//
you're reading...
BUDAYA

LAUTAN SESAK 2005

indexPAMERAN ARMAN JAMPARING

Matdon – Sinar Harapan Mei 2005

 

Sejak lama Bandung dikenal sebagai gudangnya pe-drawing, di kota kembang ini lahir para perupa drawing yang kemudian eksis serta konsisten dengan tarikan garis dengan ciri masing-masing. Sebut saja Isa Perkasa, Rudi St Darma, Tisna Sanjaya, lalu lahir generasi Nandang Gawe, Iwan R Ismail, Dede Wahyudi dan lain-lain. Mereka tumbuh dan besar, bersaing dan bersahabat, bermain dan serius melakoni kegelisahan, dan..sekali lagi –  konsisten dengan apa yang mereka lakoni sehingga masing-masing karya gambar mereka memiliki ciri khas masing-masing.

Mengawali tahun ini beberapa diantara mereka malakukan pameran tunggal, dan luar biasa memang, pameran drawing mereka laku keras, para peminat melalap dan memborong karya mereka, Bandung seolah olah menjadi incaran  pasar drawing yang ramah dan murah, sebut saja pameran drawing Dede Wahyudi, enam drawing terjual, pameran Nandang Gawe banyak diincar kolektor, drawing Isa diburu media massa.

Adalah Arman Jamparing, anak muda punk dan liar ini melakukan pameran drawing bertajuk “Sesak” di taman Budaya Jawa Barat Jl.dago Bandung, sejak 7 – 16 Mei 2005. Inipun menjadi fenomena tersendiri, saat pembukaan Sabtu malam kemarin, sepuluh drwaing karya Arman terjual.

 Mengenal Arman adalah mengenal kegelisahan dan keliaran berfikir, seniman kelahiran Garut 1970 ini, kerap memperlakukan tubuhnya dalam perfomance art Gaya dan aksinya sangat terasa vandalis dan anarkis seperti ketika melempari bilboard dengan cat di jalan Setiabudi atau ketika menabrakan tubuhnya pada tumpukan kursi., dan ketika tangan, hati dan pikirannya membuat garis dan arsir dengan pensil,  pada gaya drawingnya ada kelembutan disitu Tetapi sangat ekspresif seperti ada dendam yang tidak bisa meledak. Militansi Arman merupakan militansi invalid urban kota  yang mencintai kota Bandung, karya drawingnya,gaya arsir dan garisnya yang lembut, liar dan ekspresif tetap melaui proses konseptual dan mengajak membaca imajiasinya yang dibangun dengan simbol simbol dan visualisasi naif.Armandjamparing

 LIARNYA LIAR

 Ini salahsatu ciri khas Arman jika napas, hati dan kepalanya sesak, menyaksikan ketidakadilan dan kemunafikan di muka bumi, ketika wafatnya pahlawan HAM Munir yang diracun oleh kospirasi penguasa lalim Arman membuat sebuah instalasi yang terbuat dari drum plastik besar berwarna biru muda berisi air sabun, disangga tiang-tiang kayu bekas tukang cat dari dalam drum Keluar 6 buah selang air menjulur kebawah kearah penonton lantai galeri YPK becek oleh genangan air sabun.. Para pengunjung hati-hati berjalan dilantai yang licin . Pertunjukan meniup buih sabun berlangsung 20 menit Namun perfomance artnya sangata inspiratif

Pada perfomance art di CCf bulan februari2005 arman mengusung Tema doa yang ia pertunjukan di kafe ultimus sebagai sebuah penghormatan, solidaritas bagi korban bencana alam di Aceh.propErty yang dipertunjukan Arman dan teman-teman berupa mesin bubut listrik, palu, gergaji, pelat besi, dan seng.adalah realitas keseharian para pekerja, buruh pabrik di bengkel atau pekerja diatas arena kesenian. Lalu banyak lagi ulahnya d ruang-ruang publik, di halaman gedung DPRD Kota Bandung, saya pernah bersama membuat performance art dengannya ketika tuhuhnya rela dibiarkan ditaburi makanan panas yang saya makan tanpa tangan, sebagai sebuah protes gundulnya kawasan huytan Punclut yang malah akan dibanguna hotel olehWalikota Bandung, msih di tahun 2005.

Pada karya drawing yang dipamerkannya dengan tema “Sesak”, Arman tetap liar, garis-garis potlotnya berserat, Seorang Bandung terkenal Mukti Mukti mentatakan, .seandainya Arman adalah seorang nelayan,maka ia adalah nelayan dengAn kapal yang besar-besar panjang.nelayan dengan kapal besar itu punya banyak teman pelaut yang sepanjang malam bercengkrama dengan ombak bahkan badai sekalipun.bisa jadi pagi  pulang dengan hasil ikan yang kecil-kecil dan mimpi menjadi satu ,tapi ia adalah seorang penggaris. yang memulai karirnya dari menggaris hitam tipis lalu tebal dan kemudian bercerita tentang lakon hidup, tentang penyakit, tentang kemuraman masa depan, tentang kematian atas pembunuhan,  Lebih jauh Mukti menilai, garis drawaing Arman hidup tapi tidak genit.

           

Lihat pada karya Drawing  “Bayang Bayang kekerasan”, atau pada “Doktrin Politik” dan “Penyebar Isue”, Arman melakukannya melalui pendekatan konteks persitiwa di negeri ini, eksplorasi pensil, kertas ataupun kanvas dituangkannya melalui kritik yang estetik, terkadang kasar namun tidak kesasar, lugu tidak belagu, geram dan seram, nyinyir getir, tetap liar dan sesak.

Seperti Nandang Gawe, Arman juga kerap terlibat di teater, tari, musik  film indiependent, selaku sutradara, aktor, penata artistik, maupun penata musik, bedanya ia lebih banyak merespon ruang  publik dalam proses kreatifnya. Lewat ruang publik ia keluarkan semua fikirannya yang sesak, pada drawing ia muntahkan nuraninya yang sumpek. Apalagi Man?, tersukan gairah itu sampai kamu mampu merubah negeri ini, atau mati sesak napas.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: