//
you're reading...
BUDAYA

JENAR ACTORS UNLIMITED 2005

Gambar Syekh Siti JenarKONFLIK POLITK ATAU AGAMA?

Oleh : Matdon – Sinar Harapan Agustus 2005

 Actors Unilimited (AUL) Bandung, menggelar pementasan teater dengan naskah  Jenar atau Syekh Siti Jenar karya Saini KM, di kampus STSI Jalan Buahbatu Bandung, 25 hingga 28 Agutrus 2005. AUL denga sutradara muda Fathul Husein, mengangkat persoalan lama yang masih baru, persoalan Agama yang makin tidak tabu, persoalan politik yang makin mengharu biru .

Alkisah Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang  atau   Syekh  Sitibang, atau Syekh Sitibrit atau Siti Abri atau Hasan Ali Ansar atau Sidi Jinnar, seorang wali diantara walisanga penyebar Agama Islam di pula jawa, menjadi tumpuan harapan rakyat di kerajaan Demak (1499 m) ketika berbagai bencana menimpa mereka ; anak-anak tak berdosa mati, ibu tewas kelaparan, bapak tertiup topan, dan sejumlah penderitaan lainnya. Keberadaan Jenar semula diharapkan mampu mengsusir bencana itu, tapi Jenar memiliki konsep lain soal bencana, permintaan do’a rakyat agar bencana terhenti ditolak mentah-mentah sebab Jenar memiliki konsep bahwa Tuhan tidak bisa disuap oleh tahajud atau doa apapun, kalau bencana itu harus datag pasti datang juga.

 “Jangan memanusiawikan Tuhan, tidak ada derita bagi orang-orang yang bertawakal , Tuhan tidak mungkin terkecoh dengan do’a doa kita,” demikian Jenar memberi fatwa, seraya menambahkan bahwa semua bencana adalah jalan menuju pencerahan agar manusia bisa interospeksi.

Tak hanya itu, konsep Jenar tentang Tuhan semakin menambah suasana Demak menjadi kacau dimana mesjid-mesjid  dibakar,  beduk-beduk disobek, benar benar terjadi chaos hebat. Apalagi saat  Jenar mengajarkan konsep Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan. Dalam pandangan Siti Jenar yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;

Pun saat  diminta menemui para Wali, ia mangku bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;   Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sejati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah” Artinya : jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan.

Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.

Ajaran Jenar berkembang, Raja terpengaruh provokasi Darmacaraka yang disebut sebut sebagai aktor intelektual saat itu, seorang raja bernama Kebo Kenongo tewas akibat mengikui ajaran Jenar yang dianggap sesat.  Konflik pun tak jelas, apakah itu konflik politik atau Agama, karena kemudian Darmacaraka berhasil mempengaruhi  para wali untuk mengadili Jenar dan memang secara fisik Jenar mati dihukum gantung.

 

Siapa Jenar?

Dalam pementasan ini, AUL boleh jadi ingin bicara soal perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.

Sebagai penonton, saya melihat konflik para wali saat itu lebih seru  ketimbang konflik ulama sekarang, pertikaian mereka dibalut politik yang kotor bahkan sampai terjadi pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.

Kisah Jenar mengingatkan file pelajaran di SMA saya dulu, tentang ajaran-ajaran seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992) yang pernah berkata “Annal haqq” artinya : “sayalah kebenaran yang sejati itu“. Juga pada seorang wanita suci bernama Rabiah al Adawiyah yang juga mengajarkan hal yang sama.

Jenar menuai konflik Agama, ia mati terbunuh. Saya tidak tahu, jika seseorang “terbunuh” akibat konflik politik membela kebenaran hakiki, apakah ia juga termasuk Jenar?, Munir misalnya. Lalu konflik soal keyakinan Jemaah Ahmadiyah Indonesia juga seperti itu rumitnya?

Ternyata konflik politik di antara ulama/kiai bukan hal yang baru, karena kita bisa melihat akar konflik seperti itu sudah terjadi sejak dahulu kala, tentu dengan konteks yang berbeda. Hal yang wajar tetunya, yang tidak wajar adalah  ketika konflik -yang biasanya bersifat pribadi ulama harus mengorbankan kepentingan umat dan kemaslahatan organisasi.

Sebagai penonton pertunjukan  yang sempat tertidur sejenak di beberapa dialognya, saya merasakan Jenar berada dimana-mana. Pun ketika saya pulang ke rumah, nonton televisi, mendengar radio, melihat anak-anak sekolah, melihat wartawan mencari berita, Jenar ada dimana-mana, mereka sedang mempertahankan konsep diri masing-masing, entah konsep agama atau konsep apa.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: