//
you're reading...
CERPEN

BUKAN MENUNGGU GODOT

 Oleh Matdon

Tribun Jabar, Oktober 2012


Setelah beberapa jenak berdiri, Frans memberanikan diri mengetuk pintu rumah Lita, kekasihnya. Malam itu dengan pakaian agak rapih, Frans bermaksud melamar. Sendirian tanpa teman. Ia yakin kedatangannya merupakan niat baik, sehingga meskipun datang sendiri, akan memberi nilai kuat pada niat.

Frans dan Lita sudah tiga tahun pacaran. Pertama kali bertemu saat keduanya nonton pertunjukan teater di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Frans nonton teater tanpa sengaja karena sepeda motornya mogok tepat di depan gedung kesenian itu, sedangan Lita karena diajak temannya.

Ini bukan sinetron, pertama kali mata Frans memandang Lita penuh kekaguman, dari mata Lita memancar keindahan rembulan dan kelembutan pagi, begitu yang ada dalam imajinasinya. Sementara Lita memandang Frans sangat takjub, ia merasa lelaki itu adalah matahari bagi hatinya. Perkenalan membawa mereka pada rutinitas pacaran.

Frans, pemuda berusia 28 tahun, berwajah manis. Kerja di sebuah toko elektronik dengan gaji 750 ribu rupiah perbulan. Ia sarjana ekonomi lulusan perguruan tinggi negeri. Terpaksa bekerja sebagai pelayan toko saking susahnya mencari kerja, benar kata kawannya dulu ketika ia Wisuda, bahwa Wisuda itu akronim dari Wilujeng Susah Damel. Sedang Lita gadis berusia 24 tahun, tidak begitu cantik tapi good looking, lehernya jenjang, senyumnya bisa serasa memadamkan terik matahari dan matanya seindah mata artis Desy Ratnasari.

Virus cinta Romeo dan Juliet telah merasuk pada kedua insan itu. Tiga tahun lamanya. Pun ketika Lita mengungkapkan bahwa ia akan menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya.

“Saya akan menikah malam ini, kamu harus datang dan menculik saya, membawa lari saya, kita pergi kemana saja, asal kita bahagia”. Begitu pinta Lita pada Frans.

“Saya akan datang dan langsung melamar, sebelum lelaki pilihan orangtua kamu datang.” Janjinya.

Angin berdesir ditiupkan malaikat. Mengeringkan dua bibir mereka setelah  bersentuhan selama 3 menit.

                                          images

***

Punteenn…” suara Frans bergetar.

Mangga, tunggu sebentar,” seorang lelaki tengah tuwu – bukan ayah Lita, karena Frans tak mengenalnya- membuka pintu, ia menjelaskan Lita sedang dandan dan meminta Frans menunggu di teras rumah. Frans mengangguk lalu duduk di kursi.

Rumah Lita tepat di pinggir jalan besar, selain besar juga termasuk mewah. Ayahnya seorang pensiunan ABRI. Frans pernah datang ke rumah itu dua kali, itupun hanya di ruang tamu, ia tak tahu persis seluas apa rumah Lita. Padahal jika saja Frans mau jalan jalan ke belakang rumah itu, ia akan menemui sebuah taman seluas lapangan badminton, di sebalah kanan taman terdapat sebuah rumah asri.

Rupanya di sebelah kiri taman ada pintu masuk  dari sebuah gang besar yang bisa dilalui mobil. Kerabat dan tamu-tamu ayah Lita selalu masuk lewat gang besar itu.

Seperti malam itu, dua mobil Avanza, dan tiga mobil Mercy parkir di halaman kiri samping. Sebuah pesta pernikahan basajan digelar. Dalam hati Lita menangis, kenapa lelaki pujananya tidak datang menjemput.

Akad nikah selesai sampai jam 9 malam, tamu bubar dan Lita bersama suaminya menjalani hari-hari di rumah itu, rumah di samping kanan taman. Suaminya adalah PNS, sekarang menjadi Kabid Kebudayaan di Dinas Pariwisata.

Hari hari dilalaui pasangan suami istri ini, sejak menikah malam itu pintu utama tempat Frans menungu tidak lagi digunakan, aktivitas rumah tanggga berjalan normal. Tiap pagi Lita membuat sarapan untuk suaminya,  mengantarkannya sampai pintu. Pintu yang terletak di sebelah kiri taman dari sebuah gang besar yang bisa dilalui mobil

Dua puluh satu tahun sudah Lita dan suaminya menjalani rumah tangga, tiga anak mereka lahir sehat dan sempurna, bahkan anak pertamanya sudah kuliah di ITB. Hampir lulus. Lita menjalani kehidupan ini dengan sedih yang digembirakan, hari hari dilalui nyaris tanpa kesedihan

 

***

Berita duka datang, suami Lita tewas akibat kecelakaan lalu lintas di perbatasan kota Bekasi saat mengantar seorang jemaah haji. Tentu ia terluka. Luka lama saat ditinggal Frans sudah hampir sembuh tiba tiba harus menemui luka lainnya. Suami yang mulai ia cintai dua hari lalu kini sudah tiada.

Langit mendung, ini malam ke tujuh digelar tahlilan. Tamu yang datang sangat banyak, ikut mendoakan suaminya. Mereka masuk rumah melalui pintu samping dari arah gang, karena pintu depan tempat Frans mengetuk pintu, sudah 21 tahun tidak lai digunakan.

Upacara tahlilan selesai jam sepuluh malam, para tamu sudah pulang. Tinggal Lita sendirian, ketiga anaknya berada di kamar masing-masing. Pikirannya berkecamuk tidak jelas, membayangkan kesabaran sang suami menghadapi dirinya hingga Lita jatuh cinta juga, meskipun telat. Ya, Lita mulai jatuh cinta pada suaminya setelah 21 tahun menikah, saat ia memasuki usia 45 tahun, dua hari sebelum suaminya kecelakaan. Ia merasa berdosa telah mengabaikan kasih sayang suami.

Ah, tiba tiba ia teringat Frans, kekasih yang tak memenuhi janji menjemputnya malam itu. Tiba-tiba juga ia benci pada Frans, pertanyaan kenapa Frans tak datang malam itu kembali hinggap di benaknya. Matanya mulai gerimis, ia tak tahu lagi bentuk dan rasa yang ada di hatinya. Sedih, kecewa dan entah perasaan apa lagi.

Lita beranjak dari tempat duduk, melangkah gontai menuju kamarnya. Melewati pintu depan yang selalu terkunci, sejurus kemudian ia melirik pintu depan itu. Langkahnya beralih menuju pintu. Dibukanya pelan-pelan…

Demi rembulan yang tersembunyi di balik awan, mata Lita melihat sesosok tubuh kerempeng, wajahnya kusam, rambut putih panjang.

“Ooh..Lita, akhirnya kamu membukakan pintu untukku,” ujar lelaki itu, pelan dan terbata bata.

“Frans…kau Frans…?”. Teriak Lita.

Bandung, OKtober 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: