//
you're reading...
BUDAYA

BANDUNG LAUTAN JEPRUT 2003

 

Dari Bandung Performance Art Festival

BANDUNG LAUTAN JEPRUT

Matdon – Sinar Harapan 2 Januari 2003

Ada Mizuho Matsunaga, seorang mahasiswi S-2 Seni Rupa ITB asal Jepang, yang tiba-tiba menjadi kernet angkutan kota, dan menawarkan permen cokelat kepada warga yang ditemuinya di sepanjang Jalan Dago. Ada Rudi Abdallah, yang merobek telapak tangannya, lalu darahnya ia hirup dan disemburkan di sepanjang pertokoan BIP Jl. Merdeka, ada yang onani, ada yang minum bir, ada yang telanjang bulat, ada yang jualan baju, ada yang berciuman, ada yang makan nasi di perut temannya, ada perkelahian bohongan, ada yang melempari billboard lalu ditangkap polisi, diinterogasi dan dihukum membersihkan mobil.


Ada, semuanya ada di Bandung Performace Art Festival (BaPAF#2), yang berlangsung 26 – 29 September 2003, bertempat di hampir semua jalan di kota Bandung.. Tidak kurang dari 50 performer muda Bandung, menciptakan media sendiri-sendiri di ruang-ruang publik, agak anarkis tapi eksotis, rada nekad namun penuh estetika, liar bermakna, eksploitasi tubuh berlebihan tapi indah, mereka seakan ingin “bermesraaan” langsung lewat term seni kepada public.

Membuat semacam pemberontakan diri yang terkekang akibat kekuasaan museum, galeri, daan gedung-gedung pertunjukan yang selama ini seperti dikuasi segelintir seniman “tua” dan mapan.

Itulah yang mereka namakan performance art, sebuah pertunjukan seni terbuka, yang bisa dinikmati dan tidak difahami banyak orang, tanpa modal besar, tanpa skenatrio yang dipersiapkan secara utuh, tanpa sensor tentunya, dengan variable yang tak pernah habis, ide mereka edan-edan, meski masih butuh polesan ketekunan mengasah estetika yang perlu mengarah dan menajam.

Apa boleh buat, itulah seniman-seniman muda Badung yang selalu menentang komersialisasi seni, mereka mencoba mempresentasikan langsung kepada publik karya mereka, infrastruktur yang tdak tertib menjadi beraturan jika niat itu berawal dari keinginan mentertibkan pemikiran dan obsesi mereka untuk mengusung seni yang satu ini menjadi kurikulum perkulliahan pada mata kuliah seni rupa pertunjukan, seperti yang mereka impikan selama ini.

Saya ingin menengok sedikit tentang performance art, yang pada awal tahun 1970-an telah dianggap sebagai media artistik baru di kalangan seniman muda Barat, mereka membuat perlawanan artistik terhadap kemapanan konvensi fine art. Sejarah keterbukaan itu terus mengalir ke Indonesia. Di penghujung tahun 1970-an atau awal tahun 1980-an, lahir Gearakan Seni Rupa Baru (GSRB), adalah perupa asal Bandung Redha Sorana (almarhum), harus berurusan dengan polisi ketika ia membalut patung Katamsi di kampus sekolah tinggi Seni Rupa di Yogyakarta.
Redha dan kawan-kawan, membuat pemberontakan seni lewat seni, kurikulum yang mengekang, mereka hancurkan dengan – yang – kemudian disebut sebagai cikal bakal performance art. Yang hendak ditentang dalam bentuk seni yang satu ini adalah perkembangan seni rupa yang dikendalikan oleh para akademisi secara kaku dan dogmatis, jadi yang hendak mereka tinju adalah kemapanan akademis.

Gerakan it terus berkembang, bahkan inti gerakan performance art pada awal tahun 1990-an menjadi lebih padat dan melebar, performance bisa dilakukan langsung bersentuhan dengan politik lewat aksi mahasiswa, performance bisa dilakukan di pasar, kafe, diskotik, bahkan di kamar kontrakan sekalipun. Di Bandung, gerakan performance art tidak akan terlepas dari kisah jeprut, yang mengalir di gedung YPK Jl. Naripan 7-9 Bandung, saat sebuah pernikahan pejabat mencoba ‘membungkam’ pameran lukisan Nandang Gawe dan kawan-kawan.

Gerakan Kebudayaan Naripan 95 telah lahir, (sebuah pemberontakan ketika gedung kesenian bersejarah itu akan direbut oleh PD. Kertawisata), menjadi sebuah pertunjukan jeprut, kala itu ada Acep Zam-Zam Noor yang berguling guling di atas lantai penuh cat, ada Aendra H Medita yang telanjang bulat dan mandi di tengah jalan, ada Iman Soleh, Isa Perkasa, Tisna Sanjaya, Yusef Muldiyana, dan seabreg seniman Bandung lainnya.

Jeprut, sebuah istilah yang dijumput dari kosa kata bahasa Sunda, dan berkembang di kalangan seniman Bandung Lazimnya sebutan bagi seseorang/seniman dengan prilaku tak wantah di dalam suatu presentasi karya (senirupa pertunjukan). Padanan harafiahnya seperti aliran listrik yang mengalami korsleting, dalam Bahasa sunda disebut ngajeprut. Ia menjadi semacam medium ekspresi yang lepas sama sekali dari konteks atau ketentuan seni apapun.

Ada juga padanan jeprut, namanya Perengkel jahe, yang awalnya adalah semacam metoda latihan olah tubuh dan olah sukma di beberapa kelompok teater di Bandung, khususnya menjadi bagian paket acting course Studiklub Teater Bandung. Pola yang sama sebenarnya bisa ditemukan juga, misalnya pada tata cara latihan di Bengkel TeaterRendra.Adalah suatu “metoda” mencari gerakan yang paling musykil sekalipun.

Diupayakan tak terikat oleh tata-cara apapun, melainkan semata-mata mencari kemungkinan yang tak pernah tersentuh. Budi S. Otong sewaktu bersama Teater SAE mengistilahkannya dengan baik: menggali ke dalam tubuh sendiri sampai batas yang palingtidakmungkin.Gerak-gerak perengkel jahe inilah yang biasanya menjadi bagian utama Seni Jeprut.

Jeprut dan Perengkel Jahe, mencapai puncaknya di saat represi politik pun demikian memuncak di Indonesia. Seniman, sepertinya telah memendam gumpalan enerji pemberontakan yang demikian kuat, sementara saluran-saluran ekspresi(seni) yang telah lazim sepertinya telah sulit untuk dipakai untuk mengingatkan keadaan yang buruk tersebut. Suatu saat yang keadaanya seperti “ada teriakan keras” yang berhadapan dengan “tembok yang tuli dan bisu.” Pada situasi itulah jeprut dan perengkel jahe tumbuh subur, bahkanhinggasekarang.

Tentu saja tidak serta merta menjadi terma yang utuh dan mapan, apalagi karena dasarnya pun menolak kemapanan. Tapi pada perkembangan berikutnya jeprut dan perengkel jahe ini seperti memberikan inspirasi bagi gerakan seni lainnya. Senirupa pasca-jeprut, misalnya, ternyata mengalami pengayaan yang luar biasa. Lintas-objek, lintas-ekspresi, lintas-medium, lintas-subject matter, bahkan lintas-gender, kini menjadi kenyataan umum pada peta senirupa di Bandung


Menengok BaPAF#2

Sekelompok seniman muda Bandung yang tergabung dalam B+PAC (Bandung Performance Art Community), membangun kembali gerakan itu, gerakan performance art atau gerakan jeprut tea. B+PAC adalah wadah bagi pelaku jeprut, punya keinginan membangun jaringan dan berniat memasukan seni ini ke dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Meski tidak pernah memiliki founding tetap untuk kantor, tapi keinginan menggelar BaPAF#2 terlaksana juga, lewat patungan para pelaku/performer, bahkan mereka patungan untuk sekedar membeli kopi dan rokok,sementara B+PAC meminjam gedung Landrad di Jln. Perintis Kemetrdekaan untuk dijadikan base camp kegiatan. BaPAF#2 sendiri sepertinya merupakan rangkaian festival sporadic yang sejenis yang sudah ada di kota lainnya sepanjnag tahun 2003, terakhir adalah peneyelenggaraan JIPAF (Jakarta International Performance Art Festival).

Meski tanpa kehadiran seniman senior, BaPAF#2 tetap berlangsung, kenyataan atau bukan, kehadiran dan pengakuan dari seniman tua sepertinya sudah mereka abaikan, karena sejak awal disadari, para senior seniman Bandung hanya akan mempermisikan dirinya untuk sekedar nengok seni pertunjukan yang dilakukan oleh senior juga. Ah…….jangan buruk sangka, mungkin mereka sibuk atau sedang terganggu kesehatannya.

Variatif, itulah kesan yang terjadi pada BaPAF#2, ide-ide pencairan moral dan religi begitu nampak pada performance art mereka. Pemberian ruang pada gerak tubuh menjadi pertanda kegelisahan yang menggumpal, apapun yang ada di hadapan mereka menjadi media ekspresi , dengan literatur monolog, musik, video film, pertokoan yang mencibir, pantat yang menggoda, harga diri yang murah, ongkos pendidikan yang mahal, tewasnya praja STPDN Wahyu Hidayat, sampaipun pada perkosaan politik.

Sepertinya, BaPAF#2 tidak usah diakhiri dengan diskusi, apalagi diskusi itu sekedar merumuskan pemikiran tentang performance art, sebab pendalaman dalam menginterpretasikan pertunjukan performance art atau jeprut, hanya akan kuat pada pertunjukan itu sendiri, saya berpikiran agak rendah, bahwa diskusi akan mencairkan pertunjukan.

Biarkan seniman muda itu berkreasi, biarkan Bandung menjadi lautan jeprut, biarkan mereka ngajeprut, seperti negeri kita yang sedang jeprut.


Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: