//
you're reading...
BUDAYA

BLACK MOON 2005

PICT0336.JPGKolaborasi Teater Payung Hitam dan The Lunatics

 Matdon – Sinar Harapan April 2005

 

Sangat setuju dengan Imam Muhtarom, seorang pengamat teater yang mengatakan, saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang sifatnya tidak terjangkau masyarakat karena beban-beban estetik. Beban bagaimana sebuah konsep yang jelas mesti dipertaruhkan dengan bentuk yang jelas pula. Penguasaan medan konseptual dan medan operasional menjadi bukan hanya penting bagi seorang sutradara tetapi juga bagi semua yang terlibat dari penggarapan.

Hal inilah yang membuat dua  Kelompok teater Payung Hitam (Bandung) dan the Lunatics (Belanda) melakukan kolaborasi pertunjukan teater lokasi non verba berjudul Black Moon tanggal 8,9,10 April 2005 di Selasar Sunaryo Jl. Bukit Pakar Timur Bandung dan 2-8 Juni 2005 di Belanda. Keduanya bertemu untuk menggabungkan kehalian bersama dengan menciptakan sebuah pertunjukan, yang bertkisah tentang tangisan dan nyanyian, sebuah kisah yang diilhami oleh legenda Nini Anteh (Jawa Barat) dan bencana Tsunami, dengan sutaradara Rahman Sabur dan Koos Hogeweg.

 Payung Hitam merupakan kelompok tetaer yang sudah berdiri sejak tahun 1982 dan telah memproduksi 65 naskah pertunjukan, sedangkan The Lunatics sudah mementaskan 102 naskah sejak berdirinya tahun 1994 lalu. Naskah Black Moon merupakan hasil proses pencarian karya seni yang dilakukan oleh keduanya dengan komitmen membangun korespondensi dan dialog langsung, dilihat dari sebuah peristiwa dengan perspektif teater yang kontekstual dan universal.

Payung Hitam dari Bandung, sering melakukan pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktornya sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penontonnya. Aktor-aktor yang tidak berusaha membangun identifikasi watak yang jelas. Sama sekali tidak ada dialog yang menunjukkan ada persoalan yang menggayuti para aktor sebagai perangkat penunjuk sebagaimana konvensi pertunjukan teater. Brgitu halnya Lunatics, menurut pengakuan Koos, kelompok ini pernah mendapat penghargaan ketika mementaskan naskah  The sent Men di Jerman, dengan gaya teater yang tak berbeda dengan Payung Hitam.

 Melalui Black Moon keduanya mencoba memberi cakrawala lain bahwa teater tidak berhenti pada dialog ,dengan menyadari gestur tubuh juga dapat menjadi medium komunikasi, pementasan yang pernah digarap Payung Hitam (Kaspar, Relief Air Mata) menjadi suatu pementasan yang subversif di tengah mewabahnya pementasan teater eksploratif yang sesungguhnya menunjukkan kekacauan konsep tatkala hanya memamerkan kelihaian temuan gerak tanpa berawal dari konsep yang jelas.

 

 

Legenda Nini Anteh

 Bagi sebagian orangtua di Jawa Barat, Nini Anteh merupakan legenda atau kisah seorang nenek renta yang selalu melakukan dialog dengan bulan saat sedang bermasalah, baik masalah sosial, budaya atau mesalah kehidupan manusia pada umumnya terutama akhlak. Bulan menjadi tumpuan harapan (demikian legenda itu bercerita), bagi terangnya kembali fikir dan hati manusia. Saat manusia fikiran sumpek, saat hati buta, saat do,a mandeg, Nini Anteh melaporkannya pada bulan dalam bentuk dialog.

Disinilah ketertarikan The Lunatics untuk mengadopsi legenda itu menjadai naskah Black Moon, ditulisRahman Sabur  bersama Koos Hogeweg, ada moment moment ketika rembulan bersembunyi, dan tidak diketahui seorangpun penyebabnya. Tentu saja cerita menjadi berubah, dalam Black Moon musik dan derau, humor dan tragedy, citra alam yang aneh muncul dalam cerita ini. Peran  Nini Anteh berubah menjadi kakek dan inilah kontradiktifnya naskah Black Moon dengan legenda asli.

Bagi peminat pertunjukan teater, pementasan ini rasanya wajib ditonton, sebuah pertunjukan hasil kolaborasi no verbal. Karena konon, saking seriusnya kedua kelompok ini menggarap produksi naskah Black Moon, selama satu bulan mereka melakukan Loka Karya di Bandung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: