//
you're reading...
BUDAYA

TEATER MUSIKAL “SAWUNG GALING”

swwgLEGENDA LAMA, LEGENDA PERDAMAIAN

Oleh : Matdon – Sinar Harapan September 2004

 

Selama empat tahun, Sidetrack Performance Group dari Australia menjalani proses teater tradisional Jawa Timur,, sang sutradara Don Mamouney datang ke Indonesia dan mencari 12 aktor dari tiga kota, Bandung, Yogyakarta dan Solo. Dan melalui audisi ketat, ia mendapatkan ke 12 aktor itu, maka digaraplah sebuah legenda Sawung Galing, dalam sebuah pementaan teater musikal kolosal dan akbar, mereka “dikawinkan” dengan kelompok musik pimpinan Sawung Jabo.

Tiga kota sudah mereka singgahi, Di Yogyakarta 4 September lalu pementasan ini konon disaksikan 3000 orang di tengah hamparan sawah, 6 September mereka mengagetkan Taman Budaya Solo dengan jumlah penonton yang lebih besar, dan pada tanggal 10, giliran Tugu Pahlawan Surabaya diguncang pementasan kolosal ini. Betapa tidak, pementasan ala teater tradisi Ludruk ini memang sengaja menghampiri penonton, selain itu alur cerita pun tidak memaksa penonton untuk mengernyitkan kening lebih lama, karena cerita dibuat sederhana dan gampang dicerna

Sidetrack, adalah kelompok teater profesional Australia berasaskan komunitas, didirikan tahun 1979 di kampong Marrickville dekat Sydney, dan sejak itu Sidtrack sudah keliling jauh baik nasional maupun internasional. Melakukan kerjasama dengan berbagai seniman di dunia dengan latar belakang berbeda, dan selalu mengembangkan cara-cara baru membuat teater dan menyajikannya.     

Pada Selasa malam kemarin (14/09), bertempat di Bumi Sangkuriang Bandung, kelompok Sidetrack Performance ini lagi-lagi mendapat aplaus lumayan , meski jumlah  penonton berjumlah kuang dari 1000 orang, ini lantaran pemilihan lokasi yang kurang strategis bagi massa yang berada di tengah-tengah perumahan elit kawasan Ciumbuleuit, sehingga puluhan tukang ojeg dan tukang becak hanya mampu berdiri di luar bangunan Bumi Sangkuriang, mereka malu masuk ke out door yang berada di belakang Gedung Megah itu, selain wajah Satpam membuat mereka miris dan malas permisi.

 

Joko Berek dan Ayam Jago

Cerita Sawung Galing garapan Don ini, disadur bebas dari cerita rakyat Jawa Timur, mampu merenggut penonton ke dalam dunia hingar bingar dan hiruk pikuk persoalan anak manusia, para tirani mengelola kemelut dan prasangka di antara rakyatnyasendiri demi sebuah kekuasaan.

Di sebuah kerajaan antah berantah, seorang raja Rojonbo mati dan meninggakan kerajaan yang diwariskan kepada dua anaknya, Bangbang dan Boomboom. Sepeninggal ayahandanya, kerajaan menjadi kacau, karena masing-masing menyemaikan kebencian dan menyukai kekuasaan. Hingga pada akhirnya Boomboom bertemu Suci, gadis desa yang kemudian melahirkan anak perempuan bernama Joko Berek, nama itu diberikan neneknya agar keselamatan anak tersebut terjaga karena perang terus berkecamuk.

Perpisahan antara Boomboom dan Suci tak terelakan, sedang Joko Berek tumbuh dan berkembang menjadi lelaki dan memiliki sahabat seekor ayam jago yang “cerdas”. Berkat ayam jagonya itu pula, Joko Berek mampu mepersatukan dua kerajaan yang saling berseteru, yang salahsatunya adalah kerajaan milik ayahnya.

Cerita, adegan dan gaya teaterikal, kandungan humor-humor cerdas dalam pementasan Sawung Galing mencerminkan kerjasama yang baik dan kreatif antara Indonesia dan Australia, pesan pesannya memiliki konteks kekinian yang universal, sebut saja konteks peledakan bom di kedutaan Besar, meski tak diumbar secara eksplisit dalam pementasan ini, tapi mampu memberi inspirasi bagi sebuah pesan perdamaian.

Pentas teater musikal Sawung Galing oleh Sidetrack performance dengan sutradara Don mamouney dan musik Sawung Jabo ini, pada tanggal 16 September (malam nanti), juga kembali digelar di Lapangan Hoki, Gelanggang Remaja Sumantri Brojonegoro, Kuningan Jakarta, yang letaknya sekitar 500 meter dari Kedubes Australia. Tempat ini dipilih tidak disengaja, tapi memang sudah ada dalam jadwal. Kalaupun akhirnya pesan-pesan yang disampaikan lebih stressing pada kasus bom, maka itu sebuah kebetulan saja, tapi bagaimanapun juga, “Setiap persitiwa yang terjadi, akan selalu mengilhami pementasan yang sedang berlangsung,” ujar Don mamouney, usai pementasan di Bandung.

Pentas ini dimainkan para aktor pilihan dengan penuh semangat tinggi, penuh komedi, berlari, kadang bernyanyi, ada yang naik motor butut, bermusik dan jingkrak jingkrak. Kondisi para pemain yang sudah dua bulan dilatih fisik, memungkinkan untuk mampu menggetarkan totalitas kesadaran kita, nikmat dan perlu.

<

p class=”MsoNormal” style=”text-align:justify;”>Persoalannya sekarang, maukah kita belajar dari sebuah legenda perdamaian untuk mencintai perdamaian itu sendiri?.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: