//
you're reading...
POLITIK

DICARI, PELAWAK CERDAS

index

MATDON  –  Sindo Sabtu, 25 Januari 2014

 Humor kontemporer milik Amerika, Humor Sufi milik Timur Tengah. Ya, tiap negara pasti mempunyai ciri khas dalam berhumor. Lalu apa ciri khas humor atau lawakan Indonesia?, tentu jawabanya tidak mudah, kecuali harus diakui bahwa Indonesia merupakan negara yang bangsanya berselera humor tinggi. Dalam blantika humor Indonesia, biasanya lahir dari lawakan daerah seperti Lenong Betawi, Bodor Sunda, Ludruk Jawa Timur, Ketoprak Jawa Tengah dan lain-lain. Iya, lalu apa cirri khas humor Indonesia? Pertanyaan kedua dan masih sama inilah yang perlu dicermati.

Saya harus memulai dari kenyataan bahwa seorang pelawak pada umumnya mereka yang pandai menghibur dan membuat orang tertawa.  Bentuk lawakan ada yang tergabung dalam grup lawak ada juga yang main sendiri (dikenal dengan nama Stand Up Comedy). Indonesia memiliki banyak grup lawak, sementara di Amerika biasanya stand up comedy. Grup lawak mengandalkan alur cerita dan penokohan peran, sedangkan stand up comedy lebih banyak melakukan monolog.

Seorang pelawak harus cerdas dan memiliki pengetahuan luas, lebih dari itu tugas berat seorang pelawak adalah bagaimana menbuat penonton terhibur dan menjadi cerdas. Sedangkan pelawak kita pada umumnya tidak mengandalkan kecerdasan melainkan mengandalkan lelucon fisik dan mencaci maki lawan mainnya. Kostum lelaki yang dibanci-bancikan, memukul kepala, mendorong tubuh, menyiram air, memasukan benda pada mulut lawan main, atau menabur muka dengan tepung dan pura-pura jatuh dan lain lain yang kesemuanya menjadi bahan tertawaan penonton tapi tidak mendidik, bahkan seringkali menyinggung perasaan orang lain. Slapstick!!

Kita pernah mempunyai grup lawak Warkop dan Bagito yang cukup cerdas membawa lawakan modern dengan sentilan sentilan yang cerdas pula, tapi lantas dua grup lawak ini harus terseret industri televisi dan mengikuti alur kemauan “pengusaha” tv, hingga lawakan mereka lama kelamaan menjadi kurang bermutu dan slapstick. Lalu ada Patrio yang mengusung lawakan tingkat akademis, itupun tergusur ketika (lagi-lagi) program televisi menghancurkan mereka, nasib yang sama dialami oleh Cagur.

Tentu saja saya tidak boleh meremehkan grup lawak Srimulat, meskipun lawakan mereka banyak mengandalkan fisik tapi secara kultural historis ia tak bisa dipisahkan dari kosmologi yang melingkupinya yaitu Jawa, dimana ia lahir dari seni tradisi yang lebih dulu ada seperti ludruk dan ketoprak. Dari situ dikenal dagelan Mataram, yang  lahir pada tahun 1930-an, kemudian diadopsi oleh Srimuat.

Di Bandung ada grup D’Kabayan yang digawangi Kang Ibing (alm) dkk, D’Bodor bersama Abah Us-Us nya dan lawak Reog BKAK. Semuanya lahir dan berakar dari heureuy kesundaan yang khas dan cawokah. Sepeti halnya Srimulat, mereka cukup cerdas memberikan pencerahan bagi penontonya. tentu saja pada masa kejayaan mereka. Meskipun – sekali lagi – idealisme mereka akhirnya kadang harus terkubur dalam-dalam di tanah air yang jumlah stasiun televisinya banyak.

Humor Cerdas

Tak dipungkiri lagi, humor atau lawakan merupakan kebutuhan manusia modern, tapi sungguh sulit menemukan humor yang tidak hanya lawakan slapstick. Sejumlah kalangan sempat marah dengan lawakan slapstick di televisi, tak kurang dari Kyai Noer Muhammad Iskandar menyebut lawakan itu agian tindakan amoral. Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Azimah Subagijo mengkritik siaran televisi yang menayangkan simbol-simbol agama, kemudian menjadikannya bahan lelucon. Bakan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) menganjurkan boleh humor jangan konyol. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan tayangan televisi tak menyiarkan tayangan lawakan berlebihan, serta cara berpakaian tak sesuai akhlakul kharimah.

Namun sejauh ini KPI dan MUI tak mampu menghentikan acara lawakan slapstick itu. Seolah olah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Lawakan lawakan itu terus mengalir, pepatah dan himbauan agar lawakan-lawakan lebih sopan, tak digubris.

Inilah lawakan Indonesia, pada siapa lagi kita berharap agar lawakan Indonesia cerdas dan mendidik, memang berat menjadi pelawak. Kini kita punya Stand up comedy. Mungkin dari situlah kita berharap ada humor cerdas, kita harus mulai meninggalkann slapstick dan membiasakan diri menikmati humor-humor cerdas, untuk memicu rasa, otak dan indera agar mampu memutuskan kapan kita bisa tertawa sehat.

Saya jadi teringat almarhum Gus Dur, beliau adalah ulama besar tapi memiliki selera humor yang tingi dan cerdas. Beliau bukan pelawak tapi punya segudang humor yang mendidik. Seperti kisah humor yang saya kutip dari situs www. ketawa.com. Ketika selesai melantik Wakapolri di Istana, Gus Dur mengadakan konferensi pers dengan wartawan.

Salah satunya diungkapkan tentang permintaan Gus Dur agar Jenderal Surojo Bimantoro KAPOLRI  mengundurkan diri.  Ketika konferensi pers itu usai, dan Gus Dur dipapah memasuki mobil, beberapa wartawan mulai tidak mengerubutinya lagi. Gus Dur berkata :”Hei, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak ?”

“Apa itu Gus ?” tanya para wartawan serentak. “Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja,” ujar Gus Dur.  “Wah, siapa itu Gus ?” keroyok para wartawan yang tadinya sudah mulai menjauh. Mereka berlarian untuk mendapatkan berita eksklusif itu. “Ok, saya akan katakan,” kata Gus Dur meyakinkan.” Jenderal itu adalah Jendral..(General) Electric …”

 “Wooo kok itu sih Gus ?” protes para wartawan.

“Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Lha saya kan bener kalau General Electric itu paling berbahaya. Coba, mau nggak kamu kesetrum lampunya General Electric?. Berbahaya khan?, kamu bisa mati kan kalau kesetrum????”

 Wallahu A’lam..  

 Sumber : http://www.koran-sindo.com/node/361733

Diskusi

2 thoughts on “DICARI, PELAWAK CERDAS

  1. mungkin karena bangsa ini bhineka tunggal ika, jadi rada susah menemukan pelawak yg benar2 ‘Indonesia’

    Posted by mbakje | 04/02/2014, 10:06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: