//
you're reading...
BUDAYA

TUMIS HASEUM

NUMIS, SOLIDARITAS YANG HILANG

Oleh Matdon

tulisan ini dibuat tahun 2004 tidak sempat diedit & tidak dikirim ke media

 

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, adalah memasuki fase cobaan yang berat, dimana kesegaran niat ibadah mulai layu – karena ketika orang-orang mulai meributkan soal pakaian baru, belanja kue, dan segala tetek bengek lebaran.  Tradisi keimaman (rata-rata) orang Indonesia memang selalu “terganggu” kultur seperti ini.

Namun ada tradisi sosial yang – meskipun – bentuknya duniawiyah namun menjadi tolak ukur keyakinan seseorang terhadap Agamanya tradisi itu terjadi di tanah priangan khususnya Kota dan Kabupaten Bandung, namanya  numis, sebuah tradisi “sedekah massal” berupa masakan nasi, daging, sambel goreng kentang, bihun, kerupuk, goreng  tahu tempe,  yang dibagikan kepada para tetangga, handai tolan dan kerabat jauh..        

Tradisi yang berlangsung saat memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini dilakukan  hampir semua warga di berbagai pelosok kota dan Kabupaten di Jawa Barat,  yang memiliki uang lebih atau rezeki lebih, ramai ramai membuat masakan tadi layaknya orang hajatan, kemudian secara ikhlas makanan itu dibagikan merata. Pemandangan indah nampak ketika orang-orang berseliweran membawa baki (tempayan) atau rantang. Disanalah terlihat sebuah solidaritas riil  masyarakat priangan  untuk berbagi rezeki dan kebahagiaan, tak terkecuali non muslim pun merasakan dan menikmati kiriman tumis itu. 

Namun pemandangan itu  terakhir kali saya lihat terjadi 26 tahun lalu, persisnya kurang jelas, apakah awal tahun 1980-an atau lebih atau kurang dari tahun itu, yang pasti peradaban itu kini telah hilang dari budaya tanah priangan.

Entah apa yang ada dalam benak orangtua kita waktu itu, ajaran Agama tidak mewajibkannya kecuali menjalankan perintah bahwa sedekah pada bulan Ramadhan pahalanya akan berlipat ganda.  Tak ada yang berharap meminta balasan kepada orang yang dikirim untuk kembali membalas mengirim hidangan khas ini, meskipun terkadang ada juga orang yang dikirim membalasnya dengan kiriman serupa, atau jika yang dikirim adalah tetatangga  non Muslim selalu memberi hadiah  berupa kue kaleng merk tertentu, biasanya para babah (orang-orang China) yang memiliki toko kelontongan.

Tradisi saling mengirim tumis itu kini tak ada lagi, seiring berjalannya waktu, saya juga tidak mau terjebak pada kebingungan apakah hal ini perlu disesali atau tidak. Atau kita hidupkan lagi?, Ha!!…membangun sebuah tradisi tidak segampang itu. Walaupun diakui atau tidak, saling mengirim tumis saat itu menjadi sebuah solidaritas yang melebur antara Muslim dan Muslim, Muslim dan  Non Muslim, sebuah kehangatan yang dibentuk oleh tradisi tanpa paksaan dan tanpa pamrih. Sehingga saking inginnya seseorang menberi sedekah membuat tumis,  yang tidak mampu pun mengumpulkan semua tumis pemberian  untuk ia bagikan lagi kepada yang lain. Terkadang terjadi  cerita lucu.kentang

Alkisah nyata, seorang  bernama Ny. Oneng (almarhum) tinggal di Jl.Kopo Gg.H. Topek RT 05/01 Bandung termasuk orang yang mampu, maka ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ia numis. Selesai masak iapun menyuruh anak-anaknya untuk membagikan tumis pada tetangga, tak ketinggalan kenalan yang tinggal jauh pun diikrim. Sore setelah selesai semuanya, Ny. Oneng dan keluarga beristirahat sambil menunggu Magrib.

Beberapa jenak sebelum Adzan Magrib, tiba-tiba ada tetangga yang datang dan membawa kiriman tumis, “Punten, ieu ti Ema, sa-aya aya weh silih raosan,” (ini kiriman dari Emak, seadanya ingin dicicipi). Dengan sumringah Ny. Oneng menerimanya dan memindahkan kiriman tetangganya ke piring, tentu saja dengan ucapan terimakasih sambil berdoa, ”Nuhun kituh nya, mudah-mudahan sing langkung ti kieu kagentosanana” .Do’a itu  – saya yakin – diucapkan  dengan tulus ikhlas.

Ketika Adzan Magrib berkumandang, tajil, sholat Magrib lalu semua anggota keluarga siap tempur makan berat. Namun Ny. Oneng kaget saat mengambil semur daging kiriman tetangganya tadi, dipandanginya daging itu dengan seksama, tentu anggota keluarga pun bertanya tanya ada apa gerangan?. Dengan heran lalu tersenyum, Ny. Oneng berguman, “ Lho ini kan daging buatan Emak yang dikirim ke ibu Ecin, Emak tahu persis karena daging ini dicirian pake tali rapia”.

Rupanya, tetangga yang mengirim tumis tadi menerima kiriman tumis dari Ny. Ecin yang dikirim oleh Ny. Oneng, dan tetangga tadi tentu saja tidak tahu kalau daging yang dikirim ke Ny. Oneng itu adalah berasal dari Ny. Oneng juga, Begitulah saking inginnya orang  waktu itu bersedekah.

   

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: