//
you're reading...
BUDAYA

PENTAS TEATER PAYUNG HITAM

RELIEF AIRMATA, AIRMATA RELIEF

Oleh : Matdon – Sinar Harapan Maret 2004

 

tragedi ini yang telah kulihat/sewaktu maut tiba-tiba datang// bersama air lumpur yang gemuruh

melanda dasyat di desa itu.

dan ironi yang telah kusaksikan ini

mereka yang kuasa dan tak peduli, tak tergerakkan tak tegoyahkan.

tragedi ini sengaja kucatat dan kusimpan di dalam lubuk hatiku.

dan sewaktu-waktu kan kungkapkan

kan kuingatkan mereka itu


Lirik lagu “Tragedi” itu ditulis musisi kawakan Iwan Aburrahman, pada tahun 1970-an, dinyanyikan kembali oleh Abah Iwan (panggilan akrab Iwan Abdurrahman), di awal pertunjukan Teater Payung Hitam, berjudul “Relief Airmata”, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, 18 – 21 Maret 2004.

Abah menyanyikannya dengan serius, nyaris tumpah airmatanya, sang sutradara pertunjukan, Rahman Sabur sengaja menempatkan Abah di awal pertunjukannnya kali ini, karena Abah adalah musisi yang juga saksi sejarah bagi rusaknya lingkungan yang terjadi, berbagai bencana alam, gejala gempa bumi, seringkali ia ikut terjun menolong para korban bencana, bersama Wanadri. Dan musisi botak yang pada tahun 70-80-an, lagu-lagunya sering dinyanyikan Bimbo ini, begitu pekak, sehingga setiap peristiwa kerusakan alam akibat tangan-tangan manusia, selalu ia catat, ditulis menjadi sebongkah syair sederhana, namun terasa bermakna.

Lalu,  pertunjukan sepanjang 90 menit itu mengalir, 15 aktor Payung Hitam memerankan diri sebagai  ranting tua, batu tua, batang yang tumbang, daun kering dan mati. Gerakan tubuh tanpa dialog itu menggambarkan betapa alam telah rusak oleh kerakusan manusia, dimana hutan tak lagi ada pohon, air bebas menjajah setiap jengkal tanah yang tandus, dan duniapun menangis, menjadi relief  tak jelas.

Pertunjukan “Relief Airmata”,  tidak berbeda dengan pertunjukan Teater Payung Hitam selama sepuluh tahun terakhir, sejak Kaspar, Merah Bolong, Katakitamati, DOM, Bersama Tengkorak, Awas-Awas, Masbret dan lain-lain, tanpa dialog. Tapi yang membedakan dari pentas-pentas sebelumnya adalah, jika selama ini Payung Hitam bergumul pada tema-tema sosial politik, maka dalam “Relief Airmata”, bicara soal sosial lingkungan, inilah yang menjadi lain.  Apakah Rahman Sabur sang arsitek Payung Hitam sudah mulai bosan dengan persoalan politik yang tidak jua berubah?.

Bukan itu rupanya, “Seringkali kita lupa bahwa gejala alam atau gejala lingkungan, itu jauh lebih penting ketimbang peristiwa politik,”, begitu ia beralasan, lebih jauh ia mengaskan, kalau kita bicara soal alam,  sebetulnya kita tengah bicara soal seribu ataua dua ribu tahun yang akan datang. Maka, ketika Payung Hitam melakukan eksplorasi lebih jauh dengan alam, bersentuhan dengan air, tanah, angin, lalu bermesraan di daerah-daerah Ciwidey dan Soreang, tiba-tiba ada kesadaran tersendiri, untuk memberi dan berbagai ide tentang cara menghormati alam.

Naskah ini, menurut Rahman Sabur akan dipentaskan di Festival Seni Surabaya, selain di Brisbane Powerhouse Australian Festival, bulan Oktober mendatang, berasama naskah “Kaspar” dan “Merah Bolong”.

Bagi Payung Hitam, mungkin merasa belum terlambat bicara soal lingkungan jadi kapan lagi mencoba mendekatkan diri diri dengan alam, pikiran ini memang sederhana, sesederhana ketika ajaran agama menyebutkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah, meski tidak sesederhana memahami maknya. Ya, terkadang manusia lupa setiap saat menginjak tanah, tapi enggan menghormatinya.

Lihatlah, betapa mayat-mayat bergelimpangan ketika tanah longsor, bayi-bayi mati saat gempa bumi terjadi, ibu kehilangan anak, anak mencari ibunya, istri kehilangan suami, pacar tak lagi bertemu kekasihnya, sungguh sebuah kepedihan yang nyayat. Dan itu semua terjadi, lantaran alam sudah tidak ramah lagi dengan manusia, karena manusia sendiri memusuhi alam, pohon-pohon ditebang, hewan pemelihara hutan dibunuh, adalaha cikal bakal kemarahan alam.

Lewat “Relief Airmata”, benak kita seakan-akan didongkrak kembali untuk lebih bersahabat dengan alam, tidak menyakitinya. Konon dalam benak Rahman Sabur, jika kita berdialog dengan alam, itu sama halnya kita tengah berdialog dengan Tuhan.

Ekspresi tubuh para aktor Payung Hitam itu, lagi-lagi mendominasi selama pertunjukan,  dan terus mengingatkan kita pada hiruk pikuknya kesedihan akibat alam, hingar bingarnya nasib buruk gara-gara tak ada hutan. Ada tubuh yang tenggelam dalam lumpur, ada ranting yang meranggas, ada air mengering, adatanh diinjak, ada tanh dicium,  ada banyak yang kita lihat dari pertunjukan ini, ketika alam semakin rusak. Daun-daun kering dan jatuh, tak ada lagi suara indah, kecuali lengkingan rasa sakit yang percuma, sungai-sungai telah mengalirkan airmata. Di tanah ini, manusia datang dan pergi, lalu menangis, tapi tangisannya beku, menjadi realief.

Saya jadi teringat sebuah firman Allah dalam kitab suci Al-Quran, Dloharol Fasaad Bil Barri Wal Bahri, Bimaa Kasabat Aedinnaas, Sesungguhnya kerusakan di daratan dan di lautan, semuanya akibat ulah manusia. Lalu, kenapa kita selalu mengelak atas tudingan itu?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: