//
you're reading...
BUDAYA

LIMA RUKUN, LIMA KONSEP

                                       LIMA RUKUN LIMA KONSEP

Matdon – Sinar Harapan Oktober 2013

 

Lima orang Maestro berkumpul dan menggelar perhelatan yang spektakuker dalam Pamer Seni Lukis Dan Puisi “Lima Rukun”; A. Mustofa Bisri (Gus Mus), D. Zamawai Imran, Jeihan Sukmantoro, Saparadi Djoko Damono dan Acep Zamzam Noor.

Acara ini dimulai Sabtu 28 September 2013 jam 3 sore, di Studio Jeihan Jl.Padasuka 143 Pasrilayung Bandung. dan berlangsung hingga 5 Oktober. Dibuka tiap hari dari jam 8.00 sampai jam 17.00 wib

Lima Rukun ini mempertemukan karya karya mereka dengan warga Jawa Barat masing-masing akan mamamerkan karya lukis dan puisi dengan konsep yang berbeda-beda. Gus Mus dengan Kemaha indahan Allah, Jeihan dengan Fatabiqul Khairot, Zamawi Imron dengan Anugerahnya, Sapardi dengan mempertanyakan apa arti sebuah nama, dan Acep Zamzam dengan Intensitasnya yang luar biasa.

 

Lima Konsep

Zamawi Imron dengan konsep Anugerah dia mengatakan, menulis puisi baginya tidak lain menyatakan diri dengan kata-kata. Tidak setiap kata jadi puisi, karena kata kata merupakan hasil proses pengalaman bathin yang menemukan bentuk. Dan itu anugerah.

Sementara Sapardi mengatakan, kesenian hanya mengenal masa depan, karya terbaik yang diciptakan seniman adalah yang akan dibuatnya. Masa lampau itu milik orang bingung.

Gus Mus dengan konsep “Kemaha Indahan Allah”, mencoba tidak tunduk pada aliran-aliran seni tertentu, bahkan pada teori teori tentang kata dan makna. “Dalam menulis, saya hanya menuli, asal Tuhan tidak menyetop, saya terus menulis” katanya.

Dan Acep Zamzam dengan konsep intensitasnya, mencoba menjalani kehidupan sehari hari sebagai berkesenian. Ia ingin intensitas berkeseniannya bukan muncul saat menghadapi komputer, kertas atau kanvas, tapi merupakan rerpon dari penghayatan subyektib terhadap berbagai gejala dan peristiwa di sekeliling.

Sementara Jeihan dengan konsep “Fastabiqul Khairat” menyiratkan bahwa inti lukisan adalah garis, garis adalah rangkaian titik-titik, titik adalah awal dan akhir. Garis selalu bergantung pada titik. “Demikian juga dengan hidup saya,” lirihnya saat ditemui di Studionya.

 jehan

Karakter Karya

Saat ditemui di sela pembukaan Sabtu malam kemarin, Gus Mus mengatakan, termasuk dalam berkarya, apakah itu menulis – artikel, puisi, cerpen, atau melukis, konsepnya sama dengan dalam keseluruhan hidupnya, berasaskan Laa ilaaha illaLlaah. Artinya “Aku hanya tunduk dan bersedia dikuasai oleh Allah”

“Dalam melukis aku tidak tunduk kepada isme-isme, kepada persoalan gaya, kombinasi dan komposisi warna dan bidang; apalagi kepada media lukis. Selain terhadap Allah, aku penguasa.” Ujarnya.

Dalam melukis, juga demikian, Gus Mus hanya melukis saja. Melukis apa saja dengan media apa saja yang aku suka.   Dalam berkarya sebagaimana dalam kegiatannya yang lain Ia terpengaruh oleh pihak lain, namun ia tidak biarkan pengaruh itu terus menguasainya

Sementara Sapardi Djoko Damono mulai melukis sejak anak-anak, diajari pamannya dan karena sering nonton ulah tetangganya, R.M. Sajid, juru gambar kondhang di Solo tahun 1950-an. Ia baru mengenal sastra ketika SMP, itu pun sastra Jawa. Karangan pertama yang ditulisnya berbahasa Jawa. Kedua kegiatannya itu tidak berlanjut; ia pindah ke bahasa Indonesia dan berhenti melukis, malah nulis puisi berbahasa Indonesia, main  drama dan musik ketika mahasiswa.

Sejak akhir 1950-an ketemu Jeihan, dan keduanya berangan-angan: ia pengin jadi penyair, Jeihan jadi pelukis. Janjinya, siapa yang duluan kaya akan membantu temannya. Terang saja yang kaya pelukis, maka buku puisinya yang pertama, duka-Mu abadi diterbitkan Jeihan tahun 1969 di Bandung. Setelah tua digoda lagi oleh Jeihan, diajak pameran lukisan, dan ia mau saja. Sapardi berpendirian semua orang bisa nggambar, semua bisa nulis puisi. Dulu, orang yang suka menggambar disebut juru gambar, kemudian disebut pelukis, kemudian seni-rupawan, kemudian tukang bikin instalasi, nanti-nanti namanya entah apa lagi.

Acep Zamzam lain lagi, ia mengaku senang mengunjungi desa-desa terpencil, berjalan sepanjang pematang atau tepian kali. “Saya sering makan atau minum kopi di warung pinggir jalan. Ngobrol dengan tukang-tukang becak atau ibu-ibu warung tentang kenaikan harga” katanya.

Kadang Acep juga mengunjungi pesantren-pesantren di pedalaman, menikmati suasana, mengamati kehidupan para santri dan berapresiasi pada nilai-nilai ketulusan. Kadang bercakap-cakap dengan kiai, baik kiai asli maupun yang masih berusaha untuk disebut “kiai”.

 Tapi Acep juga bisa bertahan lama mendekam sendirian di rumah. Melukis atau menulis puisi terus sampai sakit ambeiennya kambuh. Kadang ngobrol dengan teman-teman seniman sambil merencanakan berbagai kegiatan, atau berdiskusi dengan para mahasiswa yang sering mengajaknya demonstrasi.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: