//
you're reading...
BUDAYA

Pameran Seni Rupa Komunitas Malaikat

malikat

MEMBONGKAR TABU, MEMBELAH BATU

Oleh : Matdon – Sinar Harapan 24 Pebruari 2006

Di sudut ruangan Aula Pusat Kebudayaan Prancis Bandung (CCF de Bandung) Jl. Purnawarman 32 Bandung, sebuah lukisan di atas kanvas berukuran 75 x 100 cm nampak berdiri disandarkan pada sebuah meja bergambar sesosok laki-laki dengan tonjolan alat vital, di sekelilingnya bebarapa tulisan huruf Arab gundul, dan beberapa tulisan yang tak bias terbaca.
Di sudut-sudut lainya sekitar 30 lukisan tergantung dengan aneka macam keliaraan ; ada manusia yang tengah memakan tangan manusia, ada manusia berkepala boboko (Sunda;bakul), dan sejumlah luksian lainnya yang benar-benar menggambarkan keliaran.
Inilah yang terlihat dalam pemeran seni rupa karya 10 seniman muda yang  tidak lain para kiai muda asal kabupaten Bandung, Cianjur, Garut dan Subang, mereka menamakan diri sebagai Komunitas Malaikat, sebuah nama yang agak nyeleneh.

Mereka adalah YK.Gamma, Fahad Madani, Gus Bachtiar, A Tjoen, Ilafat Salamandra, Saefullah el Maslul, Ahmad Faisal Imron, Gugum Wanara, Dado Bima, dan Asep Sakuntala. Pameran yang diberi tajuk  “Hijrah Dari Tubuhmu” ini berlangsung sejak senin kemarin (21/02) sampai 28 pebruari 2006.

Semula saya tidak mempercayai penglihatan ini, padahal sebelumnya saya sudah mengenal mereka lewat karya-karya puisi, namun baru kali ini saya sadar bahwa mereka juga melukis dan bermain musik. Rupanya praktek berkesenian bagi mereka bukan hal yang asing, fungsi seni rupa dan sastra dimanfaatkan oleh Komunitas Malaikat untuk membawa pesan moral tertentu, seolah-olah mereka tengah membongkar tabu yang selama ini tidak boleh dilakukan oleh kalangan santri atau kiai, pembongkaran yang kemudian  membelah batu seni yang banyak diperdebatkan dalam dunia tabu inilah islam zaman dulu  sebagai sesuatau yang haram.

Saya yakin keberadaan Komunitas Malaikat yang berdiri tahun 2001 ini tidak bermaksud  “melabrak” norma agama, karena mereka sangat faham dengan hadits dan atau keterangan kitab suci yang mereka anut. “Kami lahir dan memasuki dunia seni secara humanisme religius,” ujar Ahnad Faisal Imron,, Kiai anom berusia 33 tahun dari Pesantren Baitul Arqom Ciparaya kabupaten Bandung, sebuah pesantren terkenal di negeri ini, dan termasuk pesantren tertua di Jawa Barat.

Komunitas Malaikat merupakan alumni dari berbagai pesantren di Jawa Barat, bertemu 10 tahun lalu dan masing-masing berupaya menemukan jati diri, uniknya aktivitas mereka sehari-hari adalah tukang pijat, tukang sablon, tukang ojeg, berkebun dan bertani bahkan sebagai TKI di Arab dan Amerika.

Kekompakan yang dibina sangat solid, kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang melatarbelakangi persahabatan mereka membuat karya-karya mereka tidak jumud atau diam di satu tempat,  tidak terpola pada satu bentuk saja,. Meskipun diakui mereka gaya Acep Zamzam Noor banyak mempengaruhi mereka, karena kelompok ini telah menganggap Acep Zamzam sebagai Kiayai Langitan bagi mereka,. Semua luksian yang dipamerkan tercipta dalam gaya abstrak, realis, ekspresif, intalasi, drawing serta apapun bentuknya sampai pada bentuk yang meraka sendiri tidak mengetahuinya namanya.

Sepertinya mereka menyadarai kalau pertumbuhan seni rupa di Indonesia mengalami beberapa fase perubahan dan fungsi sehingga mereka tidak lantas terburu- buru menulis kaligrafi yang telah mereka kenal sebelumhya, perkembangan estetika menjadi ide mereka yang terus berubah, pun ketika seni berfungsi untuk seni, seni untuk Agama, dan kemudian bergeser seni untuk penyadaran, untuk pasar dan lain-lain, merekapun tumbuh dengan sendirinya dan  tidak terpengaruh oleh wacana pasar dan pasar wacana.

Sebagai komunitas yang lahir dari pesantren, kegelisahan membangun moral nampak pada karya-karya liar mereka,   menuangkan semua ide untuk itu serta mencoba membongkar tabu untuk membangun moral yang ajeg dalam prinsip yang mereka anut, dengan catatan apakah karya meraka sudah baik atau tidak, prinsip mereka  sudah mumpuni atau belum, tentu saja bukan mereka yang harus menilai, tapi publik yang jadi juri

Pameran Hijrah Dari Tubuhmu, merupakan sebuah penghormatan tulus dari mereka untuk seniman Fahad Madani yang meninghal dunia sepuluh hari sebelum pameran ini berlangsung, meskipun pada saatnya pula, karya Fahad tetap dipamerkan.. Pameran ini pun, sebagai perayaan Tahun Baru Isam 1327 H, menyampaikan sesuatu yang tidak jalan di tempat, karena kehidupan harus berubah.

Komunitas Malaikat nampaknya tengah menjawab kegelisahan-kegelisahan yang terdidik selama menjadi santri dan hanya didasari oleh ketulusan yang bening, ketulusan inilah yang disebut sebut oleh Acep Zamzam sebagai modal dunia berkesenian meraka.

Kumpulan Puisi

Pameran Hijrah Dari Tubuhmu yang dibuka oleh perupa Tisna Sanjaya ini, juga ditandai dengan peluncuran buku kumpulan puisi karya meraka dengan judul yang sama . Seperti pada karya lukisan, puisi-puisi dalam buku ini terasa ada yang lain, kekuatan fikir menunmpuk padat tapi tidak menjenuhkan karena diksi-diksi dan metafor yang mereka bangun lebih dari sempurna sebagai penyair ; nakal tapi bermakna. Simak saja puisi karya Saefullah el Maslul berjudul  Solilokui, Nyayian Dari Balik Dada

Pada Tubuhmu kubaca rajah anak panah
Berkilat serupa kilau darah dan nanah
Ah, ingin aku memelukmu
Melewati tahun-tahun kita maknai abu, darah, dan sembilu
 
Atau seperti pada karya Ahmad, berjudul Kasidah Negeri 2554

Dan di tubuhmu
Kesaksian hutan belantara
Senyuman yang berfaidah
Dan ketegaran buah dada yang legit
Adalah kelezatan tiada tara
Dari seorang perempuan etnis
 
Malam pembukaan pameran lukisan dan peluncuran buku puisi, menjadi penanda bahwa karya kiai/santri yang hijrah ke dunia seni akan menghasilkan karya yang luar biasa ; liar namun terpola, bebas tapi terarah.  Sekali lagi, luar biasa!!!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: