//
you're reading...
BUDAYA

RASINAH MENARI JEIHAN MELUKIS

raishan jeihanMENSYUKURI USIA MENGHORMATI SENI

Oleh : Matdon – Sinar Harapan 14 Januari 2004

 

Dua kaki kecil dan sudah keriput milik Rasinah, maestro tari topeng Indramayu itu, menancap kekar di atas panggung berukuran kecil, disaksikan ratusan pasang mata. Tangannya yang juga kecil dan keriput, perlahan namun pasti, memainkan gerakan-gerakan ganjil namun teratur, diiringi tetabuhan dari para nayaga, dua puluh menit lamanya. Itulah tari topeng Panji yang fenomenal, tarian perpaduan gerak dan diam, tarian spiritual pernyataan hitam putih, salah benar, baik dan buruk. Setelah itu, Rasinah meneruskan tarian-tarian lainnya, hingga 150 menit lamanya.

          Keajaiban budaya di awal tahun 2004, nampaknya sedang dimulai di kota Bandung, maestro tari topeng Indramayu yang sudah renta, Rasinah, tampil lebih cerdas dari semua pementasan yang pernah ia lakukan. Tubuh yang sudah tidak lagi ajeg untuk berjalan itu tampil dengan tarian Topeng Panji yang gemulai. ia membuktikan mampu bergerak tangkas dan cepat. Tarian Topeng Panji dengan dasar warna putih, simbol keagungan dan pribadi yang halus tutur kata, tak beda dari tokoh Arjuna di Mahabarata atau Rama di kitab Ramayana. Begitu halusnya hingga gerakannya pun sangat minimal, tetapi tetap tak kehilangan energi, terasa kontras dengan musik yang riuh menghentak.
Kali ini Rasinah tidak tampil sendirian, saat ia menari, Jeihan Sukmantoro, maestro seni rupa Inonesia, dengan apik melukisnya di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm, mata embeling Jeihan dengan penuh seksama menikmati setiap jengkal tubuh Rasinah lalu ia pindahkan ke dalam kanvas., Jeihan tak ingin berkedip, seakan takut kehilangan gerak dan ruang yang diisi penuh penari itu.

Halaman Toko You milik pengusaha Soni Soeng yang terletak di Jl. Hasanudin Bandung, tempat Mimi Rasinah menari dan Jeihan melukis, Minggu malam tadi (11/1),  seakan menjadi saksi kesetian pada warisan luhur kesenimanan mereka.

Empat tarian diselesaikan Rasinah dengan apik dan sempurna masing-masing, Panji, Pamindo, Tumenggung dan Kelana Udeng, sedang Jeihan menyelesaikan dua lukisan Rasinah, yakni tari Panji dan Kelana Udeng, juga dengan apik dan sempurna. Menurut Jeihan, dua lukisan itu akan ia pamerkan dan jika lukisannya terjual, akan disumbangkan kepada Rasinah untuk kepentingan studio tari Rasinah. Konon saalah satu dari dua lukisan itu sudah ada yang menawar satu miliar, jika benar, sungguh ini sebuah keajaiban lagi.

 

Rasinah – Jeihan

Mimi Rasinah, kini berusia 75 tahun, adalah pewaris tari topeng Indramayu, belajar menari pada usia sembilan tahun dari ayahnya, Lastra. Sejak usia muda ia telah ikut berkelana bersama kelompok topeng yang dibentuk ayahnya ke berbagai daerah. Pengabdian utuh pada tari, membuatnya tak pernah memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mengenyam pendidikan formal di sekolah, keras menekuni tari secara otodiddak, juga membuat ia menjadi sebuah fenomena keajaiban dunia.

          Sahabat seangakatannya, Sawitri dan Dewi  sudah tiada, dan seperti juga Sawitri dan Ibu Dewi, di tubuh Rasinah, tari topeng Cirebon gaya Indramayu adalah sebuah peristiwa tontonan yang mengalirkan perasaan ganjil. Keharuan, keindahan, kekuatan, dan keanggunan yang penuh harga diri atau juga keheningan yang demikian mistis dan menekan. Seluruhnya berlangsung di antara riuh suara tetabuhan para nayaga. Rasinah telah menampilkan semua ini di sejumlah kota di Jepang, Prancis, Swiss, Belgia, dan Belanda.

          Seperti juga Sawitri atau Ibu Dewi, bagi Rasinah menari bukan hanya untuk melestarikan kesenian, tapi juga meneruskan spritualitas leluhur. Sejak usia 5 tahun ia telah disiapkan oleh ayahnya, Lastra, seorang dalang (penari) topeng, untuk juga kelak menjadi dalang topeng. Ia pun harus menyiapkan seluruh dirinya untuk memasuki perjalanan spritual seorang penari lewat laku ngelmu. Inilah yang dulu juga dilewati oleh Sawitri dan Ibu Dewi.

          Nyaris sepanjang hidupnya Rasinah telah benar-benar bersatu dengan tari topeng Indramayu. Termasuk juga pada bagian-bagiannya yang paling tragis. Kehilangan orang tuanya ketika masih berumur 13 tahun karena ditembak Belanda, kehilangan dua orang anak yang meninggal bersama suaminya yang pertama, dalang Tamar. Lalu juga kehilangan suaminya yang kedua, dalang Amat, diikuti dengan kemelaratan selama puluhan tahun. Itu justru terjadi di tengah usianya yang mulai senja. Ketika itu ia sendiri sudah tidak lagi menari selama 20 tahun. Lalu sebuah kesempatan datang, dunia tari yang ia tinggalkan diraihnya lagi, direbutnya lagi dari kehidupannya yang sepi, hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Sedangkan Jeihan, lahir dari sebuah keluarga ningrat kota Solo, di tengah dunia mistik pewayangan dan para ahli kejawen, dalam lingkungan budaya tempat Islam dan tradisi lama Syiwa serta Budha hidup bersama dalam suatu ikatan unik. Namun, sejak awal, ia menentang lingkungan asalnya dan setelah menyelesaikan sekolah lanjutannya, ia meneruskan pendidikannya di bidang Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Di sinilah ia mengenal logika bentuk-bentuk abstraksi Barat. Pengaruh tersebut masih tampak pada bobot warna-warna cerah yang menjadi ciri khas karya-karyanya.

Jeihan mengawali kariernya sebagai pelukis kubisme, namun segera mengubah haluan pada bentuk yang lebih konvensional untuk mengkhususkan diri dalam ragam lukisan potret, khususnya mengenai perempuan. Pengolahan tema ini di tangan Jeihan mengingatkan gaya sosok Modigliani yang “alim”: pertama-tama, tampak pada bobot warna cerah yang diungkapkan seniman ini. Garis lengkung pada lekuk tubuh dipakainya untuk memberikan suasana puitis pada ruang. Gambaran perempuan lebih merupakan tempat dan pancaran keselarasan ketimbang sumber nafsu. Memang, Jeihan menolak penggambaran seksualitas kaum perempuan. Meskipun ia menjunjung tabu dan meminjam temanya pada dunia Barat – perempuan jarang tampil di dalam estetika tradisional – ia memberikan gambaran yang manusiawi, alami, yang juga jauh dari gambaran perempuan yang patuh di masa kanak- kanaknya dalam lingkungan ningrat dan perempuan sebagai “obyek” dari dunia modern. Perempuan sebagai istri atau teman. Pelukis potret yang meringkas, memurnikan, seperti halnya bayang-bayang wayang, yang sepasang tangan jawanya mampu menghasilkan gambar tanpa batas-batas.

          Saat melukis Mimi Rasinah, pendalaman Jeihan yang penuh mistik ketimuran padu dengan sikap analitik kebaratan, mempertajam mata hati pengungkapan tentang budaya tradisi. Jeihan yang mencoba mengalihkan obyek, mampu menangkap mata alam dengan tajam dan tegas. Perpaduan ini kemudian banyak dikagumi para kritisi barat. Sebab lukisan Jeihan memberi petunjuk imaginatif yang ingin dikemukakan sebagai pancaran nurani kemanusiaan ala timur yang sudah tidak dimiliki barat.

.         Lukisan Jeihan melalui kesederhanaannya memiliki ciri khas mata bolong (hitam) dan wajah yang lugu terkesan melankolis dengan tubuh meliuk lembut. Dengan demikian figur dalam lukisan Jeihan menjadi ‘penting’, pusat kontemplasi seolah (terutama sosok manusia) ‘ditinggikan’ dan ‘dimuliakan’.

Memang obyek lukisan Jeihan sebagian besar adalah figur manusia dari wanita, anak-anak hingga manusia dewasa, namun terkadang Jeihan memilih obyek hewan juga pemandangan alam.Biasanya latar belakang lukisan Jeihan dibiarkan mengapung tak tervisualisasikan tetapi ada kontur yang jelas dan luwes, meliuk mengikuti irama tubuh memberi keleluasaan imaginasi bahwa figur tidak mengambang memberi kesan ruang menjadi lebar, kelegaan dan kelenggangan.

          Malam tiba ketika pukul 22.30 WIB menyapa, 150 menit lamanya Rasinah “bersetubuh” dengan Jeihan, dalam perpaduan dua mata seni yang berbeda, namun ada pengagungan dan pemulyaan pada keduanya. Rasinah berhenti menari, Jeihan meghela napas, juga menghentikan coretan kuasnya pada kanvas. Keduanya, dengan sorot mata kelelahan, menyeka keringat. Keringat tua yang sudah sama-sama udzur, keringat yang harus diminum dan disiramkan pada para pewaris mereka.

Standing aplaus menggema, sebuah penghormatan bagi sebuah keajaiban, baru saja ditampilkan. Di belakanag panggung, keduanya tak dapat diajak wawancara saking kelelahan, tapi isarat mata keduanya seolah olah berkata, “Kami tengah mensyukuri usia tua, dan sangat ingin menghormati seni”.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: