerimnya sebagai sebuah persembahan yang jujur. Akankah sukses ini diraihnya?, setelah ia sukses dengan karya-karya dan kreativitas lainnya?. Wallahu A’lam, waktu tetap yang akan menentukannya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: