//
you're reading...
BUDAYA

BELAJAR GILA DARI JEIHAN

BELAJAR GILA DARI JEIHAN

 Matdon – Sinar Harapan 1 Oktober 2007

Jika anda ingin sukses dalam kegilaan, belajarlah gila dari pelukis ternama Jeihan, karena dengan kegilaannya itu Jeihan kini menjadi pelukis terkaya di Indonesia (paling tidak – demikian – pengakuannya). Jeihan Sukamantoro – adalah seniman yang pandai memaneg kegilaan, sehingga ia sangat tahu cara gila yang baik dan benar.

Setidaknya anda bisa menemukan berbagai kegilaan yang dilakukan Jeihan sejak ia masih kecil hingga saat ini, maka bacalah buku “Jeihan; Ambang Waras dan Gila“ yang ditulis Prof.Dr,.Jacob Sumardjo (Jeihan Institue; 2007).  Buku  setebal  416 halaman ini kamis lalu (27 september 2007) diluncurkan di Aula Pusat Kebudayaan Prancis Bandung.

Pelukis yang juga merupakan pelopor penulisan puisi mbling ini, lahir di kaki Gunung Merbabu Desa Ampel, sebuah tempat Pesanggrahan Sunan Surakarta. Tidak seperti anak anak lainnya, Jeihan dibesarkan oleh pembantunya Ia sendiri baru masuk sekolah pada usia 14 tahun, itupun ia masuk sekolah melukis di Himpunan Budaya Surakarta pada tahun 1952.

“Kalau tidak sekolah, besarnya mau jadi apa?“, pertanyaan itu dilontarkan temannya bernama Soedjono saat Jeihan remaja. Pertanyaan itulah yang kemudian membuat Jeihan marah karena merasa dilecehkan, bayangkan teman-teman seusianya sudah masuk SMP ia sendiri tidak sekolah. Ia ingin sekolah tapi mana mungkin masuk SD usia 14 tahun?. Jeihan kemudin belajar membaca untuk masuk sebuah SMP extenion. Disanalah kegilaan itu muncul, ia  seringe membolos dengan alasan guru-gurunya bodoh, kenakalan dan kegilannya makin subur saat masuk SMA, ia tetap menilai gurunya bodoh, karena itu ia lebih menghabiskan untuk melukis dan berteater daripada masuk sekolah.

Begitupun ketika masuk ITB tahun 1960 dimana ITB menjadi penting bagi kesenimanannya, di ITB pun ia menilai dosen dosennya terlalu romantis. “Edan  itu perlu dalam hidup, kalau mimpi saja takut, bagaimana bisa menjadi kenyataan“ ujar Jeihan soal kegilannya itu.  Kesimpulan soal bagaimana gilanya Jeihan, memang anda harus membacanya secara perlahan, untuk kemudian boleh menyimpulkan sendiri tentang arti gila dan waras.
Dalam buku ini Jacob berhsil “menjual judul“ sehingga menarik pasar, padahal sebenarnya buku ini hanyalah perjalanan sosok manusia seperti pada umumnya, namun kemudian jika Jeihan yang ditulis dengan judul „Ambang Waras dan Gila, maka buku ini menjadi lain, menarik untuk disimak. Seperti disampaikan KH.A.Musafa Bisri dalam pengantranya “Seandainya Jacob Sumardjo sama gilanya dengan tokoh Jeihan mungkin buku ini tidak wujud, atau kalaupun wujud, tidak akan segila ini“.

 Waras dan Gila?

Para pembicara yang membedah buku ini antara lain Acep ZamZam Noor, Prof. Sutardjo Wiramihardja dan Tisna Sanjaya, sama-sama mengakui kegilaan Jeihan, sifat gilanya sangat difahami oleh hampir semua seniman di Indonesia, Buku ini benar-benar  mempertaruhkan batasan-batasan gila dan waras.

Kegilaan  dimaknai sebagai ketidakmampuan psikologis untuk patuh pada disiplin dan kaidah-kaidah sosial masyarakat. Sedangkan kewarasan disyaratkan oleh kemestian bahwa ia adalah manusia sosial. Namun, ada sejenis ketidakwarasan yang muncul dan memang diniatkan untuk melawan kaidah-kaidah umum. Ia hendak keluar dari kategori kewarasan yang melulu berupa kepatuhan pada kaidah-kaidah tersebut. Ia hendak keluar dan membuat kaidah bagi dirinya sendiri.

 Jeihan adalah seniman yang menyadari kegilaan itu, sehingga ia bermukim pada sebutan dirinya sebagai seorang yang selalu melawan dalam kehidupan dengan masyarakat. Ia sendiri merasa yakin sebagai reinkarnasi dari seorang pembesar keraton Kartasura yang hidup di abad ke-18. Buku ini – sekali lagi – adalah sebuah biografi psikologis, unik dan menarik, gila dan waras, asyik dan perlu. 

Jika anda sudah membaca buku ini kemudian tidak percaya dengan kegilaan Jeihan, daanglah ke Studionya di kawasan Padasuka Bandung, maka kepada setiap tamu, Jeihan akan semangat dan serius berkata, “Sekarang saya pelukis paling kaya di Indonesia, pelukis nomor satu, saya orang hebat,“.

Gila kan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: