//
you're reading...
BUDAYA

DAGO FESTIVAL 2004

dagoSEBUAH KENANGAN ABADI

Oleh :Matdon – Sinar Harapan Desember 2004

Dago Festival (Dafest) 2004 baru saja berakhir Sabtu pekan lalu, ini adalah festival ke empat, sebuah festival musik dan sastra yang unik, setelah tiga Dafest sebelumnya banyak dicaci, rupanya kesuksesan yang baru terjadi selama empat kali digelar, menjadi festival terakhir, karena untuk tahun selanjutnya, tidak akan ada lagi Dafest kelima, keenam dan seterusnya. Ya, tradisi Dafest harus berakhir. Alasannya sederhana, yakni  konsep penataan kawasan Dago, terutama Jalan Ir. H. Djuanda, Pemkot Bandung tidak akan lagi memberi izin penyelenggaraan Dago Festival selanjutnya.terasa ironis.

Citra Dago dikenal bukan sebagai nama jalan, namun sebagai kawasan gaul anak-anak muda, apalagi jika Sabtu malam tiba, Dago menjadi semacam Rendevouse kreativitas, cinta dan niaga, Dago  memang telah dikenal dan menjadi fenomena menarik Kota Bandung. Dan, sebuah festival memang selalu berangkat dari keinginan mengakomodasi fenomena yang terjadi, seperti yang dilakukan Republik Eintertainment sebagai pihak penyelenggara Dago Festival.

Jika pada Dafest sebelumnya, selalu terjadi keributan, bentuk seni yang diusung melulu musik brang breng brong yang memekakan telinga, kali ini jenis musik lebih cool, dewasa dan penuh sensasi, ditambah lagi sang Presiden Republik Entertainment Wawan Djuanda, mau menggandeng sastra, dengan dibukanya wilayah warung sastra di sepanjang Jalan dan Taman Ganesha ITB. Disana ada pertunjukan Performance art, Monolog, pembacaan puisi para penyair seperti Acep Zam-Zam Noor, Iskandar Berian, Juniarso Ridwan dan lain-lain, ada musikalisasi puisi bersama Mukti-Mukti, Feri Curtis, Ari Juliant dan Micko Protonema.

Namun, pemerintah kota Bandung  selalu mempunyai argumentasi dan banyak soal yang bisa diperdebatkan, mulai kebutuhan Bandung sebagai kota Seni dan Budaya– pada sebuah festival, dan kenyataannya dalam organisasi pengelolaan serta pemilihan ruang geografisnya yang terpusat di Kawasan Dago, dengan sejumlah risiko yang ditimbulkannya. Paling tidak, di mata Pemkot Bandung, festival yang menjadi ajang anak-anak muda merayakan kebersamaan dan keberagaman itu, telah menimbulkan dampak yang tidak sedikit –mulai dari sampah, kemacetan yang memaksa adanya perubahan jalur lalu-lintas, hingga keluhan sejumlah warga sekitar.

Dampak inilah yang terjadi secara jelas terjadi pada penyelenggaraan Dago Festival Tahun 2003 yang lalu. Ruang yang terbatas tak bisa lagi menampung ribuan massa yang datang. Ratusan orang pingsan dan panik karena terhimpit kemacetan manusia dan kendaraan. Bahkan, jalan menuju lokasi-lokasi penting seperti RS Borromeus pun ketika itu tertutup massa. Kondisi itu jelas sangat mengganggu.

Dan (mungkin) gara-gara itu, Dago Festival  berakhir. Dan, jika benar, yang perlu dicatat adalah festival ini telah menorehkan sejarah budaya yang penting bagi Kota Bandung, di tengah kenyataannya yang tak memiliki satu festival pun, yang bisa di sebut sebagai city event (peristiwa kota), yakni sebuah festival yang telah mentradisi dan menjadi ciri khas kota tersebut, seperti Festival Kesenian Surabaya (FKS), Festival Kesenian Bali (FKB), atau Festival Seni Yogjakarta (FKY).

Sejak tahun 2001 Dago Festival dimulai dengan konsep street festival di sepanjang Jl. Ir. H. Djuanda. Materi festival ketika itu lebih cenderung pada pertunjukan musik. Konsep yang hampir sama juga diterapkan pada Dago Festival 2002. Musik tetap menjadi materi yang mendominasi dengan publik anak-anak muda yang dijadikan sasarannya. Pada penyelenggaraan tahun kedua itulah antusiasme publik mulai terasa. Dan karena itulah pada tahun 2003, Republik Eintertainment sebagai penyelengara mulai berkonsentrasi pada manajemen pengelolaan untuk bisa menjadikan festival ini sebagai sebuah city event dengan melibatkan institusi-instuti pemerintah, meskipun cenderung masih berbaua Dago Festival sebelumnya, massif, karena berada dalam ruang yang terbatas.

Dan Dafest 2003 seperti sebuah akumulasi kekhawatiran warga, kerusuhan nyaris terjadi, namun pada Dafest 2004, Wawan Djuanda menjawab semuanya, dan hebatnya, Dago Festival 2004 betul-betul sukses, padahal sebelumnya ijin dari kepolisian tersendat-sendat karena kekhawatiran terjadi kerusuhan.

Dago Festival 2004 Sabtu lalu, tidak lagi menggunakan konsep street festival, tapi area festival (festival kawasan), konsep festival sebelumnya terkonsentrasi di sepanjang Jl. Ir.H. Djuanda, Dago Festival 2004 disebar ke beberapa tempat di kawasan Dago. Dan, inilah Dago Festival terakhir itu. Pertanyaannya sekarang, masihkah ada festival di Bandung yang langgeng?, ya Bandung tengah menanti festival-festival selanjutnya pasca Dago Festival, sebagai sebuah Landmark kota, jika masih ingin disebut kota seni dan budaya. Jadi?

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: