//
you're reading...
BUDAYA

SENTUHAN LEMBUT

DIALEKTIKA TUBUH LIMA PENARI

Oleh : Matdon – Sinar Harapan Senin 9 Pebruari 2004

 Lima penari kontemporer muda dari lima kota, masing-masing Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta), Hanny Herlina (Jakarta), I Nyoman Sura (Bali), Lena Guslina (Bandung) dan Herry Lentho (Suarabaya), “menjual” tubuh mereka di atas pentas, ratusan pasang mata publik kota Bandung, di auditorium Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) de Bandung, Sabtu malam (7/2) adalah saksi matanya.

Bimo memulai tariannya berjudul “Maya”, sebuah gambaran kegelisahan antara menghadapi hari ini dan esok, tubuh koreografer yang sudah pentas keliling dunia ini, terbalut bentangan kain yang membentuk lingkaran, hanya kepalanya yang terlihat nyinyir dan sepi, dalam tariannya, Bimo mencoba memainkan logika penonton dengan keindahan tata panggung yang absurd, hingga akhirnya menemukan dua harapan yang ia genggam dalam tangan, berupa cahaya, mungkin cahaya kebaiakn atau cahaya keburukan.

Tampil penarai kedua Hanny Herlina, penari cantik lulusan IKJ ini, mengusung tarian “Bangun”, seperti biasanya Hanny selalu memakai simbol-simbol kejawen, sebagai bagian darai bangunan tariannya. Dalam taria “Bangun”, ia menggambarkan bagiamana manusia selalu bergumul dengan dosa,  dan sulit untuk tidak mempermisikan dosa, sebuah bangunan tabiat manusia warisan Kabil dan Habil (adik kakak anak Adam yang saling membunuh, dan konon menjadi simbol awal lahirnya dosa). Hal yang sama dilakukan penari asal Bali, Nyoman, lewat  tarian “Dua Min Satu”, jika Hany penuh emosi menggambarkan baik buruk manusia, dimaknai sebagai sebuah kesadaran yang maka Nyoman lebih pada menghayati arti dosa.

Sementara Lena Guslina, penari lulusan STSI Bandung, meski dengan daya ungkap berbeda, tetap menggambarkan bagaimana manusia gamang menghampiri masa depan, “Kepak Seribu Sayap” yang ia bawakan,  merupakan manifestasinya pada pemahaman tematis tentang kesadaran manussia untuk dapat menyadari eksistensi diri, dan harus mampu mencapai kemulyaan, meskipun fenomena sisiphus tetap menjadi bagian yang tak bisa terelakan dari kehidupan manusia. Pun apa yang disampaikan penari asal Surabaya, Herry Lentho, menggambarkan bagimana manusia tetap terjebak dosa, khususnya dosa yang dilakukan para penguasa yang duduk di singgsana kekuasaan.

image003Sentuhan Tubuh

Yang menarik dari pergelaran tari kontemporer “Dialektika Tubuh” lima kota ini, adalah bagaimana kelima penari muda dengan semangat berkarya, saling bersentuhan an, hal mana jarang terjadi, ini semacam pengulangan sejarah ketika para penari muda kontemporer biasanya bertemu dalam festival atau perhelatan seni secara formal. Adalah Lena Guslina sang tuan rumah, mengundang rekan-rekannya untuk memaknai persentuhan itu,  sebuah silaturahmi yang menafikan usia dengan kematangan perenungan antar mereka, ini pulalah yang disebut sebut F.X. Widaryanto, seoarang pengamata seni tari, sebagai sebuah kontribusi nyata bagi upaya menghormati daya ungkap bagi masing-masing penyaji.

Pertemuan mereka kali ini, nampaknya boleh disebut sebagai wakil dari semangat yang memberikan identitas diri sekaligus tempat dimana mereka tinggal dan berkarya. Tarian kelimanya, adalah daya ungkap tubuh yang saling membagai pengalaman, semacam sharing bagi dunia politik, semacam curhat bagi kaum remaja, atau serupa peresetubuhan bagi suami istri. Perenungan yang sama-sama bermuara pada kegelisahan, menjadi kreativitas tari yang menggambarkan geliat gelisah mereka., dialektika pemikiran mereka terbangun lewat dialog tubuh di atas pentas,  tanpa kata-kata, mereka telah merumuskan persoalan manusia, persoalan yang samar-samar memang.

Tari kontemporer di Indonesia, berkembang sejak tahun 1950-an, ketika Wisnuwardhana mendirikan kelompok “Contemporary Dance School Wisnuwardhana”,  disusul kemudian Bagong Kussudiardjo dengan “Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardjo”, di Yogyakarta. Menurut FX. Widaryanto, sejak itu persentuhan antara penari dimulai, meskipun jaringan kontak antara seniman tari hanya terjadi manakala pemerintah mengirimkan misi kesenian ke luar negeri.

Kini dengan terbukanya persentuhan antara seniman tari dewasa ini, membuka cakrawala bagi penciptaan sentuhan-sentuhan yang lebih lembut, sopan dan matang, yang nantinya akan memperkaya modus dan paradigma ungkap,  merajut pengalaman persentuhan dengan pergolakan bathin masing-msing.

Kelima penari diatas, telah bersentuhan dengan gejolak masing-masing, gejolak tubuh yang meratap, berontak, berdo,a dan tak berdaya. Mungkin. Seperti dirintihkan Hanny Herlina “Tariku adalah emosi yang paling dalam, aku membutuhkan kejujuran dan kebebasan untuk mengungkapkan. Tapi aku selalu harus bangun dari setiap penderitaan, aku menjadi luruh, hidupku, gerakku, topengku, tembangku luruh……..”

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: