//
you're reading...
POLITIK

PARTAI MEMIHAK DUKUN BERTINDAK

Dimuat di PIKIRAN RAKYAT Rabu 4 Desember 2013

 

Sebentar lagi Pemilu 2014, sebuah pesta demokrasi yang dinilai “membosankan” rakyat tapi disukai para petualang politik. Mereka tak henti-hentinya mengejar jabatan demi kekuasaan, sehingga berbagai jalan pun ditempuhnya, memanfaatkan uang demi tujuan dan melupakan esensi “demi rakyat”.

Sehingga tidak sedikit diantara mereka pergi ke dukun agar lolos jadi anggota dewan baik tingkat pusat maupun daerah. Dukun memang diperlukan manusia untuk kepentingan sesuatu, entah kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya, atau kepentingan pribadi. Jangan heran jika Paranormal, Supranatural atau Dukun muncul dalam dunia politik. Ia datang memghampiri dan dihampiri untuk ikut campur mempengaruhi kebijakan  roda politik di negeri ini.

Dalam Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) saja, selain sampah visual berupa spanduk dan baliho kampanye yang membuat “sareukseuk” juga tak kalah pentingnya peranan dukun-dukun professional. Calon kepala daerah mengunjungi para dukun untuk minta nasehat dan jampi-jampi sebagai awal langkah karir politik mereka.

Dan saya tidak bisa membayangkan jika seorang Kepala daerah adalah hasil dari penerawangan dukun (meski secara kasat mata tetap melalui pencolosan Pilkada), rakyat akan dipimpin oleh kekuatan gaib; inilah kemusyrikan politik yang mengancam akidah. Ahai.. percaya pada Partai Politik pun sudah mampu merusak akidah seseorang apalagi percaya pada dukun.

Duh, jadi teringat kisah seorang calon Wakil Bupati di sebuah Kabupaten Propinsi di Jawa Barat, ia mendatangi “dukun”, dan mendoktrin si dukun agar ia dijadikan pasangan dari Calon Bupati. Tentu dengan imbalan uang si dukun itu dipaksa jika nanti ada calon bupati datang, maka dukun harus bilang bahwa dialah yang pantas jadi pasangan calon bupati tersebut. Sungguh strategi politik yang jitu!

Tak lama kemudian Calon Bupati datang, lalu dengan yakin si dukun memberi petuah bahwa dia akan menjadi bupati jika berpasangan dengan si A dari partai anu.  Menurut sang dukun  orang itu akan datang tepat ketika calon Bupati pulang dari rumah dukun.

Ketika pulang dan sampai di rumah, ternyata yang dikatakan sang dukun benar, orang itu sudah berada di rumahnya. Dan dengan dialog seadanya serta “Keyakinan Politis” orang itu menjadikan si A wakil Bupati. Hingga kini konon mereka menjadi bupati dan wakilnya. Saya tidak tahu apakah dalam perjalanan kepemimpinan mereka benar benar mulus sesuai keinginan warganya atau tidak.

Jika ini benar, maka ini sebuah fakta bahwa menggunakan jasa dukun untuk memuluskan pemilihan kepala daerah saat ini sudah bukan rahasia lagi. Paling tidak hal ini juga disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar,” “Praktik mistik dan dukun laris di Pilkada,”. Umar mengatakan hal itu pada bulan Januari 2012.

 

Dukun Dan “Dukun”

Jika dibagi dari jenisnya, maka sebenarnya dukun itu ada tiga jenis yang mempengaruhi politik di negeri ini, jenis Pertama Dukun Politik berjenis Pengamat Politik. Mereka ada di tv-tv atau koran, seperti pengamat sepakbola, mereka begitu hebat mengumbar opini, pengamatan para pengamat politik ini luar biasa, mereka bisa mengatakan “Jika si A berpasangan dengan si B maka kejadiannya akan seperti ni, nah jika si X jadi dengan si Y maka akan menjadai begitu”, keyakinan itu terus meluncur, orasi politik yang memakai logika dan seabreg teori memang. Pendapat dan pengamatan mereka inilah kemudian yang akan menjadi “dukun” bagi calon pemimpin yang merasa diuntungkan. Pengamatan politik mereka dipercayai sebagai sebuah doa dan dukungan yang akan memuluskan salahsatu calon. Inilah kemusrikan politik itu.

Kedua adalah Dukun Politik Jenis Survey dilakukan oleh lembaga tertentu (Entah survey bayaran calon atau bukan), menjadi instrumen efektif untuk melihat opini publik. Sebuah riset survei pilkada biasanya digunakan sebagai alat oleh calon pemimpin dalam memahami dukungan terhadap dirinya, dan tentu saja untuk mendengus isu-isu aktual dari lawan politiknya. Hasil survey selalu akan  menjadi bahan perumusan strategi pemenangan yang efektif dan efisien bagi calon Walikota, Gubernur bahkan Presiden. Dukun Politik jenis survey ini menjadi trend dalam beberapa tahun terakhir terutama saat memasuki Pemilukada. Para calon pemimpin akan “menyembah” hasil survey dan bahkan menjadikannya “tuhan” ketika terbukti ia menang.

Dan yang ketiga adalah “Dukun” Politik jenis Informal Leader di masyarakat. fenomena “ngalap berkah” atau meminta dukungan para tokoh ini telah terjadi sejak zaman Orde Baru (Orba), karena disadari atau tidak keberhasilan seseorang atau partai politik harus memiliki dukungan massa yang banyak dan itu berada pada tokoh berbasis massa.

Kyai sebagai tokoh masyarakat sering kali menjadi lahan sasaran empuk para politisi dalam membangun basis dukungan politik karena dianggap memiliki kemamapuan luar biasa dalam menggerakkan masyarakat.

Tokoh-tokoh informal leader atau pemimpin komunitas/organisasi keagamaan kerap diyakini para politisi dan calon pemimpin untuk memberi dukungan. Maka mereka seolah-olah adalah “dukun politik” yang selau segar dan mampu memberikan celah bagi kesuksesan politik. Suara mereka menjadi rebutan dalam pemilu bahkan tidak jarang partai politik menjadikan mereka pada jajaran pengurus partai – untuk kemudian – akhirnya ada juga yang menjadi Ketua partai politik.

Dengan memakai jasa mereka untuk ceramah dan memberi fatwa di depan jama’ahnya, diselipi ayat-ayat suci dan hadits, tentu ini merupakan bekal moral yang tak ternilai harganya bagi caleg atau calon gubernur atau calon presiden. Fatwa seorang informal leader diyakini akan mampu mengiring ummat ke bilik suara dan memilih nama yang disebut-sebut oleh mereka sebagai orang yang amanah.

Sebenarnyaa ada “dukun” politik yang kini sedang populer, yakni artis atau selebritis. Jenis dukun ini ditenggarai dapat medongkrak popularitas partai politik atau elektabilitas calon pemimpin. Bahkan dukun politik jenis artis, bisa turun sekaligus menjadi Caleg.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: