//
you're reading...
BUDAYA

WORKSHOP DALANG 2007

Santikaning Dalang

WORKSHOP DALANG WAYANG GOLEK

Matdon – Sinar Harapan Nopember 2007

 

Dunia pedalangan di Jawa Barat mengkhawatirkan, para dalang muda dinilai banyak kalangan belum mampu menguasai pakem wayang yang sesungguhnya. Kemunculan dalang muda kebanyakan lebih cenderung mengikuti pola lama, yakni berguru pada seniornya hanya dengan cara mendengar, melihat dan meniru, tanpa dibekali ilmu pedalangan secara formal.

 Dasar penilaian inilah yang kemudian membuat dalang kahot Asep Sunandar Sunarya, Dede Amung Sutarya dan Cecep Supriyadi bergabung dengan sejumlah tokoh pedalangan lainnya di Jawa barat, membuat Workshop dalang se Jawa barat 2007, dengan tajuk “Santikaning Dalang”,  yang artinya kurang lebih pembekalan ilmu pengetahuan pedalangan, yang dikuti oleh 60 dalang wayang golek dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Menurut Anang Sumarna, seorang dalang kasepuhan, meniru dan memperaktekkan memainkan wayang golek memang merupakan hal yang mudah, mulai dari tutur kata, kakawen, guyonan sampai sabetan (teknik memainkan wayang golek). Namun  tentu saja sikap seperti itu tidak dilakukan melalui telaah yang dalam, karena biasanya mereka malu untuk bertanya langsung pada sang guru, apalagi pertanyaan mendalam soal kreativitas di dunia pedalangan wayang golek hingga saat ini masih dianggap tidak etis.

 Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Naripan Bandung penggagas acara ini, serta merta mencari solusinya, agar kondisi buruk ini tidak berlarut-larut menjadi penyakit yang tidak bisa disembuhkan. “Para dalang muda wayang golek, perlu diberi kekayaan intelektual, pengetahuan mengenai pedalangan dan peeayangan agar memiliki wawasan luas mengenai perkembangan dulu dan kini, “ ujar ketua panitia Gugun Gunardi.

Santikaning dalang atau Worskhop dalang ini bertujuan untuk meningkatkan mutu serta kemampuan para dalang muda yang berkaitan dengan garapan mereka, agar mereka mampu mengikuti pekembangan dan kemajuan zaman dan teknologi, memiliki keberanian melakukan kreativitas tanpa batas.  Saat ini mungkin kita mengenal dalang wayang golek di dunia nasional maupun internasional hanya tiga orang, yakni Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriyadi dan Dede Amung Sutarya, ketiganya maju dan melesat di dunia pedalangan  karena kreativitasnya yang tinggi, bahkan nama Asep menjadi jaminan mutu bagi dalang wayang golek, apalagi setelah melakukan kreativitas yang dikolaborasikan dengan entertainment di televisi swasta.

 Workhsop yang berlangsung 1 – 3 Nopember 2007 di Gedung YPK Jl. Naripan 7 Bandung, di tempat bersejarah bagi para seniman Indonesia inilah, ketga dalang ini memberikan ilmu proses kreativitasnya, bersama pemateri lainnya seperti  pelawak Ibing Kusmayatna (juga dikenal sebagai dalang), Anang Permana (Dalang Kasepuhan), Bambang Arayana, Nano S (Karawitan) dan Godi Suwarna (aktor teater).

Menarik, dari 60 daang muda yang hadir, mereka benar benar antusisas dan penuh semangat, seperti orang yang kehausan mereka banyak meprtanyakan berbagai teknis, ilmu dan berbagai macam soal dalang dan wayang, diskusi dengan  materi cukup lengkap membuat jadwal yang seharssnya hingga pukul 22.00 menjadi hampir tengah malam.Mereka dibekali berbagai ilmu pewayanganm, wacana, awi carita, closing cerita, bagaimana melawak, komunkasi pertunjukan, hingga bahan dasar teater.

 Belum terlambat

Pada workshop dalang pertama ini, para dalang diberi pemahaman soal wayang, misalnya pemahaman bahwa wayang adalah bentuk teater rakyat popularitasnya sedang naik, padahal pada tahun 1960-an, popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah.

Fungsi wayang juga diberikan pada para dalang muda, menurut Nano S, salah satu fungsi wayang dalam masyarakat adalah ngaruat, yaitu membersihkan dari kecelakaan (marabahaya) yang dalam perkembangannya wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat dilihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.

Selain pernah digunakan untuk penyebaran Agama Islam, pertunjukan wayang biasanya dilakukan pada saat HUT kemerdekaan atau Agustusan,waktunya bisa semalam suntuk atau hanya beberapa jama saja. Isi ceritanya ada yang menganut prinsip galur (diambil secara utuh berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabrata) dan ada yang menggunakan prinsip sempalan (mengambil bagian-bagian tertentu yang biasanya menarik penonton seperti; peperangan, dan dialog humor).

Pertujukan wayang yang menggunakan prinsip galur waktunya semalam suntuk sedangkan yang sempalan biasanya hanya satu sampai dua jam saja. Apalagi apabila pertunjukannya melalui media televise yang jamtayangnya sangat terbatas mungkin hanya 45 menit saja. Dalam kondisi masyarakat yang aktifitas socialnya tinggi dan menuntut waktu serba cepat, maka pertunjukan yang singkat tapi padat ceritanya dan dialog humornya menarik akan sangat diminati dibandingkan yang menggunakan jalan cerita prinsip galur .

Bekal keilmuan tadi merupakan hal paling inti dari workshop tersebut. Menjawab petanyaan kenapa upaya ini baru dilakukan ketika para dalang muda semakin menjamur dan mereka semakin tidak tahu ilmu pedalangan?, “Ya…lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ujar Gugun. Meski demikian menurut Nano S, saat ini dunia pedalangan ada juga sisi yang cukup menggembirakan, dimana wayang golek mulai banyak digemari oleh para selebritis walaupun hanya pada sisi banyolannya saja. Seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya, masyarakat pun lebih menyukai banyolan wayang daripada alur ceritanya.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: