//
you're reading...
BUDAYA

Karya Seni Tisna Sanjaya Dibakar

indexINILAH AROGANSI KEKUASAAN

Oleh : Matdon – Sinar Harapan  7 Pebruari 2004

Bangun tidur pukul lima pagi, Jumat kemarin (6/02), saya disuguhi sarapan sms dari seniman Nandang Gawe, yang isinya memberi kabar bahwa patung perahu karya Tisna Sanjaya yang dipamerkan di Babakan Siliwangi, dibakar oleh puluhan orang berseragam Satpol PP kota Bandung, polisi dan dua orang berseragam TNI.

          Tentu saja ini kabar buruk yang mengejutkan, sebab jika benar karya perupa Tisna dibakar, ini berarti sudah kedua kalinya. Pertama tahun 1999, patung karya Tisna berjudul “32 Tahun Berpikir Dengan Dengkul”, juga dibakar di halaman gedung sate oleh orang-orang yang tak dikenal, sebelumnya tahun 1998, karya seni rupa Tisna, berupa lukisan Habibi sedang mencium tangan Soeharto, diturunkan oleh pemerintah Perancis, saat dipamerkan di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) de Bandung..

          Selesai shalat subuh, saya membayangkan bagimana karya patung perahu yang terbuat dari bambu dan bilik ini berwujud manusia, perahu itu menjerit-jerit  di tengah kobaran api,  seperti maling motor yang kepergok massa digebuki dan dibakar, karya seni itu dibakar hidup hidup oleh Satpol PP, seperti tukang becak sedang membakar sampah.  Dan dalam benak mereka saya yakin, patung perahu itu adalah sampah, sungguh sebuah tindakan yang menyakitkan hati, meski terdengar dari mulut perahu itu sebuah ketegaran, ”Jangan bakar aku, aku adalah seni yang tidak bisa kalian bakar begitu saja, meskipun kalian membakar aku, aku tidak akan pernah mati,” demikian saya mendengar  teriakan itu, dan perahu itupun menjadi abu dalam sekejap.

Pukul sembilan pagi, saya segera datang ke Babakan Siliwangi, keterkejutan saya makin bertambah dan berubaha menjadi emosi yang meledak ledak, nyaris meneteskan air mata, ketika melihat Tisna Sanjaya, dan Rahmat Jabbaril sedang duduk tepekur di depan tumpukan abu perahu. Saya benara-benar menyakasikan kekerasan, benar-benar menyaksikan sebuah arogansi orde dasyat, perahu itu kini mayat.

Beberapa jenak Kang Tisna enggan bicara, seoarang wanita mengaku  bernama Ny. Ati, seorang pemilik warung di sekitar Babakan Siliwangi kepada saya bertutur ; Hari Kamis lalu (5/2), sekitar pukul 10 pagi, tiba-tiba sepuluh mobil kecil, berpenumpang Satpol PP kota Bandung, ditambah beberapa polisi dan dua orang yang meggaku dari KODIM datang ke sana, tanpa basa-basi formal, mereka menggusur patung perahu yang tersimpan di sudut hutan kota itu berikut karya patung Tisna yang juga terbuat dari bambu dan sebuah pamflet bambu bertuliskan “Toilet Untuk ABRI” dan “WC for Interfet”, semua karya itu sudah nangkring disana sebagai karya grafis sejak 26 Desember 2003, sebelumnya, perahu tersebut sempat keliling dunia, untuk dipamerkan seperti Itali, Belanda, Austalia dan Jerman (tahun 1999, 2002, 2003).

Kebetulan, kawan-kawan seniman yang biasanya ngumpul di Babakan Siliwangi, hari itu  tidak ada, sehingga dengan leluasa mereka melakukan prosesi arogansi dan kekerasan berlangsung, lalu ngeloyor pergi dengan tawa terkekeh-kekeh. Selepas Magrib, Tisna baru mendengar kabar itu.

 

Tisna Is Peace, Tisna Is Perlawanan!

Tisna Sanjaya, lahir di Bandung 28 Januari 1958, adalah seniman yang identik dengan perdamaiaan sekaligus perlawanan, simbol itu melekat ketika beberapa tahun terakhir Tisna makin kental dengan karya karya grafis yang memiliki aura kedua sisi itu, tengok saja karya patung bambu “32 Tahun Berpikir Dengan Dengkul”, performance “Sepakbola Perdamiaian”, atau saat ia menumbuk jengkol di depan proyek jalan layang Paspati Bandung, karya-karya lima tahun terakhirnya, menunjukan kematangan empaty Tisna, bobotoh Persib ini seperti ingin berteriak “Kalau kekerasan tak kunjung berhenti, cetakkan grafismu dengan darah dan sperma!”.

Sampaipun akhirnya, Tisna menyimpan perahu berukuran sekitar 1,5 x 2,5 meter, terbuat dari anyaman bambu, di Babakan Siliwangi, di dalamnya terdapat nelayan berupa manusia bambu yang berdiri terbalik, kedua tangannya memegang kepala dan sambil kemaluannya menyemburkan air terus-menerus ke sebingkai kaca. Air muncrat tidak beraturan, tetesannya melayang-layang seperti gerimis. Ada juga sebongkah kepala  terbuat dari bambu sebesar 100 kali buah durian didirikan tegak. Di matanya mengucur air mata merah, darah yang mengental. Simbol negara Indonesia, Burung Garuda, bersender di kuping, ekspresi kepala itu meringis pilu.

Saya menduga, Tisna bermaksud memberi pengertian tegas bahwa di bumi ini ada hiam puith, ada kejahatan dan kebaikan, meskipun perbedaannya tidak lagi jelas.. baik dan buruk menjadi kabur dan simpangsiur. Simbol kekerasan terdapat pada lodong yang melonjor, Tisna seakan memberi isarat bahwa pergeseran kekuasaan dimulai oleh senjata dan perang. Meriam, senjata penghancur yang pernah dipakai bangsa Eropa menjajah negeri ini, yang disinyalir merusak tatanan serta keseimbangan antara nilai kebaikan dan kejahatan.

Seorang dosen Seni Rupa ITB, Aminudin Siregar mengatakan, banyak orang teringat metafor perahu di sana merepresentasikan legenda perahu Nabi Nuh. Namun, sadar atau tidak, tampaknya Tisna mendekati paradoks ’kekerasan dan perang’ itu sendiri. Paradoks itu bisa ditemukan dalam penandaan pada hampir di setiap idiom karyanya. Misalnya, bukankah perahu bernelayan manusia bambu itu bisa dibaca sebagai tantangan: mari kita manusia mengarungi lautan penderitaan, berlayar menatap bahaya, jangan bodoh untuk senantiasa berpikir dengan dengkul saja!

Tisna memang peresah sejati. Sejak 1982, Tisna meresahkan kemapanan etika berpameran. Dengan entengnya, tahun itu, ia menggelar karya drawing di sepanjang Jalan Cikapundung, Bandung. Itu reaksi dan upaya mencermati kecenderungan pameran di galeri yang elite. Tisna adalah perenung profesional, renungannnya selalu bermuara pada kegelisahan dan ketidakpercayaan pada iklim demokrasi negeri ini.

Dan perahu itu…kini sudah jadi bangkai, sebuah ujian baginya, juga bagi seniman lainnya, perahu itu telah memberi kontribusi kehidupan nyata, dan mungkinkah telah menyinggung kekuasaan pemerintah kota Bandung?, TNI kah?, Polisi kah, yang pasti, siapapun pelaku pembakaran terhadap karya seni, harus ditangkap dan diseret ke meja hijau, sebab yang berhak membakar karya seni hanya seniman itu sendiri dan Tuhan. Dan Tisna atas dukungan para seniman, harus segera meminta klarifikasi kepada Satpol PP, Polisi, TNI dan Walikota, atas aksi pembakaran itu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: