//
you're reading...
POLITIK

RELIGIUSITAS KORUPTORIYAH

foto (7)

KORAN SINDO 14 DESEMBER 2013

Tontonlah televisi, dan saksikan dengan cermat, (eh gak usah cermat juga gak apa-apa). Ketika para koruptor ditangkap dan digelandang ke sel tahanan, beberapa hari kemudian mereka memakai kopiah dan baju koko, sementara koruptor berjenis kelamin perempuan berkerudung. Bahkan di tangan mereka tergenggam tasbeh.

Ya, para koruptor ini mendadak berpenampilan religius. Seolah tidak pernah melakukan dosa dan berserah diri pada yang kuasa. Menyerahkan nasib pada kekuatan diluar dirinya yakni, Tuhan. Tuhan memang menjadi sandaran politik mereka ketika kawan tak membelanya, Parpol apalagi, bahkan sahabat-sahabat yang dulu begitu dekat kini menjauh. Padahal antara religiusitas dan korupsi itu bagai langit dan bumi. Seorang yang benar- benar religius tidak mungkin melakukan korupsi.

Orang yang korupsi sedikit sekali religiusitasnya, “religiusitas” nya baru ketemu kalau sudah diborgol. Oh, itu kan untuk membuktikan kepada rakyat dan penonton televisi bahwa dalam hati mereka ada agama yang tertanam walaupun korupsi. Ah, agama kok dipakai mengelabui rakyat, padahal hati tak bisa dikelabui. Tuhan saja masih dibodohi dan dibohongi oleh koruptor. Seolah olah Tuhan memang bodoh dan bisa dikelabui dengan kopiah, baju koko, kerudung dan tasbeh.

Religiusitas semu ? Mungkin. Eits.. tunggu dulu, tidak gampang menilai itu, karena mungkin saja sang koruptor itu b e n a r – b e n a r insyaf dari perbuatan haram koruptoriyahnya. Koruptor itu mungkin masih bisa berandai-andai dengan baju agamais, imej publik akan berubah. Karena bangsa Indonesia biasanya mudah sekali memaafkan. Toh atribut religiusitas fisik itu mudah dibeli dengan uang yang jumlahnya sangat sedikit dibanding uang yang dikorupsi. Fenomena religiusitas rupanya mempengaruhi dan dipengaruhi simbol-simbol fisik berupa baju koko dan kopiah.

Kata- kata bersih (yang juga simbol Agama) meluncur dari mulut koruptor seperti Insya Allah, Alhamdulillah, dan Tuhan. Ini salah satu kecenderungan yang terjadi di masyarakat. Seperti diketahui, korupsi di tanah air tumbuh dan berkembang secara sistemik, korupsi seperti bukanlah pelanggaran hukum, tapi sebuah kebiasaan. Sehingga dengan mudah religiusitas fisik digunakan sebagai kedok. Mereka hidup dan memerjuangkan takdir lewat simbol- simbol itu.

Saya jadi ingin mendefinisikan religiusitas sebagai keindahan, cantik/tampan, agung, seksi, berwibawa, nikmat, enak dan lain-lain. Contoh seperti “Gunung itu indah sekali” maka artinya Gunung itu religius sekali. “Tubuh Sophia Latjuba seksi” berarti tubuh Sophia Latjuba religius, atau kalimat “Makanan ini enak” maka artinya makanan ini religius dan seterusnya. Jelas religius itu bermakna keindahan, lalu dimana indahnya baju koko dan kopiah yang dipakai koruptor? Rakyat sudah kadung menyebut koruptor itu kotor, jadi keindahan fisik itu tertutup dengan perbuatan koruptoriyah.

Religius itu bersifat spiritual : sebuah kesadaran manusia tentang kebenaran dan keindahan, bukan “konspirasi hati” untuk mengkudeta keyakinan orang lain. Religiusitas itu sunyi. D a l a m perspektif budaya, religiusitas selalu berhubungan dengan kemampuan manusia dalam menghayati hidup dan keyakinan pada Tuhan, dan itu butuh proses panjang, tidak ujug-ujug jleg dari koruptor menjelma religius. Meskipun juga tidak dipungkiri bahwa seseorang bisa saja mendadak religius jika kekuatan ilahiah menerpa tubuh dan hati seseorang.

Dalam kamusnya Mangunwijaya disebutkan, religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Kalau agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban- kewajiban sedangkan religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu di dalam hati. Seseorang bisa dikatakan religius (fisik dan hati), jika dalam kesehariannya memang baik, berperilaku indah, beribadah tanpa mau diliput oleh wartawan atau infotainment, tidak korupsi uang, waktu dan apapun namanya.

Jika koruptor tiba-tiba berkopiah, pakai baju koko, berkerudung dan di tangannya ada tasbeh. Itu sama sekali bukan religiusitas, tapi perbuatan agamais yang nilai keinsyafannya boleh diragukan. Jadi, religiuitas yang hendak dibangun koruptor saat ditangkap, adalah perbuatan korupsi, yang menjijikkan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: